📑 Daftar Isi

Konsep artistik interior Mars bagian selatan yang lebih hangat dengan anomali termal

Ilmuwan Temukan Anomali Termal di Dalam Mars, Suhu Selatan Lebih Panas

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • Ilmuwan mendeteksi anomali termal di interior Mars selatan yang lebih panas 400-750°F dari utara
  • Temuan dipublikasikan di jurnal Nature oleh tim peneliti yang dipimpin Alexander Berne dari University of Arizona
  • Perbedaan suhu ini bisa menjelaskan periode hangat Mars yang mendukung kehidupan miliaran tahun lalu
  • Hipotesis meliputi dampak raksasa, konveksi mantel, dan isolasi oleh kerak dataran tinggi selatan
  • Anomali mungkin memengaruhi hidrologi Mars termasuk pembentukan cekungan yang menampung air
  • Penelitian ini menambah bukti untuk memahami struktur interior dan evolusi Mars

Telset.id – Para ilmuwan mendeteksi adanya “asimetri termal” yang tidak biasa di dalam permukaan Mars bagian selatan, di mana suhu interior belahan selatan Planet Merah diperkirakan 400 hingga 750 derajat Fahrenheit lebih panas dibandingkan belahan utaranya. Temuan ini diyakini dapat memberikan petunjuk penting tentang periode ketika Mars cukup hangat untuk mendukung kehidupan miliaran tahun lalu.

Temuan tersebut dipublikasikan dalam sebuah makalah baru di jurnal Nature. Perbedaan suhu yang tidak terduga ini menjadi fokus utama penelitian karena dapat mengungkap misteri sejarah geologis Mars, terutama terkait potensi kehidupan di masa lampau.

Permukaan kedua belahan Mars memiliki perbedaan yang sangat mencolok. Belahan selatan dipenuhi kawah dan berada beberapa mil lebih tinggi, sementara belahan utara relatif datar dan dipenuhi dataran. Perbedaan morfologi ini kini diperkuat dengan temuan baru mengenai kondisi interior planet.

Penjelasan Ilmiah di Balik Anomali Termal Mars

Penulis utama penelitian sekaligus ilmuwan planet dari University of Arizona, Alexander Berne, menjelaskan bahwa para ilmuwan biasanya mengasumsikan interior benda-benda planet berbentuk simetris secara sferis. Namun, asumsi tersebut tidak selalu benar.

“Seiring dengan semakin banyaknya data gravitasi yang kita peroleh, kita dapat menentukan kerumitan tiga dimensi dari struktur interior sebuah planet,” ujar Berne dalam sebuah pernyataan. “Inferensi ini pada gilirannya memberi kita cetak biru untuk merancang misi masa depan dan eksplorasi ilmiah dunia-dunia ini.”

Berne menambahkan bahwa memahami struktur interior benda-benda planet membantu para ilmuwan mengungkap proses yang membentuk formasi dan evolusinya. Anomali termal yang cukup besar ini bisa mengindikasikan bahwa mantel selatan Mars pernah diselimuti medan magnet yang cukup kuat untuk memicu perubahan khusus di belahan selatan.

Menurut penulis bersama sekaligus peneliti pascadoktoral Caltech, Amirhossein Bagheri, anomali ini mungkin juga telah “memengaruhi hidrologi Mars, termasuk pembentukan cekungan yang mungkin pernah menampung air.”

Artist concept of Mars's warm southern interior.

Para ilmuwan masih terus mengurai kemungkinan penjelasan atas fenomena ini. Salah satu hipotesis menyebutkan adanya dampak raksasa yang memaksa panas keluar dari belahan utara, arus konveksi acak di masa lalu, serta pegunungan masif di belahan selatan yang menjebak panas berlebih.

“Variasi suhu ini bisa mencerminkan konveksi mantel regional atau isolasi oleh kerak dataran tinggi selatan Mars yang tebal yang telah bertahan selama beberapa miliar tahun,” tulis para ilmuwan dalam makalah mereka.

Penemuan ini merupakan bagian dari teka-teki yang jauh lebih besar yang membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk diungkap. Paul Byrne, ilmuwan planet dari Washington University in St. Louis, mengungkapkan kepada Scientific American bahwa masih ada pertanyaan yang perlu dijawab.

Salah satu pertanyaan yang diajukan Byrne adalah mengapa provinsi vulkanik terbesar Mars terletak di perbatasan antara utara dan selatan, bukan di selatan yang mantelnya jauh lebih panas. Pertanyaan tentang asal-usul ini disebutnya sebagai “pertanyaan yang masih berlangsung dalam sains Mars, dan pertanyaan yang cukup fundamental.”

Nick Wagner, penulis bersama sekaligus ilmuwan planet dari Brown University, menyatakan kepada 404 Media bahwa studi ini tidak memberikan jawaban atas pertanyaan tersebut, tetapi menambahkan garis bukti lain untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi di bawah permukaan Mars.

Temuan ini menambah wawasan baru dalam upaya memahami evolusi Mars. Dengan memahami struktur interior planet, para ilmuwan berharap dapat merancang misi eksplorasi yang lebih tepat sasaran di masa depan. Informasi tentang kondisi termal Mars juga relevan untuk penelitian astrobiologi, mengingat hubungannya dengan periode hangat yang memungkinkan adanya air cair di permukaan.

Penelitian lanjutan diperlukan untuk mengonfirmasi berbagai hipotesis yang diajukan. Data gravitasi tambahan dari misi-misi yang sedang berlangsung maupun yang akan datang diharapkan dapat memberikan gambaran yang lebih lengkap tentang interior Mars.

Para peneliti menekankan bahwa pemahaman tentang interior planet membantu mengungkap proses pembentukan dan evolusi Mars secara keseluruhan, termasuk potensi keberadaan kehidupan di masa lampau. Temuan ini juga menunjukkan bahwa planet-planet tidak selalu memiliki interior yang simetris, membuka pertanyaan baru tentang bagaimana benda-benda langit terbentuk dan berevolusi.

Studi ini menjadi langkah penting dalam penelitian Mars, meskipun masih banyak misteri yang belum terpecahkan. Pertanyaan tentang mengapa terdapat perbedaan suhu yang signifikan antara kedua belahan Mars dan bagaimana hal ini memengaruhi sejarah planet akan terus menjadi bahan penelitian para ilmuwan di tahun-tahun mendatang.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.