Telset.id – NASA resmi menggandeng Relativity Space, perusahaan antariksa yang kini dipimpin mantan CEO Google Eric Schmidt, untuk misi pengorbit Mars bernama Aeolus. Misi ini menargetkan peluncuran pada tahun 2028 dan akan membawa empat instrumen sains untuk mempelajari atmosfer Planet Merah secara lebih mendalam.
Kemitraan ini mengikuti pola kerja sama NASA dengan perusahaan swasta lainnya seperti SpaceX. Dalam misi Aeolus, Relativity Space akan bertanggung jawab penuh menyediakan wahana antariksa, roket, dan operasi pelayaran untuk mengirimkan instrumen sains milik badan antariksa AS tersebut ke Mars.
“Aeolus akan membangun semua misi sebelumnya yang telah mempelajari atmosfer Mars, termasuk Mars Reconnaissance Orbiter, Mars Odyssey, dan misi MAVEN, yang baru saja dinyatakan mati setelah enam bulan tanpa kontak,” demikian pernyataan resmi NASA.
Empat instrumen sains yang akan dibawa misi ini dirancang untuk “memberikan pandangan global terintegrasi harian pertama tentang angin, suhu, debu, dan awan di Mars.” Instrumen-instrumen tersebut meliputi:
- Doppler Wind and Temperature Sounder (DWTS-Ozone) – mengukur profil angin dan suhu
- Thermal Limb Sounder (TLS) – menyediakan profil suhu vertikal serta pengamatan debu dan awan es-air
- Surface Radiometric Sensor Package (SuRSeP) – mengukur keseimbangan energi permukaan, sifat debu dan awan
- Wide-Field Context Camera (WFCC) – menangkap gambar global aktivitas atmosfer setiap hari
Seluruh instrumen akan dirancang dan dibangun oleh para ilmuwan di NASA’s Ames Research Center di Silicon Valley, California. Dengan mempelajari lebih banyak tentang debu, angin, suhu, dan perilaku atmosfer musiman Mars, NASA berharap dapat mengurangi risiko untuk pendaratan di masa depan, baik berawak maupun tanpa awak.
Baca Juga:
Misi Uji Coba untuk Program Antarplanet
Aeolus akan berfungsi sebagai bukti konsep untuk misi-misi mendatang dalam Interplanetary Sciences Program milik Relativity Space. Saat ini, perusahaan tersebut belum memberikan rincian teknis tentang wahana antariksa dan roket yang akan digunakan untuk misi ini. Relativity Space juga belum membuktikan kemampuannya dalam menjalankan misi besar seperti ini.
Eric Schmidt mengakuisisi Relativity Space pada Maret 2025. Beberapa bulan kemudian, ia mengonfirmasi kepada Ars Technica bahwa ia mengambil saham pengendali di perusahaan tersebut dengan tujuan menempatkan pusat data di orbit. Langkah ini menunjukkan ambisi Schmidt yang tidak hanya berfokus pada eksplorasi Mars, tetapi juga infrastruktur komputasi luar angkasa.
Data yang dikumpulkan oleh misi Aeolus dapat digunakan oleh NASA dan perusahaan antariksa swasta lainnya untuk menyempurnakan sistem entry, descent, dan landing (EDL) wahana masa depan. Hal ini menjadi krusial mengingat tantangan atmosfer Mars yang tipis namun tidak dapat diprediksi.
Dalam konteks persaingan industri antariksa, kolaborasi ini menarik untuk dicermati. Pasalnya, Relativity Space harus bersaing dengan pemain mapan seperti SpaceX. Sementara itu, NASA juga tengah mengembangkan proyek-proyek ambisius lain, termasuk baju dalam canggih untuk misi Bulan yang dirancang bersama Prada.
Misi Aeolus dijadwalkan meluncur pada 2028, namun tantangan teknis dan jadwal bisa berubah. Pengalaman New Glenn yang meledak menjadi pengingat bahwa target terbang tidak selalu mulus. Keberhasilan misi ini akan menjadi tolok ukur kredibilitas Relativity Space di bawah kepemimpinan Schmidt.





Komentar
Belum ada komentar.