📑 Daftar Isi

Robot Argus dengan 20 kaki teleskopik di Universitas Duke

Robot 20 Kaki Argus, Bentuk Paling Sempurna Versi Duke

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • Robot Argus buatan Universitas Duke punya 20 kaki teleskopik tanpa bagian depan/belakang
  • Mampu bergerak ke segala arah secara instan dan menstabilkan diri saat didorong
  • Skor isotropi dinamis 0,91, jauh di atas robot humanoid dan drone (di bawah 0,6)
  • Tetap berfungsi meski motor mati atau kaki patah
  • Berpotensi dikembangkan untuk robot SAR, kendaraan bawah air, dan manipulasi objek

Telset.id – Sebuah robot unik bernama Argus yang dikembangkan di Universitas Duke menarik perhatian karena dinilai sebagai robot dengan bentuk paling sempurna untuk mobilitas. Alih-alih meniru bentuk manusia atau hewan, robot berbentuk bulat ini memiliki 20 kaki teleskopik yang memancar dari inti pusatnya, memungkinkannya bergerak ke segala arah secara instan.

Profesor teknik Boyuan Chen dan timnya menciptakan Argus yang dinamai dari raksasa bermata banyak dalam mitologi Yunani. Robot ini tidak memiliki konsep bagian depan, belakang, atas, atau bawah. Sebagai gantinya, kamera sensor kedalaman terpasang pada setiap kakinya, memberikan kemampuan melihat 360 derajat tanpa harus memutar badan.

“Alih-alih mengukur bagaimana kaki Anda tersusun di berbagai bagian tubuh yang berbeda, kami mengukur seberapa cepat Anda dapat bergerak ke segala arah. Siapa yang bilang, kalau kita memiliki robot untuk membantu kita dengan cara paling efektif, wujudnya harus terlihat seperti kita?” sebut Chen dikutip detikINET dari Associated Press.

Robot 20 kaki

Uji Coba di Alam Terbuka

Dalam eksperimen, Argus menunjukkan kemampuannya menavigasi berbagai medan. Robot ini berhasil bergerak di pantai berpasir dan semak di hutan, berguling melewati rintangan, dan menstabilkan diri setelah didorong. Kemampuan memanjat di antara dinding bata juga ditunjukkan dengan mengganti-ganti gerakan menopang dan mendorong menggunakan kaki-kakinya.

Keunggulan lain dari Argus adalah ketahanannya. Jika satu atau beberapa motor penggerak mati atau ada kaki yang patah, robot ini tetap dapat berfungsi. Hal ini menunjukkan desain redundan yang membuatnya sangat andal di kondisi ekstrem. Konsep ini mirip dengan bagaimana beberapa makhluk hidup berevolusi, seperti yang dibahas dalam artikel Alasan T-Rex yang unik.

“Melihat Argus bergerak tidak seperti melihat robot-robot lain yang pernah kami tangani sebelumnya,” kata Jiaxun Liu, mahasiswa pascasarjana sekaligus rekan penulis studi tentang Argus. “Pertama kali kami melihatnya menavigasi di antara pepohonan dan medan yang kasar, bahkan saat mengalami benturan keras, kami tahu bahwa robot ini adalah sesuatu yang berbeda,” cetusnya.

Skor Mobilitas Tertinggi

Sebagai bagian penelitian, para ahli mengembangkan prinsip desain baru yang disebut isotropi dinamis. Prinsip ini menilai robot dalam skala 0 hingga 1 berdasarkan seberapa seragam mereka dapat berakselerasi ke segala arah. Hasilnya mengejutkan: sebagian besar robot saat ini, termasuk robot humanoid dan drone, mendapat skor di bawah 0,6. Sementara itu, Argus meraih skor 0,91.

“Ketika sebuah robot dapat berakselerasi sama baik ke segala arah, robot tersebut tak lagi harus menghadap dunia dengan cara tertentu,” ujar Chen. Ia berharap prinsip serupa kelak dapat memandu pengembangan robot pencari dan penyelamat (SAR), kendaraan bawah air atau udara, maupun robot dengan kemampuan menggenggam objek.

Chen juga memiliki visi yang lebih luas untuk pengembangan Argus. “Daripada merancang tangan robot yang menyerupai tangan manusia, salah satu gagasannya adalah menjadikan Argus itu sendiri sebagai sebuah tangan, dan ia mampu memanipulasi objek dari segala arah,” jelasnya.

Inovasi seperti Argus membuka perspektif baru dalam dunia robotika, di mana efisiensi gerak tidak harus mengikuti bentuk biologis yang sudah dikenal. Pendekatan isotropi dinamis ini bisa menjadi standar baru dalam menilai kemampuan mobilitas robot di masa depan.

Komentar

Belum ada komentar.