Telset.id – Peringatan keras datang dari bos SK Hynix. CEO Kwak Noh-jung memprediksi bahwa krisis RAM akan mencapai puncaknya pada 2027, yang disebut sebagai tahun terburuk dalam sejarah industri memori dari sisi pasokan.
Dalam wawancara dengan Reuters yang dikutip oleh Android Headline, Kwak Noh-jung menyatakan, “Kami memperkirakan bahwa tahun depan akan menjadi tahun terburuk dalam sejarah industri [memori] dari sisi pasokan.” Pernyataan ini menegaskan bahwa harga RAM diperkirakan akan mencapai titik tertinggi pada 2027, dan tidak ada kelegaan berarti hingga 2030.
Bahkan setelah 2030, CEO SK Hynix memperingatkan bahwa permintaan akan terus melampaui pasokan. Prediksi ini sejalan dengan pernyataan sebelumnya dari ketua perusahaan induk SK Group. Situasi ini jelas menjadi kabar buruk bagi konsumen dan pelaku industri yang bergantung pada komponen memori.
Ancaman krisis RAM semakin diperkuat oleh analisis dari Bank of America yang disorot oleh Commercial Times di Taiwan. Analisis tersebut meragukan klaim Presiden Korea Selatan tentang ekspansi besar-besaran produksi chip memori negara itu hingga 2030. Seorang insider industri memori di Taiwan bahkan mengklaim bahwa SK Hynix mungkin hanya akan menambah seperenam dari kapasitas produksi yang direncanakan pada 2028.

Jika klaim ini benar, maka potensi kekurangan pasokan sangat besar dan akan menimbulkan kekhawatiran serius. Commercial Times mencatat bahwa meskipun pabrik-pabrik chip baru sedang dibangun oleh SK Hynix dan Samsung di Korea Selatan, pabrik-pabrik tersebut membutuhkan waktu lebih dari satu dekade untuk beroperasi penuh. Laporan tersebut memperkirakan tingkat ekspansi kapasitas wafer memori yang realistis untuk Korea Selatan hanya sekitar 10% per tahun, jauh di bawah klaim presiden.
Peringatan dari CEO SK Hynix ini tentu saja menuai skeptisisme. Beberapa pihak berpendapat bahwa tugas seorang CEO adalah untuk meningkatkan nilai perusahaan, terutama setelah debutnya di Nasdaq. Saham para pembuat chip memori besar memang sedang bergejolak belakangan ini, karena investor mulai khawatir tentang valuasi yang terlalu tinggi dan potensi melambatnya momentum AI.
Namun, prediksi suram ini tidak hanya datang dari SK Hynix. CEO Nvidia, Jensen Huang, juga mengatakan bahwa krisis RAM akan berlangsung “cukup beberapa tahun”, menunjukkan bahwa kita akan terjebak dalam harga tinggi hingga sekitar 2030. Di sisi lain, ada pihak yang optimistis, seperti eksekutif AMD, mantan kepala divisi semikonduktor Samsung, dan firma investasi Jefferies, yang percaya harga RAM akan mulai mereda pada 2028.
Meskipun ada perbedaan pandangan untuk jangka panjang, prospek untuk tahun ini dan tahun depan tetap negatif. Jefferies, misalnya, memprediksi kenaikan harga memori besar-besaran pada sisa tahun ini dan 2027, mendukung pernyataan CEO SK Hynix. Microsoft juga baru-baru ini mengumumkan bahwa mereka memperkirakan biaya RAM akan berlipat ganda pada musim gugur 2027, yang berdampak pada kenaikan harga Xbox.
Baca Juga:

Analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa ekspansi kapasitas produksi yang lambat menjadi faktor utama. Pabrik-pabrik baru membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk dibangun dan dioperasikan, sementara permintaan dari pusat data AI dan perangkat konsumen terus melonjak. Ketidakseimbangan antara pasokan dan permintaan inilah yang menjadi akar dari krisis RAM berkepanjangan.
Krisis RAM ini memiliki dampak luas, tidak hanya pada harga PC dan laptop, tetapi juga pada konsol game, server, dan berbagai perangkat elektronik lainnya. In-Memory Computing menjadi salah satu solusi yang mulai dilirik untuk mengatasi keterbatasan bandwidth memori, meskipun implementasinya masih membutuhkan waktu.
Bagi konsumen, ini berarti harus bersiap menghadapi harga yang lebih tinggi untuk waktu yang lebih lama. Keputusan pembelian perangkat keras, terutama yang membutuhkan RAM dalam jumlah besar, perlu dipertimbangkan dengan matang. Menunda upgrade mungkin menjadi pilihan bijak jika tidak mendesak, karena harga diperkirakan akan terus naik.
Di sisi lain, produsen chip memori seperti SK Hynix dan Samsung terus berinvestasi besar-besaran untuk menambah kapasitas produksi. Namun, investasi ini membutuhkan waktu untuk menghasilkan output yang signifikan. Sampai saat itu tiba, tekanan pada harga RAM diprediksi akan terus berlanjut.
Peringatan dari CEO SK Hynix ini menjadi pengingat bahwa krisis RAM bukanlah isu sementara. Ini adalah tantangan struktural yang akan membentuk lanskap industri teknologi dalam beberapa tahun ke depan. Konsumen dan pelaku bisnis harus bersiap untuk beradaptasi dengan realitas baru ini.
Telset.id – Peringatan keras kembali datang dari industri memori global. CEO SK Hynix, Kwak Noh-jung, menyebut bahwa tahun 2027 akan menjadi tahun terburuk dalam sejarah industri memori akibat krisis pasokan RAM yang semakin parah.
Dalam wawancara dengan Reuters yang dikutip oleh Android Headline, Kwak Noh-jung menyatakan, “Kami memperkirakan bahwa tahun depan akan menjadi tahun terburuk dalam sejarah industri [memori] dari sisi pasokan.” Pernyataan tegas ini mengindikasikan bahwa harga RAM akan mencapai puncaknya pada 2027, dan tidak ada tanda-tanda perbaikan berarti hingga 2030.
Bahkan setelah 2030, CEO SK Hynix memperingatkan bahwa permintaan akan terus melampaui pasokan. Prediksi ini sejalan dengan pernyataan sebelumnya dari ketua perusahaan induk SK Group. Situasi ini jelas menjadi kabar buruk bagi konsumen dan pelaku industri yang bergantung pada komponen memori.
Ancaman krisis RAM semakin diperkuat oleh analisis dari Bank of America yang disorot oleh Commercial Times di Taiwan. Analisis tersebut meragukan klaim Presiden Korea Selatan tentang ekspansi besar-besaran produksi chip memori negara itu hingga 2030. Seorang insider industri memori di Taiwan bahkan mengklaim bahwa SK Hynix mungkin hanya akan menambah seperenam dari kapasitas produksi yang direncanakan pada 2028.

