Indonesia Butuh 9 Juta Talenta Digital, vivo Buka Akses Pendidikan Teknologi

Indonesia Butuh 9 Juta Talenta Digital, vivo Buka Akses Pendidikan Teknologi

Penulis:Fernando Yehezkiel
Terbit:
Diperbarui:
⏱️5 menit membaca
Bagikan:

Telset.id – Bayangkan ini: Indonesia diprediksi membutuhkan sekitar 9 juta talenta digital pada tahun 2030. Angka itu bukan sekadar wacana, melainkan kebutuhan nyata di tengah percepatan transformasi digital yang melanda hampir semua sektor. Namun, realitas di lapangan masih timpang. Saat ini, jumlah talenta digital yang tersedia baru berkisar 6 juta orang. Artinya, masih ada celah besar yang harus diisi. Di sisi lain, angka pengangguran lulusan vokasi, termasuk SMK, masih tinggi akibat ketimpangan antara keterampilan yang dimiliki dan kebutuhan industri.

Lantas, siapa yang bergerak menjembatani jurang ini? vivo Indonesia, melalui program vivo NexGen Scholars, mengambil peran dengan membuka akses pendidikan tinggi di bidang sains dan teknologi. Inisiatif ini bukan sekadar seremoni belaka. Sejak 2025, vivo telah menggandeng Hoshizora Foundation dan Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS) untuk memberikan 60 beasiswa penuh bagi mahasiswa terpilih melalui jalur SNBP dan SNBT. Sebuah langkah konkret yang patut diapresiasi.

“Kami melihat pentingnya memastikan bahwa generasi muda tidak hanya memiliki akses terhadap pendidikan, tetapi juga kesempatan untuk mengembangkan keterampilan yang relevan dengan kebutuhan industri,” ujar Arga Simanjuntak, Public Relations Director vivo Indonesia. Momentum Hari Pendidikan Nasional, menurutnya, menjadi pengingat untuk terus memperkuat komitmen tersebut.

Program ini hadir di saat yang tepat. Pemerintah sendiri terus mendorong pengembangan ekosistem digital, termasuk melalui berbagai inisiatif seperti Kemitraan Canva Komdigi yang bertujuan menggenjot jumlah talenta digital dan menyebarkan ribuan akun pro. Semua ini menunjukkan bahwa kebutuhan akan sumber daya manusia yang melek teknologi bukan lagi pilihan, melainkan keharusan.

### Kisah di Balik Beasiswa: Lebih dari Sekadar Biaya Kuliah

Setiap program beasiswa pasti memiliki cerita. Tapi yang membuat vivo NexGen Scholars menarik adalah bagaimana program ini mampu mengubah lintasan hidup para penerimanya. Bukan cuma soal uang kuliah, melainkan tentang membuka pintu menuju masa depan yang sebelumnya terasa mustahil.

Ambil contoh Evan Eka Kurniawan dari Banyuwangi. Ia tumbuh dalam keluarga dengan keterbatasan ekonomi, di mana sang ibu menjadi tulang punggung sebagai pedagang kopi eceran. Kini, Evan menjadi salah satu mahasiswa dengan IPK tertinggi di program ini, mencapai 3,9. Ia aktif mengembangkan aplikasi dan game, serta berpartisipasi dalam berbagai lomba kompetensi. “Beasiswa ini membuat saya bisa lebih fokus belajar dan mengembangkan kemampuan. Saya ingin suatu hari bisa membangun game yang tidak hanya menghibur, tapi juga membawa dampak positif,” katanya.

Cerita serupa datang dari Zahra Adientya Putri, mahasiswi Teknologi Game asal Tulungagung. Di tengah keterbatasan ekonomi keluarganya, ia tetap aktif di komunitas dan proyek game. “Program ini membantu saya untuk tetap bisa kuliah tanpa membebani orang tua. Saya ingin memanfaatkan kesempatan ini untuk terus belajar dan berkembang,” ungkapnya.

Lalu ada Izzal Maula Al Faqiih dari Balikpapan. Ia harus menghadapi kehilangan sang ibu dan beradaptasi sebagai mahasiswa perantau di lingkungan baru. Kini, ia menempuh pendidikan di bidang Teknik Informatika dan aktif mengembangkan minat di bidang teknologi. “Saya ingin memanfaatkan kesempatan ini untuk berkembang dan membuka peluang yang lebih besar ke depan,” ujarnya.

Yang tak kalah menarik adalah kisah Ubayy Tsany Galiadupda. Ia sempat gagal dalam pengembangan proyek berbasis machine learning. Namun, kegagalan itu justru menjadi batu loncatan. Ia berhasil mengembangkan chatbot berbasis AI yang kini dimanfaatkan oleh pelaku UMKM. Sebuah bukti bahwa proses belajar tidak selalu linier.

