📑 Daftar Isi

Pesawat Orion misi Artemis II mengirim video definisi tinggi dari Bulan menggunakan sistem komunikasi laser O2O

Misi Artemis II Gunakan Laser, Kirim Video 4K dari Bulan

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • Misi Artemis II berhasil mengirim video definisi tinggi dari Bulan menggunakan sistem komunikasi laser O2O
  • Sistem dikembangkan MIT Lincoln Laboratory bersama NASA Goddard Space Flight Center
  • Kecepatan transmisi mencapai 260 megabit per detik, setara koneksi internet rumahan
  • Teknologi laser inframerah mampu mengirim data 10-100 kali lebih cepat dari radio frekuensi
  • Berhasil menurunkan hampir setengah terabyte data berisi pemandangan sisi jauh Bulan
  • Rekaman mencakup kawah Bulan, Bumi terbenam, gerhana matahari total, dan meteoroid
  • Sistem menggantikan komunikasi radio frekuensi yang dipakai sejak misi Apollo era 1960-70an
  • Farzana Khatri dari Lincoln Lab memimpin pengembangan sistem sebagai lead systems engineer

Telset.id – Misi Artemis II yang diluncurkan pada April lalu membawa perubahan besar dalam komunikasi antariksa. Pesawat Orion berhasil mengirimkan video definisi tinggi dari Bulan menggunakan sistem komunikasi laser, menggantikan sistem radio frekuensi yang dipakai sejak misi Apollo. Teknologi ini memungkinkan transmisi data 10 hingga 100 kali lebih cepat dibandingkan gelombang radio.

Sistem bernama Orion Artemis II Optical Communications System (O2O) ini dikembangkan oleh MIT Lincoln Laboratory bersama NASA Goddard Space Flight Center. Dengan memanfaatkan sinar inframerah, O2O berhasil menurunkan hampir setengah terabyte data dengan kecepatan hingga 260 megabit per detik. Kecepatan ini setara dengan koneksi internet rumahan yang dinikmati pengguna di Bumi.

Data yang dikirimkan mencakup pemandangan cekungan dan kawah di sisi jauh Bulan yang belum pernah terlihat sebelumnya. Rekaman tersebut juga menangkap momen Bumi berbentuk sabit yang terbenam di belakang Bulan, gerhana matahari total selama hampir satu jam, serta kilatan cahaya dari meteoroid kecil yang menghantam permukaan Bulan.

“Tujuan kami adalah menunjukkan kegunaan operasional O2O untuk penerbangan antariksa manusia, memperluas koneksi bandwidth tinggi yang dinikmati pengguna internet di Bumi kepada astronot di luar angkasa,” ujar Farzana Khatri, lead systems engineer O2O sekaligus staf senior di Optical and Quantum Communications Group Lincoln Lab.

Khatri, yang meraih gelar sarjana pada 1990, magister pada 1992, dan doktor pada 1996 dari MIT, mengaku bangga terlibat dalam misi bersejarah ini. “Berpartisipasi dalam misi bersejarah ini dan menjadikan O2O berguna—saya tidak bisa meminta hal yang lebih menakjubkan lagi dalam karier saya,” katanya.

Baca Juga:

Perbandingan dengan Sistem Komunikasi Lama

Pada misi Apollo di era 1960-an dan 1970-an, astronot mengandalkan sistem radio frekuensi untuk berkomunikasi dengan Bumi. Konsekuensinya, gambar dan video yang dikirim memiliki kualitas rendah dan tampak buram. Keterbatasan bandwidth radio membuat transmisi data beresolusi tinggi hampir mustahil dilakukan.

Kehadiran O2O mengubah paradigma tersebut secara fundamental. Teknologi laser inframerah mampu membawa lebih banyak data per detik dibandingkan gelombang radio, membuka peluang pengiriman konten visual berkualitas sinematik dari kedalaman antariksa. Video jernih yang dinikmati banyak orang selama siaran langsung Artemis II menjadi bukti nyata kapabilitas sistem ini.

Pencapaian ini menjadi tonggak penting bagi masa depan eksplorasi antariksa berawak. Kemampuan mengirim data dalam jumlah besar secara real-time akan mendukung berbagai kebutuhan misi, mulai dari navigasi, pemantauan kondisi pesawat, hingga komunikasi visual antara astronot dan pusat kendali misi di Bumi.

Dampak bagi Misi Luar Angkasa Masa Depan

Keberhasilan demonstrasi O2O pada Artemis II membuktikan bahwa koneksi internet berkecepatan tinggi dapat dihadirkan di luar angkasa. Hal ini sejalan dengan pernyataan Khatri bahwa tujuan utama sistem ini adalah memperluas koneksi bandwidth tinggi yang dinikmati pengguna internet di Bumi kepada astronot di deep space.

Data sebesar hampir setengah terabyte yang berhasil ditransmisikan membuka wawasan baru tentang Bulan, khususnya sisi jauh yang jarang terdokumentasi dengan baik. Rekaman kawah dan cekungan di sisi tersebut memberikan material berharga bagi para ilmuwan untuk mempelajari sejarah geologi satelit alami Bumi.

Selain itu, dokumentasi gerhana matahari total selama hampir satu jam dari perspektif Bulan merupakan pencapaian observasional yang belum pernah ada sebelumnya. Ini menunjukkan bahwa O2O tidak hanya berfungsi sebagai saluran komunikasi, tetapi juga instrumen sains yang memperkaya pemahaman manusia tentang tata surya.

Keberhasilan ini juga menjadi landasan bagi misi-misi Artemis berikutnya. Dengan infrastruktur komunikasi optik yang terbukti andal, NASA dapat merencanakan eksplorasi yang lebih ambisius dengan dukungan data yang memadai. Kolaborasi antara MIT Lincoln Laboratory dan NASA Goddard Space Flight Center menjadi model kerja sama riset yang produktif dalam pengembangan teknologi antariksa.

Misi Artemis II sendiri merupakan bagian dari program Artemis yang bertujuan mengembalikan manusia ke Bulan secara berkelanjutan. Keberhasilan uji coba O2O menjadi salah satu pencapaian teknis penting yang memperkuat kesiapan program tersebut untuk misi berawak jangka panjang.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.