Telset.id – Krisis komponen global yang dipicu oleh permintaan AI membuat biaya semikonduktor melonjak, dan untuk pertama kalinya, chip pemroses pada TV berukuran kecil menjadi komponen yang paling mahal—mengalahkan harga panelnya sendiri. Kondisi ini diprediksi berlangsung hingga 2027 dan berpotensi mengubah lanskap harga serta spesifikasi TV di pasar.
Menurut laporan firma riset pasar Omdia yang dikutip DigiTimes, kenaikan biaya semikonduktor tahun ini telah mengubah struktur biaya produksi TV secara signifikan. Pada kuartal kedua 2025, papan pemroses hanya menyumbang sedikit di atas 10% dari total biaya. Namun pada kuartal ketiga 2026, porsi tersebut melonjak menjadi 45% hingga 50% dari keseluruhan biaya produksi.
Dampak paling awal terasa pada segmen pasar kelas bawah, seperti TV LCD 32 inci dan model Full HD di kisaran 40 inci ke bawah. Sementara itu, TV OLED premium untuk saat ini relatif belum terdampak sebesar model entry-level, meski kekhawatiran akan merambat ke segmen atas tetap membayangi industri.

Lonjakan Harga DRAM, NAND, dan Modul Wi-Fi
Kenaikan biaya tidak terjadi dalam hitungan sen. Data Omdia menunjukkan harga DRAM dasar menyentuh $25 pada Agustus tahun ini, atau 4,4 kali lipat dibanding harga setahun sebelumnya. Sementara itu, memori NAND flash naik hingga $30,50, yang berarti hampir sembilan kali lipat dari harga tahun lalu.
Yang tak kalah mengejutkan, harga modul Wi-Fi melesat dari $33,90 pada 2025 menjadi $118,20 saat ini. Angka tersebut membuat chip Wi-Fi menjadi lebih mahal dibanding panel 4K 55 inci terendah yang dihargai $116, dan mendekati rata-rata harga panel 4K sebesar $123.
Krisis komponen ini diperkirakan terus berlanjut hingga 2027 dan setelahnya, menekan profitabilitas produsen di pasar yang memang sudah dikenal memiliki margin keuntungan relatif rendah. Kondisi ini menyerupai situasi yang lebih dulu terjadi di pasar smartphone, di mana kenaikan harga komponen berujung pada harga jual lebih tinggi dengan spesifikasi yang lebih rendah.
Baca Juga:
Permintaan yang digerakkan oleh AI disebut sebagai penyebab utama kelangkaan pasokan memori dan prosesor global. Semikonduktor yang sebelumnya dialokasikan untuk perangkat konsumen kini bersaing ketat dengan kebutuhan pusat data dan infrastruktur AI yang terus tumbuh.

Tekanan biaya ini juga menyentuh perangkat lain di ekosistem rumah, termasuk perangkat streaming. Sebelumnya, Roku mengumumkan kenaikan harga hingga 60% dan menyebut kelangkaan memori sebagai penyebab utamanya. Fenomena serupa juga terlihat pada kenaikan harga perangkat Nvidia Shield Pro sebesar 50% setelah dihentikannya varian standar.
Bagi konsumen, konsekuensi paling nyata adalah kemungkinan harga TV yang lebih tinggi dengan spesifikasi yang lebih rendah. Produsen dinilai tidak mungkin terus menyerap kenaikan biaya yang tak terkendali, sehingga strategi menaikkan harga sambil menurunkan spesifikasi menjadi jalan yang paling mungkin diambil.
Ancaman kenaikan harga juga mulai terlihat di segmen TV layar besar. Laporan menyebutkan TV LCD layar besar berpotensi bermasalah menjelang periode diskon Black Friday karena harga panel yang terus naik. Sementara itu, TV OLED seperti LG C6 juga disorot sebagai produk yang harganya bisa ikut terdongkrak akibat krisis RAM.

Di sisi lain, pasar PC juga merasakan dampak yang sama. Kelangkaan memori dan kenaikan harga membuat pengiriman PC global turun untuk pertama kalinya dalam dua tahun. Analis bahkan memperkirakan krisis RAM bisa memburuk pada 2027, dengan AI tetap menjadi penyebab utamanya.
Untuk pasar Indonesia, kondisi ini menjadi sinyal penting bagi konsumen yang berencana membeli TV baru. Dengan biaya komponen yang terus melonjak, periode sebelum kenaikan harga menyeluruh bisa menjadi momen terbaik untuk mengamankan perangkat dengan harga saat ini.
Krisis ini juga menyoroti betapa terhubungnya rantai pasok teknologi global. Ketika satu sektor seperti AI menyerap pasokan semikonduktor dalam jumlah besar, efeknya merambat ke perangkat yang tampak tak berkaitan, termasuk TV, perangkat streaming, hingga komputer pribadi.
Hingga kini, belum ada indikasi bahwa lonjakan biaya komponen akan mereda dalam waktu dekat. Omdia memproyeksikan tekanan ini berlanjut hingga 2027 dan seterusnya, yang berarti konsumen perlu bersiap menghadapi lanskap harga perangkat elektronik yang berbeda dari beberapa tahun terakhir.
[IMAGE_1_ALT]
LG 32LQ6300 with rocky landscape on screen
[IMAGE_2_ALT]
RAM sticks stacked on top of each other
[IMAGE_3_ALT]
The LG C6 OLED TV with a shot of a sunrise over a lake on screen





Komentar
Belum ada komentar.