📑 Daftar Isi

Ilustrasi robot patroli otonom Knightscope K5 bernama DubBot berwarna putih tinggi di area parkir

Polisi Pensiunkan Robot Patroli DubBot Gagal Total

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • Robot patroli DubBot dipensiunkan setelah satu tahun tanpa penangkapan atau tilang
  • Biaya operasional USD 67.548 dengan hasil nihil
  • Robot K5 Knightscope gagal mendeteksi insiden kriminal
  • Kasus serupa terjadi di New York dan San Antonio
  • Pelajaran berharga bagi adopsi teknologi keamanan otonom

Telset.id – Departemen Kepolisian Dublin, Ohio, Amerika Serikat, resmi memensiunkan robot patroli otonom bernama DubBot setelah satu tahun bertugas tanpa menghasilkan satu pun penangkapan atau tilang. Robot keamanan buatan Knightscope ini ditarik karena dinilai tidak memenuhi kebutuhan operasional, demikian pernyataan juru bicara kepolisian setempat kepada The Columbus Dispatch.

DubBot, yang dioperasikan sejak Juli 2025, adalah robot keamanan otonom model K5 yang dirancang untuk memantau area publik. Dengan tinggi sedikit di atas 1,5 meter dan bobot sekitar 181 kilogram, robot ini tidak memiliki lengan dan bergerak menggunakan dua roda. Penampilannya yang menyerupai kerucut lalu lintas raksasa sering dibandingkan dengan Dalek dari serial Doctor Who.

Meskipun dibanderol dengan harga USD 67.548 atau setara gaji tahunan polisi rata-rata, DubBot hanya bertugas memantau area parkir. Selama masa tugasnya, robot tersebut tidak pernah mendeteksi insiden yang memerlukan respons polisi manusia, tidak menghasilkan satu pun kasus kriminal, dan tidak mengeluarkan satu lembar tilang pun.

Biaya Besar, Hasil Nihil

Kota Dublin awalnya berencana menggelontorkan dana hingga USD 238.440 untuk menyewa dua unit robot K5 selama dua tahun. Namun, rencana tersebut batal setelah DubBot gagal menunjukkan kinerja yang diharapkan. Ironisnya, kepolisian setempat telah mengeluarkan USD 128.080 untuk satu unit robot, meskipun kemudian menerima pengembalian dana USD 60.533 dari Knightscope.

Kegagalan DubBot bukanlah kasus pertama. Robot K5 Knightscope sebelumnya juga menuai kritik di berbagai kota. Mantan Wali Kota New York, Eric Adams, menandatangani kontrak penempatan robot serupa di sistem kereta bawah tanah kota pada 2023. Namun, robot-robot tersebut dipensiunkan beberapa bulan kemudian setelah terbukti tidak berguna dan membutuhkan pengawalan polisi manusia secara konstan.

Baca Juga:

Kegagalan serupa juga terjadi di Bandara Internasional San Antonio bulan lalu. Robot Knightscope yang bertugas di sana dihentikan operasinya karena masalah teknis yang parah, termasuk ketidakmampuan bergerak lurus dan menyediakan feed video serta audio langsung yang berfungsi bagi staf bandara.

Robot Patroli vs Harapan Publik

Fenomena DubBot menunjukkan kesenjangan antara harapan publik terhadap teknologi keamanan otonom dengan realitas di lapangan. Robot K5 Knightscope dilengkapi kamera video 360 derajat dan tombol panggilan darurat, namun dalam praktiknya gagal memberikan kontribusi berarti bagi keamanan masyarakat.

Kasus ini mengingatkan pada berbagai proyek teknologi publik lainnya yang gagal memenuhi ekspektasi. Di Indonesia sendiri, penerapan teknologi serupa masih sangat terbatas dan belum ada laporan kegagalan signifikan seperti yang terjadi di Amerika Serikat.

Kepolisian Dublin belum mengumumkan rencana pengganti DubBot. Namun, kegagalan ini menjadi pelajaran berharga bagi kota-kota lain yang berniat mengadopsi robot patroli otonom. Investasi besar tanpa hasil nyata hanya akan membuang anggaran publik yang seharusnya bisa dialokasikan untuk kebutuhan lain yang lebih mendesak.

Meskipun teknologi robotika terus berkembang, kasus DubBot membuktikan bahwa kecerdasan buatan dan robot otonom belum sepenuhnya siap menggantikan peran polisi manusia dalam menjaga keamanan publik. Setidaknya, untuk saat ini.

Untuk informasi lebih lanjut tentang perkembangan teknologi robotika dan keamanan, simak juga artikel tentang Meta Bangun Data Center Tenda Bertenaga Turbin Gas yang menunjukkan inovasi teknologi di bidang lain.

Pensiunnya DubBot menjadi pengingat bahwa tidak semua teknologi canggih mampu memberikan solusi instan bagi masalah kompleks seperti keamanan publik. Dibutuhkan evaluasi menyeluruh sebelum mengadopsi teknologi baru, terutama yang melibatkan anggaran publik dalam jumlah besar.

Robot patroli otonom mungkin suatu hari nanti akan menjadi alat yang efektif, namun berdasarkan pengalaman DubBot dan pendahulunya, hari itu masih belum tiba.

Komentar

Belum ada komentar.