📑 Daftar Isi

Kingchaser, pesawat jet RC 3D-printed dari The Mach Initiative yang menargetkan rekor kecepatan Mach 0.8

Kingchaser, Jet RC 3D-Printed Siap Pecahkan Rekor Mach 0.8

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • The Mach Initiative menerbangkan Kingchaser, pesawat jet RC 3D-printed 9 kg, menargetkan rekor Mach 0.8
  • Rekor Guinness saat ini dipegang Neils Herbrich dan bertahan 9 tahun
  • Kingchaser 20% lebih besar dari Kingfisher, pakai PPS-CF, carbon fiber rods, titanium
  • Kingfisher digerakkan Jetcat P60 dengan daya dorong 63 N·m dan top speed 330 km/jam
  • Belum ada pengumuman jadwal upaya pemecahan rekor

Telset.id – The Mach Initiative, tim lulusan University of Bath, resmi menerbangkan Kingchaser, pesawat jet remote-controlled (RC) 3D-printed yang menyasar rekor kecepatan dunia dengan target Mach 0.8. Penerbangan perdana ini menjadi langkah awal sebelum upaya pemecahan rekor yang saat ini dipegang pilot asal Jerman, Neils Herbrich, selama sembilan tahun.

Kingchaser bukan sekadar pesawat RC biasa. Pesawat ini merupakan hasil iterasi panjang tim The Mach Initiative yang membangun seluruh airframe menggunakan teknologi 3D printing. Dengan bobot 20 lb atau setara 9 kg, Kingchaser dirancang untuk menahan gaya ekstrem saat melaju pada kecepatan tinggi, jauh melampaui kemampuan pesawat RC konvensional.

Rekor yang ingin dipatahkan The Mach Initiative adalah rekor Guinness World Record yang sudah bertahan hampir satu dekade. Target Mach 0.8 menjadikan proyek ini salah satu upaya paling ambisius di komunitas pesawat RC berbasis jet turbine. Upaya ini juga menempatkan Kingchaser dalam daftar inovasi manufaktur aditif yang menarik perhatian, sejajar dengan proyek seperti Robot Unitree yang sama-sama menyoroti batas baru teknologi produksi.

Dari Kinglet ke Kingchaser

Perjalanan The Mach Initiative dimulai dari prototipe mini bernama Kinglet. Pesawat pertama ini dibuat dari PETG, PET-CF, dan sebagian PLA, namun belum menggunakan jet turbine. Sebagai gantinya, Kinglet memakai EDF (Electric Ducted Fan) sebagai cara aman dan murah untuk melakukan iterasi desain. Pendekatan modular Kinglet memungkinkan tim membuat prototipe per bagian dan mengganti komponen yang rusak tanpa harus membangun ulang seluruh badan pesawat.

Setelah performa Kinglet dianggap memuaskan, tim beralih ke Kingfisher, pesawat dengan panjang sedikit di bawah satu meter. Kingfisher digerakkan oleh Jetcat P60, mesin jet turbine mini yang mampu menghasilkan daya dorong 63 N·m dan mencapai kecepatan puncak 205 mph atau sekitar 330 km/jam. The Mach Initiative menegaskan mesin ini tidak cukup kuat dan memang tidak ditujukan untuk memecahkan rekor, melainkan hanya untuk membuktikan kemampuan terbang dengan mesin jet.

Perubahan desain besar diperlukan dari Kinglet ke Kingfisher karena ukuran yang lebih besar dan gaya yang jauh lebih tinggi. Kingfisher tetap menggunakan PETG sebagai material utama, dengan housing mesin berbahan annealed PET-CF. Mesin ditahan oleh perangkat keras aluminium, sementara bagian lain pesawat diperkuat rangka aluminium.

Meski demikian, para engineer awalnya berniat menjadikan Kingfisher MK2 sebagai pesawat yang akan membawa mesin jet 150Nm untuk memecahkan rekor, dengan upaya menembus 614 mph atau 988 km/jam dan meninggalkan drone listrik tercepat dunia (434 mph) jauh di belakang. Namun, rencana itu berubah. Tim memutuskan membuat pesawat baru yang 20% lebih besar dari Kingfisher dan menamainya Kingchaser, dengan perubahan desain yang signifikan.

Material dan Sistem Avionik Kingchaser

Kingchaser tetap menggunakan PETG untuk konstruksi eksteriornya. Namun, alih-alih annealed PET-CF untuk housing mesin, tim beralih ke PPS-CF karena proses annealing pada housing yang lebih besar menyebabkan warping, kemungkinan akibat pemanasan yang tidak merata. PPS-CF juga dilapisi beberapa lapis carbon fiber, lalu diperkuat aluminium dan baja untuk memasang mesin. Tim menambahkan titanium exhaust sheets dan aluminium tape untuk melindungi hasil cetakan dari panas mesin.

Rangka aluminium yang sebelumnya membentang di dalam bodi PETG digantikan carbon fiber rods untuk menghemat bobot dan mengurangi kebutuhan komponen hasil CNC custom. Perubahan material ini menunjukkan pendekatan rekayasa yang terus dievaluasi berdasarkan hasil pengujian nyata, sejalan dengan tren inovasi material yang juga muncul di proyek seperti AMD Akuisisi World Labs.

Untuk sisi elektronik, The Mach Initiative memiliki anggota khusus yang menangani flight control dan avionik. Kingchaser dilengkapi sistem avionik terinstrumentasi penuh untuk mengumpulkan telemetri sebanyak mungkin dari pesawat. Pesawat ini juga dibekali sistem FPV agar piloting pada kecepatan tinggi lebih terkendali. Untuk menggerakkan elevon, digunakan servo high-torque berkapasitas 70 kg-cm atau setara 5,06 ft-lbs, karena dibutuhkan tenaga besar untuk menggerakkan flap pada kecepatan tinggi.

Flying the WORLDS FIRST 3D-printed Jet Turbine RC Aircraft! Kingfisher Mk2 Takes to the Skies - YouTube

Penerbangan perdana Kingfisher sendiri telah diunggah tim ke YouTube melalui video berjudul “Flying the WORLDS FIRST 3D-printed Jet Turbine RC Aircraft! Kingfisher Mk2 Takes to the Skies”. Unggahan ini memperlihatkan momen ketika pesawat jet turbine RC hasil 3D printing pertama di dunia itu mengudara. The Mach Initiative juga aktif membagikan build log mereka di kanal YouTube sebagai dokumentasi proses pengembangan.

Hingga kini, belum ada pengumuman resmi mengenai kapan upaya pemecahan rekor akan dilakukan. Yang jelas, The Mach Initiative telah melewati tahap pembuktian konsep dan kini berada di fase penyempurnaan pesawat yang akan dipakai untuk mengejar target Mach 0.8.

Proyek Kingchaser memperlihatkan bagaimana 3D printing tidak lagi terbatas pada prototipe ringan, tetapi mulai dipakai untuk komponen yang harus bertahan pada suhu dan tekanan ekstrem. Kombinasi PETG, PPS-CF, carbon fiber rods, titanium, serta perangkat keras aluminium dan baja menjadi contoh nyata rekayasa material yang diperhitungkan dalam aplikasi berperforma tinggi. Perkembangan ini relevan bagi pengamat industri manufaktur aditif yang memantau bagaimana teknologi cetak 3D bergerak dari sekadar hobi menuju aplikasi teknik serius, serupa dengan perhatian publik pada ajang kompetisi teknologi seperti WorldSkills Competition 2026.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.