📑 Daftar Isi

Ilustrasi menara BTS XL Axiata terdampak pemadaman listrik di Sumatra

Blackout Sumatra Lumpuhkan 8.736 BTS, Internet Terganggu

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • Pemadaman listrik di Sumatra pada 22 Mei 2026 melumpuhkan 8.736 BTS hingga 23 Mei 2026 pukul 12.00 WIB.
  • Jumlah site down sebelumnya mencapai 10.146, menunjukkan pemulihan 1.410 site dalam 12 jam.
  • Gangguan berdampak pada 10 provinsi dan 118 kabupaten/kota, dengan Sumatra Utara sebagai wilayah terdampak terbesar (5.493 site).
  • Komdigi berkoordinasi dengan operator seluler untuk pemulihan, termasuk pengiriman genset dan pengawalan distribusi bahan bakar.
  • Layanan telepon dan internet terganggu di sejumlah wilayah akibat hilangnya pasokan listrik ke BTS.

Telset.id – Pemadaman listrik besar-besaran di Pulau Sumatra pada 22 Mei 2026 melumpuhkan 8.736 menara telekomunikasi (BTS), menyebabkan gangguan signifikan pada layanan internet dan sinyal seluler di sepuluh provinsi. Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) melaporkan data ini hingga 23 Mei 2026 pukul 12.00 WIB, sebagai dampak langsung dari kebijakan pemadaman listrik oleh PLN di sejumlah wilayah Sumatera.

Angka tersebut sebenarnya sudah menunjukkan perbaikan. Sebelumnya, pada 23 Mei pukul 00.00 WIB, jumlah site yang down mencapai 10.146 unit. Artinya, dalam kurun waktu 12 jam, sebanyak 1.410 site berhasil pulih. Meski demikian, dampak dari blackout ini masih sangat terasa bagi jutaan pengguna layanan telekomunikasi di Pulau Sumatra.

Provinsi Terdampak dan Sebaran BTS Lumpuh

Komdigi merinci bahwa gangguan listrik ini berdampak pada layanan seluler di 10 provinsi dan 118 kabupaten/kota. Provinsi yang terdampak meliputi Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Riau, Kepulauan Riau, Jambi, Bengkulu, Sumatra Selatan, Lampung, serta Kepulauan Bangka Belitung.

Sumatra Utara menjadi wilayah dengan jumlah menara telekomunikasi terdampak terbesar, mencapai 5.493 site atau 51,71 persen dari total. Disusul Aceh dengan 1.904 site (48,13 persen), dan Sumatra Barat dengan 565 site (13,95 persen). Konsentrasi gangguan di Sumatra Utara menunjukkan bahwa pusat infrastruktur telekomunikasi di Pulau Sumatra sangat bergantung pada pasokan listrik dari jaringan PLN.

Meski pemulihan terus berjalan, data yang dihimpun Komdigi menunjukkan bahwa masih ada ribuan BTS yang belum beroperasi normal. Hal ini tentu berdampak langsung pada kualitas layanan telepon dan internet yang diterima masyarakat di wilayah terdampak.

Dampak Langsung pada Layanan Telekomunikasi

Komdigi menjelaskan, blackout yang terjadi di Sumatra mengakibatkan sejumlah masalah kritis pada infrastruktur telekomunikasi. Pertama, BTS atau site kehilangan pasokan listrik utama. Kedua, jumlah site yang down meningkat drastis. Ketiga, layanan telepon dan internet terganggu di berbagai wilayah.

“Gangguan listrik ini berdampak pada layanan seluler di 10 provinsi dan 118 kabupaten/kota. Pemulihan jaringan terus dilakukan secara bertahap,” kata Komdigi dalam pernyataan resmi yang dikutip dari akun Instagram Kementerian Komdigi, Senin (25/5/2026).

Untuk mengantisipasi gangguan yang lebih parah, Komdigi berkoordinasi dengan operator seluler untuk memantau langkah pemulihan layanan. Beberapa langkah yang dilakukan antara lain monitoring kondisi jaringan, koordinasi dengan Balai Monitor SFR dan Diskominfo daerah, serta pengawasan proses pemulihan layanan secara ketat.

Upaya Pemulihan oleh Operator Seluler

Komdigi menyebutkan bahwa operator seluler telah mengambil langkah-langkah konkret untuk menjaga agar layanan tetap berjalan. Upaya tersebut meliputi pengiriman genset ke BTS yang terdampak, penyediaan daya cadangan, prioritas pemulihan di site-site penting, serta pengawalan distribusi bahan bakar genset.

“Untuk menjaga layanan tetap berjalan, operator seluler melakukan pengiriman genset BTS terdampak, penyediaan daya cadangan, prioritas pemulihan di site penting, dan pengawalan distribusi bahan bakar genset,” tutur Komdigi.

Langkah ini menjadi krusial mengingat BTS yang berada di lokasi-lokasi strategis seperti pusat pemerintahan, rumah sakit, dan pusat ekonomi harus segera dipulihkan untuk meminimalkan dampak sosial dan ekonomi dari blackout ini.

Data pemulihan akan terus diperbarui secara berkala oleh Komdigi. Masyarakat diimbau untuk bersabar dan memantau informasi resmi dari operator seluler masing-masing mengenai perkembangan pemulihan jaringan di wilayah mereka.

Peristiwa blackout Sumatra ini menjadi pengingat akan pentingnya ketahanan infrastruktur telekomunikasi terhadap gangguan pasokan listrik. Ketergantungan yang tinggi pada listrik PLN membuat infrastruktur BTS rentan saat terjadi pemadaman massal. Ke depannya, mungkin perlu ada evaluasi mengenai penggunaan sumber daya cadangan yang lebih andal, seperti baterai berkapasitas besar atau panel surya, di site-site kritis.

Dengan puluhan juta penduduk Sumatra yang bergantung pada layanan telekomunikasi untuk aktivitas sehari-hari, baik untuk komunikasi pribadi, bisnis, maupun layanan darurat, pemulihan jaringan yang cepat dan efektif menjadi prioritas utama. Koordinasi antara Komdigi, PLN, dan operator seluler akan menjadi kunci untuk memastikan gangguan serupa tidak berlarut-larut di masa mendatang.

Komentar

Belum ada komentar.