Dan jangan lupakan Arkan Maulana Rizki dari Kalimantan Tengah. Ia pernah mengalami perundungan dalam waktu yang lama sejak masa sekolah. Pengalaman pahit itu justru membentuk motivasinya untuk terus belajar dan berprestasi. Kini, ia menempuh pendidikan di bidang Teknik Elektronika dan bercita-cita membangun usaha di bidang teknologi energi yang bermanfaat bagi masyarakat di daerahnya. “Saya ingin suatu hari bisa membangun sesuatu yang bermanfaat, tidak hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk orang lain,” ujarnya.

Kisah-kisah ini bukan sekadar catatan inspiratif. Mereka adalah bukti bahwa akses pendidikan yang tepat bisa menjadi katalis perubahan. Dan ini sejalan dengan temuan bahwa Talenta Digital Diklaim Kunci Tersembunyi di balik target pertumbuhan ekonomi Indonesia.

### Enam Bidang Strategis yang Jadi Fokus

Program vivo NexGen Scholars tidak asal memilih jurusan. Ada enam bidang strategis yang menjadi fokus, semuanya relevan dengan kebutuhan industri saat ini: Teknik Informatika, Sains Data Terapan, Teknik Elektronika, Teknik Telekomunikasi, Teknik Elektro Industri, dan Teknologi Game.

Mengapa bidang-bidang ini? Karena industri teknologi digital terus berkembang, dan kebutuhan akan talenta di sektor ini semakin mendesak. Bayangkan, dari data yang ada, rata-rata IPK mahasiswa di semester awal mencapai 3,41, dengan nilai tertinggi hingga 3,9. Mereka juga aktif di berbagai kegiatan luar perkuliahan, seperti organisasi, kompetisi, dan komunitas.

Yudi Anwar, Executive Director Hoshizora Foundation, menegaskan bahwa program ini sejalan dengan misi mereka untuk menginspirasi setiap anak menemukan mimpi dan meraihnya melalui pendidikan. “Dari sisi akademik, rata-rata IPK mahasiswa di semester awal mencapai 3,41, dengan nilai tertinggi hingga 3,9. Mereka juga aktif dalam berbagai kegiatan di luar perkuliahan,” jelasnya.

Ia juga menambahkan bahwa bidang studi para penerima beasiswa sangat berkaitan dengan kebutuhan industri. “Kebutuhan industri di bidang teknologi digital terus meningkat. Jurusan para penerima beasiswa seperti Teknik Informatika, Elektronika, hingga Teknologi Game sangat berkaitan dengan kebutuhan tersebut. Ini menjadi sinyal awal yang positif bahwa program ini dapat mendukung kesiapan talenta muda untuk terjun ke dunia kerja,” ujarnya.

Inisiatif ini juga menjadi bagian dari ekosistem yang lebih besar. Banyak perusahaan teknologi lain yang turut berkontribusi, seperti Gojek Kembangkan Talenta Digital Lokal untuk ekosistem digital Indonesia, atau Telkomsel Gelar IndonesiaNEXT Season 7 untuk mencari talenta digital berkualitas. Semua ini menunjukkan bahwa kolaborasi lintas sektor menjadi kunci.

### Langkah Kecil, Dampak Besar

Program seperti vivo NexGen Scholars mungkin terlihat seperti setetes air di lautan. Tapi jangan salah, dampaknya bisa sangat signifikan. Bagi para penerima beasiswa, program ini bukan sekadar tentang pendidikan. Ini tentang perjalanan untuk bertumbuh, beradaptasi, dan mempersiapkan diri mengambil peran di masa depan.

Di tengah kebutuhan talenta teknologi yang terus meningkat, inisiatif seperti ini menjadi salah satu upaya untuk memperluas akses sekaligus mendorong kesiapan generasi muda. Ini bukan soal angka 9 juta atau 6 juta. Ini tentang memastikan bahwa setiap anak Indonesia, dari Banyuwangi hingga Kalimantan Tengah, memiliki kesempatan yang sama untuk meraih mimpi mereka.

Seperti kata pepatah, perjalanan seribu mil dimulai dari satu langkah. Dan langkah kecil yang diambil vivo, Hoshizora Foundation, dan PENS ini, semoga bisa menjadi inspirasi bagi banyak pihak untuk turut serta membangun masa depan Indonesia yang lebih cerah. Karena pada akhirnya, talenta digital bukan hanya soal kemampuan teknis, melainkan juga tentang semangat untuk terus belajar dan berkontribusi.