Telset.id – Dewan Kota Seattle secara bulat menyetujui moratorium pembangunan pusat data AI besar selama satu tahun. Wali Kota Katie Wilson diperkirakan akan segera menandatangani larangan tersebut, menjadikan Seattle sebagai kota teknologi terbaru yang membatasi ekspansi infrastruktur AI.
Keputusan ini muncul setelah laporan Seattle Times pada April 2026 mengungkapkan bahwa lima proposal proyek pusat data besar di kota tersebut akan mengonsumsi hingga sepertiga dari kebutuhan listrik Seattle saat ini. Warga kota juga menyuarakan kekhawatiran tentang potensi penggunaan air dan polusi suara dari fasilitas tersebut.
Moratorium ini memberlakukan larangan sementara pada pengembangan pusat data besar yang menggunakan lebih dari 20 megavolt-ampere energi, yang dapat memberi daya pada ribuan rumah. Larangan ini dapat diperpanjang selama enam bulan tambahan.
Selain moratorium, dewan kota menyetujui RUU yang mewajibkan kota untuk mempelajari dampak pusat data AI terhadap penggunaan listrik dan air Seattle, tarif utilitas, penggunaan lahan, lapangan kerja lokal, dan kesehatan masyarakat. Studi ini akan mengumpulkan informasi yang diperlukan untuk regulasi permanen.
Seorang anggota dewan menambahkan amandemen pada RUU tersebut, membedakan “pusat data tradisional” dari fasilitas AI “hyperscale”. Pembeda ini penting karena pusat data AI modern memiliki kebutuhan energi dan sumber daya yang jauh lebih besar.
Keputusan Seattle bergabung dengan daftar kota dan kabupaten yang terus bertambah yang telah memberlakukan larangan sementara atau permanen pada pusat data baru, termasuk Denver, New Orleans, dan Minneapolis.
Baca Juga:
Area metropolitan Seattle yang lebih luas merupakan rumah bagi Microsoft, sementara kantor pusat Amazon berada di kota itu sendiri. Google dan Meta juga memiliki kantor di kota tersebut. Namun, seperti dicatat GeekWire, raksasa teknologi tersebut sebenarnya tidak mengoperasikan pusat data di dalam Seattle, sehingga moratorium ini sebagian besar akan mempengaruhi pengembang dan penyedia.
Lebih dari 50 orang memberikan kesaksian pada pertemuan dewan kota terbaru, termasuk anggota Amazon Employees for Climate Justice. Mereka mendesak dewan untuk menambahkan persyaratan energi terbarukan dan perlindungan tenaga kerja ke dalam peraturan kota.
Para anggota juga dilaporkan menyerukan pemerintah untuk menghentikan rencana industri “untuk membangun kapasitas komputasi sebanyak yang mereka bisa, secepat yang mereka bisa, sebelum regulasi dapat mengejar.”

Implikasi dari keputusan ini sangat signifikan. Dengan Seattle sebagai pusat inovasi teknologi global, langkah ini dapat menjadi preseden bagi kota-kota lain yang bergulat dengan dampak ekspansi AI yang cepat. Insinyur Amazon sebelumnya telah menyuarakan protes serupa, menunjukkan tekanan internal yang dihadapi perusahaan teknologi.
Data dari sejarah Seattle sebagai tempat kelahiran Microsoft menunjukkan betapa dalamnya hubungan kota ini dengan industri teknologi. Namun, kekhawatiran tentang dampak lingkungan dan sosial dari pusat data AI kini menjadi prioritas.
Moratorium ini menandai perubahan signifikan dalam pendekatan kota terhadap pengembangan teknologi. Alih-alih menyambut tanpa syarat, Seattle kini mengambil langkah hati-hati untuk memastikan bahwa pertumbuhan infrastruktur AI tidak mengorbankan kebutuhan warganya.
Langkah serupa di kota-kota lain menunjukkan tren yang berkembang. Kritik terhadap pembangunan pusat data setelah PHK massal menunjukkan kompleksitas isu ini.
Dengan studi dampak yang akan dilakukan, Seattle berharap dapat menciptakan kerangka regulasi yang seimbang antara inovasi teknologi dan perlindungan lingkungan serta kepentingan publik.





Komentar
Belum ada komentar.