Telset.id – Quantum Systems Group secara resmi memecahkan rekor kecepatan dunia untuk drone elektrik, mencapai kecepatan 699 km/jam (434 mph) selama pengujian internal pada 26 Juni 2026. Meskipun rekor ini masih bersifat tidak resmi, capaian tersebut jauh melampaui rekor sebelumnya yang dipegang oleh pesawat nirawak lain dengan kecepatan 657,59 km/jam (409 mph).
Rekor terbaru yang belum terverifikasi ini dicapai dalam penerbangan lurus dan datar (straight and level flight). Angka tersebut mewakili peningkatan sebesar 6,3% dibandingkan rekor kecepatan drone saat ini. Perusahaan yang berbasis di Jerman ini menyatakan bahwa pengujian resmi untuk verifikasi oleh Guinness World Records dan Fédération Aéronautique Internationale (FAI) dijadwalkan dalam beberapa minggu ke depan.
Quantum Systems menjelaskan bahwa drone Apex Recordhunter dikembangkan selama setahun terakhir. Namun, drone ini bukanlah produk komersial, melainkan berfungsi sebagai “demonstrator teknologi untuk sistem berkecepatan tinggi generasi berikutnya” (technology demonstrator for next-generation high-speed systems). Beberapa inovasi dari proyek ini diharapkan dapat mendukung program drone interceptor di masa depan.
Drone ini merupakan pesawat sayap tetap (fixed-wing aircraft) bertenaga baterai-listrik yang dikembangkan oleh tim pengembangan lanjutan N3XT milik perusahaan. Apex Recordhunter juga mendapat manfaat dari sel baterai V4Smart yang dipasok oleh anak perusahaan Porsche.
Sasaran utama drone ini bukanlah pasar konsumen fotografi atau hobi. Sebaliknya, fokusnya adalah pada pengembangan interceptor berkecepatan tinggi untuk peperangan modern. Quantum Systems mengatakan bahwa pelajaran yang dipetik dari Apex akan secara langsung memengaruhi platform interceptor masa depan untuk skenario pertahanan dunia nyata.
“Super bangga dengan tim Quantum Systems, yang menunjukkan ambisi teknik kami di seluruh Grup dan memperkuat komitmen kami untuk mengembangkan teknologi terdepan di dunia,” tulis salah satu CEO perusahaan, Florian Seibel.
Yang menarik, para insinyur dari divisi WIY Drones milik Quantum Systems di Ukraina juga berkontribusi dalam program ini. Ini menjadi catatan penting karena Rusia semakin banyak menggunakan drone serangan satu arah (one-way attack drones) berkecepatan tinggi dan bertenaga jet. Penggunaan drone berkecepatan tinggi seperti yang dikembangkan Quantum Systems bisa menjadi solusi yang jauh lebih murah dan lebih mudah diakses dibandingkan meluncurkan rudal pertahanan udara yang mahal.
Selain rekor kecepatan Apex, pada pertengahan Juli 2026, Quantum Systems juga menargetkan untuk mencetak dua rekor lainnya. Pertama, kecepatan tertinggi yang dicapai oleh drone interceptor FPV yang membawa muatan 500 gram, yang akan dijalankan oleh drone STRILA Interceptor. Kedua, drone SPYS mereka akan membidik rekor kecepatan tertinggi yang dicapai oleh drone interceptor FPV kelas anti-pesawat.
Pencapaian dan potensi rekor ini mencerminkan perlombaan global yang sedang berlangsung untuk mengembangkan drone militer yang lebih cepat. Hal ini juga menggarisbawahi semakin relevannya senjata udara, jarak jauh, dan otonom dalam peperangan modern.

Meskipun demikian, drone elektrik lain secara teknis telah mencapai kecepatan yang lebih tinggi. Sebuah tim dari Selandia Baru baru-baru ini mencatatkan kecepatan tinggi 730 km/jam (453 mph) dengan drone Blackbird mereka yang menggunakan bilah baling-baling karbon serat bergerigi (sawtooth carbon fiber prop blades). Meskipun juga belum mendapatkan pengakuan resmi, tim tersebut sebelumnya telah mencetak rekor 626 km/jam (388 mph) pada Desember 2025 dengan drone terpisah, sebelum dengan cepat dilampaui oleh pemegang rekor lain yang mencapai 659 km/jam (408 mph).
Terlepas dari itu, peningkatan sebesar 11,7% dari rekor pertama di bulan Desember hingga rekor tidak resmi saat ini menegaskan bahwa masih ada banyak ruang untuk terus mendorong batas kecepatan drone.
Perkembangan ini menunjukkan betapa pesatnya inovasi di sektor kendaraan nirawak, terutama untuk aplikasi militer. Kecepatan yang semakin tinggi dan biaya yang lebih terjangkau dibandingkan rudal konvensional membuat drone menjadi aset yang semakin krusial di medan perang modern.






Komentar
Belum ada komentar.