Kawah baru di permukaan Bulan yang disebabkan oleh jatuhnya roket SpaceX Falcon 9, ditangkap oleh Lunar Reconnaissance Orbiter NASA

NASA Rilis Foto Kawah Bulan Akibat Tabrakan Falcon 9 SpaceX

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • NASA merilis citra kawah baru di Bulan dari Lunar Reconnaissance Orbiter (LRO)
  • Kawah disebabkan oleh jatuhnya roket SpaceX Falcon 9 pada 5 Agustus
  • Foto diambil 11-12 Agustus dengan Narrow-Angle Camera dari ketinggian 60 mil
  • Roket berasal dari misi Blue Ghost 15 Januari 2025, panjang 39 kaki, bobot 4.000 kg
  • Tabrakan terjadi dengan kecepatan 5.400 mph, menciptakan kawah 60x12 kaki
  • Astronom Bill Grey telah memprediksi peristiwa ini sejak April
  • NASA menunggu enam hari untuk menyelaraskan posisi LRO dengan lokasi jatuh

Telset.id – NASA merilis citra terbaru dari Lunar Reconnaissance Orbiter (LRO) yang memperlihatkan kawah baru di permukaan Bulan. Kawah tersebut merupakan bekas lokasi jatuhnya roket SpaceX Falcon 9 pada 5 Agustus lalu, sekaligus mengonfirmasi dampak nyata dari sampah antariksa yang menabrak satelit alami Bumi.

Foto-foto yang diambil pada 11-12 Agustus ini menunjukkan bekas tabrakan dengan detail yang belum pernah terlihat sebelumnya. Tim insinyur NASA harus memiringkan wahana LRO ke samping agar kamera mengarah ke bawah saat melintas di ketinggian 60 mil di atas kawah tersebut. Mereka menggunakan Narrow-Angle Camera milik LRO yang mampu mendeteksi objek sekecil tiga kaki di permukaan Bulan.

Proses pemotretan ini bukan perkara mudah. LRO terbang dari kutub ke kutub setiap dua jam dengan kecepatan 1 mil per detik, sementara Bulan berotasi pada porosnya. NASA harus menunggu hingga posisi LRO dan lokasi jatuhnya roket sejajar, sebuah proses yang memakan waktu enam hari. Hasilnya, badan antariksa tersebut berhasil mendapatkan gambar kawah dari berbagai sudut.

Dari citra yang dirilis, terlihat garis gelap yang memancar keluar dari kawah. Material tersebut berasal dari lapisan tua di dekat permukaan Bulan—debu dan batuan yang warna serta komposisinya telah berubah akibat paparan angin surya dan sinar kosmik selama bertahun-tahun. Sementara itu, material lebih terang di sekitar tepi kawah berasal dari lapisan yang lebih dalam.

Menariknya, peristiwa ini sebenarnya sudah diprediksi sejak April. Astronom independen Bill Grey pertama kali menarik perhatian publik terhadap roket yang berada di jalur tabrakan dengan Bulan. Ia menggunakan perangkat lunak komputasi orbit untuk menentukan lokasi dan waktu jatuhnya roket tersebut. Grey bersama koleganya juga memakai simulator fisika untuk menganalisis data, dan mereka memperkirakan bahwa roket tersebut tidak akan menimbulkan dampak yang terlalu besar.

Baca Juga:

Roket yang jatuh ini memiliki panjang 39 kaki dan lebar 13 kaki, dengan bobot sekitar 4.000 kilogram. Saat menghantam Bulan, kecepatannya mencapai 5.400 mph. Berdasarkan perhitungan NASA, tabrakan tersebut menciptakan kawah selebar 60 kaki dan sedalam 12 kaki.

Falcon 9 yang terlibat dalam insiden ini berasal dari misi Blue Ghost pada 15 Januari 2025, yang membawa dua pendarat bulan ke orbit. Roket tersebut menggunakan hampir seluruh bahan bakarnya untuk membawa pendarat ke orbit yang dituju, sehingga tidak mampu kembali ke Bumi. Gravitasi dan aktivitas matahari akhirnya membawa roket tersebut menuju Bulan.

Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa sampah antariksa dapat menimbulkan konsekuensi nyata, bahkan di luar orbit Bumi. NASA sendiri terus mengembangkan berbagai teknologi antariksa untuk mendukung eksplorasi Bulan, termasuk misi deteksi asteroid yang dapat mengancam Bumi.

Meskipun dampak tabrakan ini relatif kecil, kejadian ini menyoroti pentingnya pengelolaan sampah antariksa yang lebih baik. Dengan semakin banyaknya misi ke Bulan, risiko tabrakan serupa diperkirakan akan meningkat di masa mendatang. NASA terus memantau kondisi permukaan Bulan melalui LRO untuk memahami perubahan yang terjadi akibat aktivitas manusia di luar angkasa.

Bagi para pengamat antariksa, citra yang dirilis NASA ini menjadi bukti dokumentasi yang berharga. Ini adalah salah satu dari sedikit kesempatan di mana dampak tabrakan roket di Bulan dapat diamati secara langsung dengan resolusi tinggi. Ke depannya, data dari LRO akan terus digunakan untuk mempelajari geologi Bulan dan efek dari aktivitas manusia di lingkungan luar angkasa.

NASA juga telah merilis foto sebelum dan sesudah yang dapat dilihat di situs resmi mereka. Perbandingan tersebut menunjukkan perubahan permukaan Bulan secara dramatis, dari kondisi mulus menjadi berlubang akibat hantaman roket tersebut.

Peristiwa jatuhnya Falcon 9 ini juga menjadi bahan kajian bagi para ilmuwan untuk memahami bagaimana objek buatan manusia berinteraksi dengan permukaan Bulan. Setiap misi baru ke Bulan membawa risiko serupa, dan data dari insiden ini akan membantu perencanaan misi di masa depan agar lebih aman.

Sementara itu, aktivitas eksplorasi Bulan terus berlanjut. Berbagai badan antariksa dan perusahaan swasta sedang menyiapkan misi baru ke satelit alami Bumi ini. Pengalaman dari insiden Falcon 9 ini diharapkan menjadi pelajaran berharga bagi seluruh pihak yang terlibat dalam eksplorasi luar angkasa.

[IMAGE]
Crater on the lunar surface

Citra kawah di permukaan Bulan yang ditangkap oleh Lunar Reconnaissance Orbiter NASA menunjukkan bekas tabrakan roket SpaceX Falcon 9. Material gelap yang memancar keluar berasal dari lapisan tua permukaan Bulan, sementara material terang di tepi kawah berasal dari lapisan yang lebih dalam.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.