📑 Daftar Isi

Ambulans listrik tenaga surya Stella Juva yang dirancang mahasiswa Eindhoven University of Technology untuk digunakan di Kenya.

Stella Juva: Ambulans Listrik Tenaga Surya Uji Coba di Kenya

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • Mahasiswa Eindhoven University of Technology merancang Stella Juva, ambulans listrik tenaga surya untuk Kenya
  • Kendaraan membawa ultrasound scanner, X-ray, defibrillator, dan lemari pendingin vaksin
  • Jangkauan sekitar 444 mil dengan kecepatan maksimum mendekati 75 mph
  • Kini diuji coba di sejumlah komunitas Kenya untuk menilai kelayakan nyata
  • Kenya masih kekurangan nomor darurat terpusat dan sistem dispatch yang terkoordinasi
  • Hanya 26 persen publik Kenya tahu nomor darurat yang harus dihubungi
  • Waktu respons nasional berkisar 20 menit hingga satu jam di county yang punya data

Telset.id – Mahasiswa dari Eindhoven University of Technology di Belanda merancang ambulans listrik bertenaga surya bernama Stella Juva untuk meningkatkan akses layanan kesehatan darurat di komunitas terpencil Kenya. Kendaraan ini kini memasuki tahap uji coba di sejumlah komunitas di Kenya guna menilai kelayakannya beroperasi dalam kondisi nyata.

Desain Stella Juva lahir dari diskusi dengan organisasi non-pemerintah yang bergerak di bidang peningkatan akses kesehatan di Afrika. Kendaraan ini dirancang untuk mengangkut pasokan medis darurat sekaligus peralatan untuk pemeriksaan kesehatan dasar, sehingga fungsinya lebih menyerupai klinik kesehatan berjalan dibandingkan ambulans konvensional.

Dari sisi perlengkapan, Stella Juva disebut membawa ultrasound scanner, peralatan X-ray, defibrillator, dan lemari pendingin untuk mengangkut vaksin serta pasokan medis lainnya. Kombinasi perangkat tersebut memungkinkan tenaga kesehatan melakukan skrining di lokasi, bukan hanya evakuasi pasien.

“Ini akan memungkinkan kami menjangkau dan melakukan skrining ibu dan bayi, menangkap komplikasi lebih awal, dan merujuk mereka secara real time,” ujar Geoffery Sadera, project officer di lembaga nirlaba Amref Health Africa, kepada EuroNews.

Secara teknis, kendaraan listrik ini mengusung jangkauan sekitar 444 mil atau lebih sedikit di atasnya, dengan kecepatan maksimum mendekati 75 mph. Angka tersebut menempatkan Stella Juva sebagai kendaraan medis yang mengandalkan energi surya penuh, bukan hibrida atau bergantung pada jaringan pengisian daya konvensional.

Bentuknya yang sekilas menyerupai Cybertruck menegaskan pendekatan desain yang berbeda dari ambulans pada umumnya. Namun, uji coba di Kenya menjadi penentu apakah konsep klinik berjalan berbasis tenaga surya ini mampu bertahan di medan dan kondisi operasional yang sesungguhnya.

A solar-powered ambulance to be used in Kenya.

Tantangan Sistem Kesehatan Kenya

Terlepas dari potensi Stella Juva, Kenya masih menghadapi sejumlah hambatan struktural yang tidak bisa diselesaikan oleh kendaraan listrik semata. Laporan tahun 2025 dari Office of the Auditor General Kenya mencatat negara itu belum memiliki nomor darurat bebas pulsa terpusat seperti 911, sebuah gejala dari banyaknya celah sistemik di sistem kesehatan publik Kenya.

Karena pengaturan dispatch darurat dijalankan berdasarkan county atau wilayah administratif, sebagian besar layanan darurat Kenya kekurangan kebutuhan dasar seperti dispatcher terlatih, layanan internet yang andal, dan pasokan listrik cadangan darurat. Belum lagi sistem logistik seperti pencatatan panggilan elektronik dan pelacakan respons secara real time.

Dalam ringkasan laporan Auditor General tersebut, Emergency Medicine Kenya Foundation mencatat hanya 26 persen publik yang mengetahui nomor apa yang harus dihubungi saat keadaan darurat. Bahkan ketika ambulans dikerahkan, rata-rata waktu respons nasional berkisar antara 20 menit hingga satu jam, dan itu pun hanya untuk county yang benar-benar memiliki data dispatch untuk dibagikan.

“Respons darurat di Kenya sebagian besar tidak terkoordinasi, reaktif, dan bergantung pada geografi ketimbang kebutuhan,” jelas Foundation tersebut.

Kondisi tersebut belum termasuk situasi di rumah sakit dan klinik Kenya saat pasien trauma tiba. Artinya, persoalan yang dihadapi bukan sekadar ketersediaan kendaraan, melainkan keseluruhan rantai respons darurat, mulai dari panggilan pertama hingga penanganan lanjutan.

Konteks Kebutuhan Layanan Kesehatan

Sebagian besar populasi Kenya tinggal di desa dan township terpencil, jauh dari fasilitas yang ditawarkan kehidupan perkotaan. Meskipun populasi pedesaan Kenya menyusut dalam beberapa dekade terakhir, jumlahnya masih mencakup mayoritas penduduk negara tersebut, sehingga menjadi tantangan besar bagi sektor kesehatan Kenya yang tengah berjuang.

Di tengah kondisi itu, kehadiran sejumlah ambulans bertenaga surya memang tidak merugikan. Namun tanpa reformasi besar terhadap sistem kesehatan Kenya, keberadaannya diperkirakan hanya akan menjadi penambal pada luka kronis. Konsep seperti ini juga sejalan dengan tren kendaraan listrik yang mengutamakan Kenyamanan Berkendara dan efisiensi operasional di wilayah dengan infrastruktur terbatas.

Pengembangan Stella Juva sendiri menunjukkan bagaimana teknologi energi bersih dan mobilitas listrik mulai menyentuh sektor layanan publik, bukan hanya kendaraan pribadi. Pendekatan ini juga terlihat pada berbagai inovasi digital yang menekankan Kenyamanan Pengguna dalam layanan sehari-hari.

Meski demikian, keberhasilan uji coba Stella Juva di Kenya akan sangat bergantung pada kesiapan ekosistem di sekitarnya. Tanpa perbaikan pada sistem dispatch, ketersediaan jaringan internet, dan pasokan listrik cadangan, potensi ambulans surya ini akan sulit dioptimalkan sepenuhnya.

Uji coba di sejumlah komunitas Kenya menjadi langkah awal untuk melihat sejauh mana pendekatan ini dapat bekerja di lapangan. Hasilnya akan menjadi acuan apakah model klinik berjalan bertenaga surya ini layak direplikasi di wilayah lain dengan tantangan serupa.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.