Telset.id – Rencana SpaceX untuk mengakuisisi T-Mobile dinilai berisiko tinggi dan berpotensi merugikan perusahaan roket milik Elon Musk tersebut. Alih-alih memperkuat posisi di pasar telekomunikasi, langkah ini justru bisa menguras keuangan dan membatasi jangkauan bisnis SpaceX.
Menurut analisis dari PhoneArena yang dikutip pada Senin (6/7/2026), meskipun SpaceX dan T-Mobile sudah memiliki kerja sama di bidang direct-to-device (D2D) dan broadband, membeli operator seluler tersebut bukanlah keputusan yang tepat. SpaceX saat ini hanya menguasai 6% dari total spektrum agregat yang dilisensikan FCC, sehingga prospek pertumbuhannya terbatas jika hanya mengandalkan teknologi satelit.
Keterbatasan bandwidth, kapasitas, dan kecepatan jaringan satelit dibandingkan 5G menjadi kendala utama. Layanan akan semakin menurun kualitasnya seiring bertambahnya pengguna. Pelanggan broadband SpaceX yang sebagian besar berasal dari daerah pedesaan diperkirakan akan segera beralih ke operator lain begitu ada opsi yang lebih baik.
Beban Finansial dan Regulasi
SpaceX harus mengeluarkan dana lebih dari USD 180 miliar atau sekitar Rp 2.700 triliun untuk mengakuisisi T-Mobile. Jumlah ini akan membebani keuangan perusahaan dan justru membatasi jangkauan bisnisnya sendiri. Pasalnya, dengan memiliki T-Mobile, SpaceX otomatis menutup pintu kerja sama potensial dengan AT&T dan Verizon yang menguasai dua pertiga pasar mobile.
Kedua operator besar tersebut saat ini memang telah menjalin kesepakatan dengan AST SpaceMobile. Namun, jika AST mengalami kesulitan, mereka kemungkinan akan mencari kerja sama dengan SpaceX setelah masa eksklusivitas dengan T-Mobile berakhir. Dengan membeli T-Mobile, SpaceX justru mengunci dirinya dari akses ke dua pertiga pasar seluler.
Selain itu, akuisisi ini harus melewati berbagai hambatan regulasi yang membutuhkan waktu, uang, dan sumber daya tambahan. Proses persetujuan dari regulator bisa berjalan tidak pasti dan memakan waktu lama.
SpaceX sendiri sudah memiliki terlalu banyak bisnis yang harus dikelola, mulai dari operasi roket, layanan konektivitas Starlink, ambisi kecerdasan buatan, hingga kemungkinan merger dengan Tesla yang juga memproduksi robot. Bahkan ada rumor perusahaan akan membuat ponsel sendiri, seperti yang dibahas dalam artikel Prototipe Ponsel AI.
Alternatif yang Lebih Masuk Akal
SpaceX sebenarnya memiliki opsi yang lebih baik, yaitu tetap menjadi mitra netral bagi berbagai operator seluler. Perusahaan saat ini sudah memiliki 12 juta pelanggan direct-to-device dan tidak membutuhkan T-Mobile untuk mendorong pertumbuhan organik.
SpaceX juga sedang aktif mencari alternatif lain, termasuk kesepakatan dengan Charter untuk memanfaatkan jaringan hotspot Wi-Fi nasionalnya. Namun, analis BNP Paribas mencatat bahwa infrastruktur internet berbasis darat milik Charter akan memperluas jangkauan SpaceX, tetapi masih ada celah cakupan yang tidak bisa diatasi.
Charter mengarahkan sekitar 90% lalu lintas mobile-nya melalui Wi-Fi dan sel Citizens Broadband Radio Service (CBRS), serta menyewa sekitar 70.000 menara Verizon untuk 10% sisanya. Area yang dilayani oleh menara-menara ini merupakan wilayah yang tidak bisa dijangkau oleh satelit, hotspot, atau small cells, namun menyumbang trafik yang substansial.
Seperti yang dikatakan Sam McHugh, analis senior BNP Paribas Equity Research, pada Juni 2026: “Meskipun jaringan hotspot perkotaan dan small cells milik Charter bisa membantu Starlink Mobile mempersempit kesenjangan cakupan struktural yang terkait dengan jaringan satelit direct-to-cell, Charter tidak bisa menawarkan solusi yang sepenuhnya menutup kesenjangan tersebut karena tidak bisa memberikan akses ke jaringan nirkabel Verizon bagi pelanggan Starlink Mobile.”
Kabar mengenai ekspansi bisnis SpaceX ini juga sempat mempengaruhi performa pasar. Seperti yang dilaporkan dalam artikel Ponsel AI SpaceX Gagal, saham perusahaan sempat anjlok hingga 8 persen.
Analis dari The Motley Fool mencatat bahwa merger yang lebih aneh dari ini pernah berhasil dengan baik. Kedua perusahaan sebenarnya tidak sepenuhnya tidak cocok. Namun, pertanyaan besarnya bukan apakah mereka bisa bergabung, melainkan apakah mereka seharusnya melakukannya.
SpaceX kemungkinan akan lebih baik jika tetap menjadi pihak netral dan mempertahankan struktur saat ini sebagai mitra operator, bukan menjadi operator itu sendiri. Pasar seluler sangat kompetitif dan SpaceX sudah memiliki terlalu banyak urusan untuk bereksperimen di dalamnya.
Untuk saat ini, strategi SpaceX masih belum jelas. Yang pasti, perusahaan berencana memasuki pasar terrestrial dalam waktu dekat dan tidak pilih-pilih cara untuk sampai ke sana. Tanpa jaringan penuh, SpaceX memang tidak akan menjadi pesaing mematikan bagi AT&T, T-Mobile, dan Verizon, tetapi tetap akan menjadi ancaman yang patut diperhitungkan.
Keputusan akhir ada di tangan Elon Musk dan tim manajemen SpaceX. Apakah mereka akan mengambil risiko besar dengan mengakuisisi T-Mobile atau memilih jalur yang lebih aman dengan tetap menjadi mitra netral, hanya waktu yang akan menjawab.





Komentar
Belum ada komentar.