Telset.id – NASA mengonfirmasi bahwa sebuah meteor bola api meledak di langit kawasan New England, Amerika Serikat, pada Sabtu (30 Mei 2026), melepaskan energi setara dengan sekitar 230 ton TNT. Ledakan tersebut menghasilkan dentuman sonik yang terdengar hingga beberapa negara bagian AS dan dua provinsi di Kanada.
Meteor yang tergolong relatif kecil, dengan diameter sekitar 1,6 meter, mengalami gesekan luar biasa saat meluncur melintasi atmosfer dengan kecepatan sekitar 67.000 kilometer per jam. Menurut NASA, meteor tersebut menembus batas kecepatan suara saat terpecah pada ketinggian sekitar 50 km di atas Bumi dan menjatuhkan puing-puing ke wilayah Cape Cod.
Dampak Ledakan Meteor
Tidak ada laporan korban luka maupun kerusakan properti terkait bola api tersebut. Namun, menurut laporan Guardian, saksi mata di beberapa negara bagian wilayah timur laut mendengar bunyi ledakan keras dan merasakan guncangan pada bangunan saat meteor meledak. Kejadian ini mengingatkan pada fenomena serupa yang pernah terjadi di belahan dunia lain, seperti Ledakan Kosmik Mini yang diciptakan di laboratorium China dengan kecepatan 1.118 mps.
NASA memperkirakan massa meteor tersebut sekitar 5,6 metrik ton sebelum hancur berkeping-keping. Meteor berukuran sekecil itu sangat sulit dilacak saat di luar angkasa. Meski demikian, meteor jenis ini juga sangat tidak mungkin bertahan menghadapi panas dan tekanan intens saat menembus atmosfer, sehingga tak menimbulkan risiko kerusakan serius bagi kawasan perkotaan.
Dikutip detikINET dari Live Science, ancaman jauh lebih berbahaya datang dari asteroid-asteroid besar di dekat Bumi yang berukuran lebih dari 140 meter diameternya. Sering dijuluki “pembunuh kota”, batuan luar angkasa raksasa ini berpotensi bertahan di atmosfer dan menyebabkan kerusakan masif jika jatuh di daerah padat penduduk.
Baca Juga:
Pemantauan Asteroid oleh NASA
Untungnya, asteroid raksasa semacam ini jauh lebih mudah dilacak dibanding asteroid kecil. NASA terus memantau lebih dari 40.000 asteroid besar di sekitar Bumi setiap saat. Diperkirakan masih ada beberapa ribu asteroid lagi belum ditemukan, namun wahana pelacak asteroid generasi berikutnya telah dipersiapkan untuk menutup celah pantauan ini dalam satu dekade mendatang.
Bola api yang melintas pada hari Sabtu lalu hanyalah satu dari sekian banyak kejadian serupa yang terpantau beberapa bulan terakhir. Pada 25 Mei, sejumlah kamera berhasil merekam bola api berwarna hijau yang menyilaukan meluncur deras di langit tepat di latar belakang Gunung Mayon yang sedang meletus di Filipina.
Sebelumnya pada 21 Maret, bongkahan meteor seukuran peluru meriam menembus atap rumah sebuah keluarga di Texas, menyebabkan kerusakan properti namun tidak menimbulkan korban luka. Berselang beberapa hari sebelum insiden tersebut, bola api selebar 1,8 meter meledak di atas wilayah Ohio, memicu dentuman sonik sangat kuat.
Fenomena meteor ini menunjukkan betapa aktifnya aktivitas benda langit di sekitar Bumi. Meskipun sebagian besar tidak berbahaya, pemantauan terus dilakukan untuk mengantisipasi potensi ancaman yang lebih besar. Kejadian ini juga menjadi pengingat akan pentingnya riset dan pengembangan teknologi deteksi asteroid, seperti yang dilakukan oleh berbagai lembaga antariksa dunia.





Komentar
Belum ada komentar.