📑 Daftar Isi

Roket China Long March 3B Tersambar Petir, Misi Tetap Sukses

Roket China Long March 3B Tersambar Petir, Misi Tetap Sukses

Penulis:Fernando Yehezkiel
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:

Telset.id – Momen langka terjadi saat peluncuran roket China pada 23 Juli 2026. Petir menyambar roket Long March 3B sekitar 30 detik setelah lepas landas, namun roket tetap berhasil mengantarkan satelit ke orbit. Insiden ini menjadi bukti efektivitas sistem perlindungan petir pada roket modern.

Ratusan penonton yang menyaksikan peluncuran dari Xichang Satellite Launch Center, China barat daya, sempat terkejut ketika sambaran petir dengan tegangan diperkirakan mencapai sedikitnya 100 juta volt menghantam badan roket. Rekaman video memperlihatkan aliran listrik merambat di sepanjang badan roket dan jejak gas buangnya sebelum akhirnya mengarah ke permukaan Bumi.

Meski dihantam sambaran listrik dahsyat, roket tetap melanjutkan penerbangannya tanpa gangguan berarti. Para penonton yang mengenakan jas hujan dan membawa payung sempat terdiam, namun kemudian bersorak ketika roket tetap melesat ke angkasa.

Misi Sukses ke Orbit Geostasioner

Pada hari peluncuran, China Aerospace Science and Technology Corporation (CASC) menyatakan misi tersebut berlangsung sukses. Roket Long March 3B berhasil menempatkan satelit Tianlian-2 (06) ke orbit geostasioner. Satelit relai tersebut akan mendukung operasional Stasiun Luar Angkasa Tiangong milik China.

Menariknya, pernyataan resmi CASC tidak menyinggung insiden sambaran petir yang terjadi selama peluncuran. Hal ini menunjukkan bahwa sambaran petir dianggap tidak mempengaruhi keberhasilan misi secara signifikan.

Roket modern memang dirancang untuk menghadapi kemungkinan tersambar petir. Bagian luar roket dibuat menggunakan material yang sangat konduktif sehingga mampu mengalirkan muatan listrik besar ke seluruh permukaan luar tanpa merusak sistem elektronik penting di bagian dalam. Prinsip kerjanya serupa dengan Faraday cage, yaitu pelindung yang menghalangi medan elektromagnetik memasuki area yang dilindungi.

Teknologi serupa juga digunakan pada pesawat komersial, yang rata-rata tersambar petir setidaknya satu kali setiap tahun tanpa menimbulkan kerusakan serius. Kendati begitu, peluncuran roket umumnya tetap dijadwalkan saat cuaca baik untuk meminimalkan risiko sambaran petir.

Sejarah Insiden Petir pada Roket

Insiden roket yang tersambar petir bukanlah yang pertama dalam sejarah penerbangan antariksa. Salah satu kasus paling terkenal terjadi pada misi Apollo 12 milik NASA pada November 1969. Tak lama setelah lepas landas, roket Saturn V yang membawa astronaut Charles Conrad, Alan Bean, dan Richard Gordon tersambar petir sebanyak dua kali saat menembus atmosfer.

Beberapa instrumen dan sensor mengalami gangguan permanen akibat sambaran tersebut. Namun kerusakan itu tidak menghalangi misi, dan ketiga astronaut berhasil mendarat di Bulan serta kembali ke Bumi dengan selamat.

Kasus serupa juga terjadi pada 2019 ketika sebuah roket Soyuz milik Rusia tersambar petir saat mengangkut satelit komunikasi menuju orbit rendah Bumi. Sementara itu, mobil Tesla sempat digunakan untuk mengantar astronaut NASA ke lokasi peluncuran pada misi Crew-8, yang mana roketnya juga memiliki risiko tersambar petir.

Petir juga dapat menyambar roket yang masih berada di landasan peluncuran. Hal itu terjadi menjelang misi Artemis I NASA pada 2022. Roket Space Launch System (SLS) sempat tersambar petir saat menjalani uji coba wet dress rehearsal, sekitar tujuh bulan sebelum peluncuran resminya. NASA kemudian melakukan uji coba krusial untuk memastikan kesiapan roket.

Namun kejadian seperti itu kini sangat jarang terjadi karena sebagian besar landasan peluncuran telah dilengkapi menara penangkal petir yang dirancang untuk mengalihkan sambaran listrik dari roket.

Tidak semua roket mampu bertahan setelah tersambar petir. Pada 1987, roket Atlas-Centaur AC-67 hancur hanya 48 detik setelah lepas landas dari Cape Canaveral, Florida, akibat sambaran petir. Laporan NASA mengungkapkan bahwa sambaran tersebut memicu perubahan data pada memori komputer navigasi roket. Akibatnya, sistem kendali kehilangan arah, roket menyimpang dari lintasan, lalu pecah di udara.

Karena itu, meski roket modern memiliki perlindungan terhadap sambaran petir, kondisi cuaca tetap menjadi salah satu faktor terpenting dalam setiap peluncuran antariksa. Insiden Long March 3B menjadi bukti bahwa perlindungan tersebut dapat bekerja secara efektif, sekaligus menunjukkan betapa berisikonya proses mengirim wahana ke luar angkasa.

Keberhasilan misi ini juga memperlihatkan bagaimana teknologi perlindungan petir pada roket terus berkembang. Berbeda dengan tes peluncuran roket milik Richard Branson yang gagal total, roket Long March 3B mampu bertahan dari sambaran petir yang sangat kuat dan tetap menyelesaikan misinya dengan sempurna.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.