Ilustrasi roket kargo otonom Hop Aero Rook yang diluncurkan dari kontainer 40 kaki

Roket Kargo Otonom Hop Aero Rook Angkut 250 Kg ke 750 Km

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • Hop Aero, startup Y Combinator, perkenalkan roket kargo otonom bernama Rook
  • Roket mampu angkut 250 kg hingga 750 km dalam 15 menit
  • Diluncurkan dari kontainer 40 kaki dan mendarat tanpa landasan pacu
  • Belum pernah uji terbang, baru tethered test skala kecil
  • Hanya punya kontrak $1,25 juta dari Angkatan Udara AS yang akan berakhir
  • Target misi referensi: Okinawa ke Taiwan untuk logistik militer
  • Konsep point-to-point delivery masih dalam tahap awal pengembangan

Telset.id – Startup rintisan Y Combinator asal California, Hop Aero, mengungkap detail perdana roket kargo otonom bernama Rook yang mampu mengangkut muatan hingga 250 kilogram sejauh 750 kilometer hanya dalam waktu 15 menit. Roket ini dirancang untuk diluncurkan dari kontainer pengiriman standar berukuran 40 kaki dan mendarat di permukaan yang tidak dipersiapkan tanpa memerlukan landasan pacu atau infrastruktur tetap.

Rook diklaim sebagai solusi pengiriman kargo hipersonik yang dapat digunakan untuk keperluan logistik militer, khususnya mengirimkan kawanan sistem otonom tanpa awak ke medan perang. Hop Aero menyebut misi referensi untuk penerbangan 15 menit tersebut adalah rute dari Okinawa ke Taiwan.

Meskipun klaimnya ambisius, penting untuk dicatat bahwa roket Rook belum pernah melakukan penerbangan uji coba. Hop Aero baru menyelesaikan satu uji coba terikat (tethered test) dari prototipe skala kecil di spaceport Oklahoma. Selain itu, pendanaan pemerintah yang diterima perusahaan hanya berupa satu kontrak Angkatan Udara senilai $1,25 juta yang akan berakhir pada Oktober mendatang.

Jika dihitung secara kasar, lintasan balistik energi minimum untuk menempuh 750 km membutuhkan kecepatan sekitar 2,64 km/s saat burnout dan mencapai puncak ketinggian mendekati 181 km. Angka ini menempatkan Rook jauh di atas garis Kármán (100 km), yang berarti roket ini akan melintasi batas luar angkasa. Waktu pelayaran balistik sendiri memakan waktu sekitar enam hingga tujuh menit, menyisakan delapan menit dari klaim total 15 menit untuk fase dorong, masuk kembali ke atmosfer, dan pendaratan.

Dimensi roket juga dibatasi oleh ukuran kontainer ISO 40 kaki yang memiliki panjang internal sekitar 12,03 meter dan lebar 2,35 meter. Sebagai perbandingan, roket Electron milik Rocket Lab memiliki tinggi 18 meter dan mampu mengirimkan sekitar 300 kg ke orbit rendah Bumi.

Baca Juga:

Konsep pengiriman kargo point-to-point menggunakan roket sebenarnya bukan hal baru. Laboratorium Riset Angkatan Udara (AFRL) telah menjadikan Rocket Cargo sebagai program Vanguard pada Juni 2021 dan memberikan kontrak senilai $102 juta kepada SpaceX pada Januari 2022 untuk mengerjakan konsep tersebut menggunakan Starship. Starship sendiri baru saja menyelesaikan uji coba ke-13 pada 24 Juli, dengan tahap atasnya kemudian mendarat di Samudra Hindia.

Namun, AFRL kemudian mengganti nama upaya tersebut menjadi Point-to-Point Delivery dalam permintaan anggaran tahun fiskal 2025 dan hanya meminta dana sebesar $4 juta. Sebuah tinjauan lingkungan untuk lokasi pendaratan di Johnston Atoll yang mencakup hingga 10 pendaratan kendaraan per tahun ditangguhkan pada Juli 2025. Sementara itu, demonstrasi masuk kembali atmosfer AFRL yang menggunakan roket Neutron milik Rocket Lab juga belum pernah terbang.

Hop Aero didirikan oleh Jacob Balaj yang sebelumnya bekerja di Masten Space Systems. Masten telah menjalankan lebih dari 600 penerbangan lepas landas dan mendarat vertikal selama 18 tahun dan sedang mengembangkan kendaraan Xogdor untuk transportasi muatan point-to-point sebelum mengajukan kebangkrutan Chapter 11 pada Juli 2022. Aset Masten kemudian dibeli oleh Astrobotic seharga $4,5 juta pada September tahun yang sama.

Sebagai perbandingan, pendekatan Angkatan Laut AS terhadap masalah pasokan yang sama adalah dengan mencetak 3D suku cadang di lokasi penempatan. Sementara itu, Inversion Space, perusahaan Y Combinator lainnya, berhasil mengumpulkan pendanaan Seri A sebesar $44 juta dan mempekerjakan sekitar 60 staf. Namun, demonstrator subscale Ray milik mereka gagal meninggalkan orbit pada Januari tahun lalu setelah korsleting listrik menghalangi mesin deorbit untuk menyala.

Hingga saat ini, belum ada perusahaan yang berhasil menerbangkan pengiriman kargo point-to-point komersial berlisensi. Rook dari Hop Aero masih dalam tahap pengembangan awal dan masih banyak tantangan teknis serta regulasi yang harus diatasi sebelum dapat dioperasikan secara nyata.

Bagi penggemar teknologi dan industri pertahanan, perkembangan ini patut dicermati. Inovasi dalam logistik militer seperti yang ditawarkan Hop Aero bisa menjadi terobosan besar, meskipun masih perlu dibuktikan melalui serangkaian uji terbang yang ketat. Keberhasilan program ini akan sangat bergantung pada kemampuan perusahaan untuk mendapatkan pendanaan lebih lanjut dan menyelesaikan uji terbang penuh dalam waktu dekat.

Dengan segala keterbatasan yang ada, proyek Rook tetap menjadi salah satu inisiatif paling menarik di sektor antariksa komersial saat ini. Ke depannya, publik dan investor akan menantikan bukti nyata dari klaim ambisius Hop Aero tentang roket kargo otonom yang revolusioner ini.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.