Jika klaim ini benar, maka potensi kekurangan pasokan sangat besar dan akan menimbulkan kekhawatiran serius. Commercial Times mencatat bahwa meskipun pabrik-pabrik chip baru sedang dibangun oleh SK Hynix dan Samsung di Korea Selatan, pabrik-pabrik tersebut membutuhkan waktu lebih dari satu dekade untuk beroperasi penuh. Laporan tersebut memperkirakan tingkat ekspansi kapasitas wafer memori yang realistis untuk Korea Selatan hanya sekitar 10% per tahun, jauh di bawah klaim presiden.
Peringatan dari CEO SK Hynix ini tentu saja menuai skeptisisme. Beberapa pihak berpendapat bahwa tugas seorang CEO adalah untuk meningkatkan nilai perusahaan, terutama setelah debutnya di Nasdaq. Saham para pembuat chip memori besar memang sedang bergejolak belakangan ini, karena investor mulai khawatir tentang valuasi yang terlalu tinggi dan potensi melambatnya momentum AI.
Namun, prediksi suram ini tidak hanya datang dari SK Hynix. CEO Nvidia, Jensen Huang, juga mengatakan bahwa krisis RAM akan berlangsung “cukup beberapa tahun”, menunjukkan bahwa kita akan terjebak dalam harga tinggi hingga sekitar 2030. Di sisi lain, ada pihak yang optimistis, seperti eksekutif AMD, mantan kepala divisi semikonduktor Samsung, dan firma investasi Jefferies, yang percaya harga RAM akan mulai mereda pada 2028.
Meskipun ada perbedaan pandangan untuk jangka panjang, prospek untuk tahun ini dan tahun depan tetap negatif. Jefferies, misalnya, memprediksi kenaikan harga memori besar-besaran pada sisa tahun ini dan 2027, mendukung pernyataan CEO SK Hynix. Microsoft juga baru-baru ini mengumumkan bahwa mereka memperkirakan biaya RAM akan berlipat ganda pada musim gugur 2027, yang berdampak pada kenaikan harga Xbox.
Baca Juga:

Analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa ekspansi kapasitas produksi yang lambat menjadi faktor utama. Pabrik-pabrik baru membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk dibangun dan dioperasikan, sementara permintaan dari pusat data AI dan perangkat konsumen terus melonjak. Ketidakseimbangan antara pasokan dan permintaan inilah yang menjadi akar dari krisis RAM berkepanjangan.
Krisis RAM ini memiliki dampak luas, tidak hanya pada harga PC dan laptop, tetapi juga pada konsol game, server, dan berbagai perangkat elektronik lainnya. In-Memory Computing menjadi salah satu solusi yang mulai dilirik untuk mengatasi keterbatasan bandwidth memori, meskipun implementasinya masih membutuhkan waktu.
Bagi konsumen, ini berarti harus bersiap menghadapi harga yang lebih tinggi untuk waktu yang lebih lama. Keputusan pembelian perangkat keras, terutama yang membutuhkan RAM dalam jumlah besar, perlu dipertimbangkan dengan matang. Menunda upgrade mungkin menjadi pilihan bijak jika tidak mendesak, karena harga diperkirakan akan terus naik.
Di sisi lain, produsen chip memori seperti SK Hynix dan Samsung terus berinvestasi besar-besaran untuk menambah kapasitas produksi. Namun, investasi ini membutuhkan waktu untuk menghasilkan output yang signifikan. Sampai saat itu tiba, tekanan pada harga RAM diprediksi akan terus berlanjut.
Peringatan dari CEO SK Hynix ini menjadi pengingat bahwa krisis RAM bukanlah isu sementara. Ini adalah tantangan struktural yang akan membentuk lanskap industri teknologi dalam beberapa tahun ke depan. Konsumen dan pelaku bisnis harus bersiap untuk beradaptasi dengan realitas baru ini.





Komentar
Belum ada komentar.