📑 Daftar Isi

Perangkat laboratorium kimia otomatis Mass Balance seukuran jeruk bali di orbit Bumi

Startup Inggris Uji Lab Kimia Otomatis di Luar Angkasa

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • Startup Inggris Mass Balance luncurkan lab kimia otomatis ke orbit Bumi menggunakan roket SpaceX
  • Perangkat seukuran jeruk bali akan mengorbit selama beberapa bulan dan mengirim data secara otomatis
  • Tujuan utama mempelajari disordered proteins penyebab Alzheimer, Parkinson, dan kanker
  • Gravitasi mikro di luar angkasa memungkinkan penelitian protein yang sulit dilakukan di Bumi
  • Data akan digunakan untuk melatih model AI guna mengisi celah pada sistem seperti AlphaFold
  • Mass Balance tidak berencana membawa perangkat kembali ke Bumi untuk mengurangi tantangan teknis

Telset.id – Sebuah startup asal Inggris berhasil meluncurkan laboratorium kimia mandiri ke orbit Bumi untuk pertama kalinya. Eksperimen ini bertujuan memanfaatkan kondisi gravitasi nol guna mempelajari sekelompok protein penyebab penyakit yang sulit diteliti di Bumi.

Misi uji coba ini dilakukan oleh Mass Balance, startup bioteknologi yang mengembangkan perangkat seukuran jeruk bali berisi bahan kimia, sensor, dan elemen kontrol. Perangkat tersebut diluncurkan menggunakan roket SpaceX pada Selasa pagi (waktu setempat).

Laboratorium mini ini ditempatkan dalam pod berukuran 10 sentimeter (4 inci) buatan perusahaan asal Austria, Tumbleweed. Selama beberapa bulan ke depan, perangkat akan mengorbit Bumi dan secara otomatis mengukur serta mengirimkan data tentang bagaimana sel hidup tumbuh, bereaksi, dan berfungsi di bawah gravitasi lemah.

Ini merupakan uji pertama dari sistem yang diharapkan mampu menghasilkan data berkualitas tinggi yang tidak bisa diperoleh di Bumi. Di planet kita, gravitasi yang lebih kuat menimbulkan efek seperti konveksi (aliran panas) dan sedimentasi (pengendapan senyawa berat) yang mengotori pengumpulan data.

“Ketika gravitasi dihilangkan, banyak hal aneh dan menakjubkan terjadi, beberapa di antaranya akan sangat berharga bagi ilmu hayati dan farmasi,” ujar Toby Call, salah satu pendiri sekaligus CEO Mass Balance, dalam sebuah wawancara.

“Kedengarannya liar hari ini, tetapi tujuannya adalah membuat luar angkasa menjadi membosankan, andal, dan hanya sekadar lingkungan riset lain,” tambahnya.

Mengungkap Misteri Protein Penyebab Penyakit

Lingkungan riset ini dinilai krusial untuk pencitraan protein tidak terstruktur (disordered proteins). Protein jenis ini bertanggung jawab atas penyakit terkait penuaan, termasuk Alzheimer, Parkinson, dan beberapa jenis kanker.

Di Bumi, protein ini terus-menerus berubah bentuk, sehingga sangat sulit untuk diambil gambarnya. Kondisi ini menciptakan celah dalam data pelatihan untuk model ilmu hayati seperti AlphaFold milik Google, yang membuatnya tidak mampu memprediksi bagaimana protein tidak terstruktur akan berperilaku dan merespons obat-obatan.

Namun di luar angkasa, para ilmuwan percaya bahwa beberapa protein penyebab penyakit ini mungkin lebih mudah dipelajari dan dianalisis. Call berencana menghasilkan data dengan menjalankan tes pada protein tidak terstruktur dalam kondisi gravitasi mikro, lalu menggunakannya untuk melatih adaptor model AI yang mengisi celah tersebut.

Model, lisensi data, dan akses data inilah yang akan menjadi sumber pendapatan bagi perusahaannya. Untuk saat ini, Mass Balance masih fokus menguji sistem operasi dan pengambilan data mereka.

Uji Coba Pertama di Orbit

Misi pada Selasa lalu akan membawa biokatalis industri ke luar angkasa, yang akan memecah senyawa kimia lain. Platform ini akan memantau proses tersebut menggunakan cahaya untuk memastikan reaksi kimia berjalan sesuai rencana.

Mass Balance bukan satu-satunya startup yang berupaya mengembangkan laboratorium orbital. Pada Mei lalu, perusahaan asal Inggris, BioOrbit, meluncurkan unit uji coba yang menumbuhkan kristal ultra-murni dan stabil yang dapat diubah menjadi obat kanker suntik.

Sementara itu, perusahaan milik Amerika, Varda Space Industries, juga mengerjakan pemrosesan produk farmasi dalam kondisi gravitasi mikro. Inovasi di sektor ini menunjukkan potensi besar dari riset luar angkasa untuk kemajuan medis, mirip dengan uji coba Starlink Virgin Atlantic yang memanfaatkan teknologi satelit.

Berbeda dengan BioOrbit dan Varda, Mass Balance tidak berusaha membawa sistemnya kembali ke Bumi dalam kondisi utuh. Keputusan ini membuat mereka terhindar dari tantangan rekayasa besar seperti memastikan perangkat dapat bertahan dari panas dan tekanan ekstrem saat satelit memasuki kembali atmosfer Bumi.

“Gravitasi mikro adalah alat baru yang kurang dimanfaatkan,” kata Call. Startup ini optimistis bahwa pendekatan mereka dapat membuka jalan bagi penemuan obat-obatan baru yang selama ini terhambat oleh keterbatasan penelitian di Bumi.

Keberhasilan misi ini akan menjadi langkah awal menuju komersialisasi riset luar angkasa untuk industri farmasi. Jika berhasil, metode ini bisa menjadi terobosan dalam pengembangan obat untuk penyakit degeneratif yang selama ini sulit diatasi.

Dengan data dari luar angkasa, para peneliti berharap dapat mengisi celah pengetahuan yang ada pada model AI seperti AlphaFold. Hal ini pada akhirnya dapat mempercepat pengembangan obat untuk Alzheimer, Parkinson, dan kanker yang lebih efektif.

Misi uji coba ini menjadi bukti bahwa eksplorasi luar angkasa tidak hanya untuk penemuan ilmiah murni, tetapi juga memiliki aplikasi komersial yang nyata di bidang kesehatan.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.