Telset.id – TSMC, produsen chip kontrak terbesar di dunia, tengah mencari mesin alternatif tanpa komponen rare earth untuk mengurangi ketergantungan pada material yang didominasi China dan menghindari gangguan operasional pabrik akibat kontrol ekspor negara tersebut. Langkah ini menempatkan TSMC sebagai perusahaan pertama yang secara terbuka mengubah strategi pengadaan peralatan produksinya sebagai respons langsung terhadap kebijakan ekspor Beijing.
Menurut laporan Reuters pada 22 Oktober yang mengutip sumber-sumber yang mengetahui masalah tersebut, perusahaan asal Taiwan itu telah mulai menghubungi para pemasok peralatan mereka. TSMC mengeksplorasi apakah pemasok dapat menyediakan peralatan otomasi pabrik yang dilengkapi motor tanpa memerlukan material rare earth.
TSMC memasok chip Nvidia yang menjadi tulang punggung boom AI. Perusahaan ini juga memproduksi chip untuk Apple, Broadcom, Qualcomm, dan sejumlah perusahaan teknologi serta otomotif lainnya. Pabrik fabrikasi semikonduktor TSMC beroperasi dengan otomasi tinggi dan menggunakan mesin industri yang bergantung pada motor listrik dengan magnet permanen kuat berbahan rare earth seperti neodymium, dysprosium, dan terbium.
Dominasi China dan Dampaknya bagi TSMC
Berdasarkan data U.S. Geological Survey (USGS), China menguasai sekitar 70% penambangan rare earth global. International Energy Agency (IEA) menyebut China juga mengendalikan sekitar 90% kapasitas pemurnian dan kurang lebih 95% magnet permanen jadi yang digunakan pada mesin-mesin TSMC. Kondisi ini memberi Beijing posisi monopoli quasi-absolut atas salah satu rantai pasok teknologi paling kritis.
Pada April 2025, China menempatkan tujuh rare earth medium dan berat beserta magnet yang dibuat dari material tersebut di bawah kontrol ekspor. Kebijakan ini mewajibkan eksportir mengajukan persetujuan dan lisensi ekspor secara kasus per kasus, sehingga menghambat pengiriman ke produsen di Amerika Serikat, Eropa, dan Asia, termasuk TSMC.
China kemudian memperluas kontrol pada 9 Oktober 2025 untuk mencakup lima rare earth tambahan, teknologi dan peralatan pemrosesan, serta produk yang diproduksi di luar negeri yang mengandung lebih dari 0,1% rare earth asal China atau dibuat menggunakan teknologi pemrosesan China. Ekspansi Oktober itu lantas ditangguhkan selama satu tahun hingga 10 November 2026, dan kini diperpanjang tambahan 90 hari.
Baca Juga:
Langkah TSMC bertujuan menekan risiko kontrol ekspor tersebut menghambat produksi di pabrik-pabrik mereka. Bahkan dengan seluruh bahan baku dan mesin lain yang dibutuhkan untuk memproduksi chip, kelangkaan komponen motor khusus dapat menyulitkan perawatan, perbaikan, atau ekspansi peralatan produksi TSMC. Persoalan ini juga bersinggungan dengan rencana ekspansi pabrik yang tengah dijajaki perusahaan, termasuk opsi ekspansi fab di sejumlah wilayah.
Alternatif Teknologi Motor Tanpa Rare Earth
Ada beberapa pendekatan teknologi yang memungkinkan motor beroperasi tanpa magnet rare earth. Motor induksi konvensional, misalnya, menghasilkan torsi melalui induksi elektromagnetik alih-alih magnet permanen. Motor switched-reluctance menjadi opsi lain, sementara sebagian motor magnet permanen dapat menggunakan magnet ferit sebagai pengganti magnet rare earth.
Namun, teknologi-teknologi tersebut umumnya membawa trade-off berbeda dalam hal efisiensi, ukuran, kepadatan daya, presisi, dan kebutuhan kontrol. Artinya, transisi ke motor tanpa rare earth tidak semata soal ketersediaan komponen, tetapi juga menyangkut penyesuaian performa peralatan produksi yang sudah beroperasi di fasilitas TSMC.

Di sisi lain, dunia tengah menjalani upaya panjang membangun rantai pasok rare earth di luar China. Taiwan dilaporkan tengah mengupayakan kapasitas produksi rare earth domestik bekerja sama dengan Amerika Serikat, dengan kedua negara mengonfirmasi niat mengurangi ketergantungan pada rantai pasok rare earth dan mineral kritis asal China.
Pemerintah Taiwan mendukung Industrial Technology Research Institute (ITRI) untuk membangun lini produksi percontohan dalam tiga tahun yang dapat memasok sekitar 50% kebutuhan rare earth domestik Taiwan. Sementara itu, Amerika Serikat disebut “bekerja sama dengan Taiwan dan mitra lain untuk mengembangkan sumber pasokan alternatif, memperluas kapasitas pemrosesan, dan membangun rantai pasok yang lebih tangguh,” menurut laporan tersebut. Pada Februari 2026, pemerintahan Trump mengumumkan rencana menciptakan stok mineral kritis senilai US$12 miliar untuk mengimbangi risiko rantai pasok dari China.
Langkah TSMC ini juga menjadi bagian dari dinamika rantai pasok semikonduktor yang lebih luas, di mana perusahaan terus menegosiasikan berbagai skenario ekspansi dan kemitraan produksi. Sejumlah pembicaraan strategis, termasuk negosiasi Terafab dengan pihak Elon Musk, masih berjalan alot. Di saat yang sama, kemitraan pasokan komponen seperti kontrak interposer menunjukkan bagaimana TSMC mengamankan elemen pendukung produksi chipnya.
Dengan mendiversifikasi sumber komponen motor, TSMC berupaya memastikan perawatan, perbaikan, dan ekspansi peralatan produksinya tidak bergantung sepenuhnya pada material yang pengirimannya dapat dibatasi kebijakan ekspor. Upaya ini berjalan paralel dengan pembangunan rantai pasok rare earth alternatif yang masih membutuhkan waktu dan investasi besar.





Komentar
Belum ada komentar.