Telset.id – PT ITSEC Asia Tbk (IDX: CYBR) bersama Asosiasi Digitalisasi dan Keamanan Siber Indonesia (ADIGSI) menggelar Roadshow Gerakan Nasional Ketahanan Siber (GNKS) di Makassar pada Kamis, 25 Juni 2026. Langkah ini menjadi upaya strategis untuk memperkuat kesiapan organisasi di Indonesia Timur dalam menghadapi krisis keamanan siber yang kian meningkat.
Kegiatan yang berlangsung di Hotel Novotel Makassar Grand Shayla ini menghadirkan Executive Tabletop Exercise. Program ini dirancang khusus untuk membantu para pengambil keputusan memahami proses penanganan insiden siber secara langsung. GNKS merupakan inisiatif tahunan yang dijalankan sepanjang 2026, dan sebelumnya telah sukses digelar di Banten pada 30 April 2026 lalu.
Meningkatnya serangan siber di Indonesia menjadi latar belakang utama kegiatan ini. Sepanjang tahun 2025, Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) mencatat lebih dari 5,16 miliar anomali trafik. Angka ini menunjukkan indikasi aktivitas siber yang memerlukan perhatian lebih serius dari berbagai pihak. Kondisi tersebut menegaskan bahwa kemampuan merespons insiden sama pentingnya dengan upaya pencegahan.
Berbeda dengan seminar biasa, Executive Tabletop Exercise membagi peserta ke dalam beberapa kelompok. Mereka menjalani lima tahapan simulasi, mulai dari memahami konteks ancaman, menyusun mitigasi, melakukan simulasi krisis, mempresentasikan keputusan, hingga evaluasi dan refleksi bersama. Pendekatan ini membantu peserta memahami bagaimana sebuah insiden berkembang dan bagaimana respons yang tepat perlu dilakukan.
President Director ITSEC Asia Patrick Dannacher menekankan bahwa ancaman siber saat ini telah menjadi perhatian di tingkat manajemen. “Ketika sebuah insiden terjadi, dampaknya bisa meluas ke operasional bisnis, layanan kepada pelanggan, hingga reputasi organisasi. Karena itu, kesiapan menghadapi krisis siber tidak bisa hanya menjadi tanggung jawab tim IT saja. Para pengambil keputusan juga perlu memahami bagaimana merespons situasi tersebut dengan cepat dan tepat,” ujar Patrick.
Menurutnya, kemampuan merespons insiden sama pentingnya dengan kemampuan untuk mencegahnya. “Kami ingin peserta pulang dengan sesuatu yang dapat langsung digunakan. Karena itu, GNKS tidak hanya membahas ancaman, tetapi juga membantu organisasi memetakan risiko, menyusun desain pengamanan, dan meningkatkan kemampuan pengambilan keputusan ketika menghadapi insiden. Tujuannya sederhana, yaitu membantu organisasi menjadi lebih siap,” katanya.
Selain simulasi, peserta juga memperoleh tiga output yang dapat diterapkan di organisasi masing-masing. Pertama, Security Flow atau matriks risiko untuk memetakan prioritas pengamanan berdasarkan tingkat dampak dan probabilitas insiden. Kedua, Security Design Concept yang memberikan gambaran penerapan keamanan pada alur data, batas kepercayaan, serta mekanisme autentikasi. Ketiga, Security Skills Assessment & Recognition untuk mengukur peningkatan kompetensi peserta.
Deputi Keamanan Siber dan Sandi Perekonomian BSSN, Slamet Aji Pamungkas, mengatakan bahwa penguatan kapasitas menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan ekonomi digital nasional. “Pemanfaatan teknologi digital yang semakin luas perlu diimbangi dengan peningkatan kemampuan dalam menghadapi berbagai risiko siber. Upaya ini membutuhkan keterlibatan seluruh pemangku kepentingan agar ruang digital Indonesia dapat tumbuh secara sehat, aman, dan terpercaya,” kata Slamet.
Ketua Umum ADIGSI, Firlie Ganinduto, menambahkan bahwa peningkatan kesadaran mengenai keamanan siber perlu menjangkau lebih banyak daerah dan sektor industri. “Banyak organisasi sudah menyadari pentingnya keamanan siber, namun tantangan berikutnya adalah bagaimana menerjemahkan kesadaran tersebut menjadi tindakan nyata. Melalui GNKS, kami ingin menghadirkan forum yang praktis sehingga para peserta dapat saling belajar dan membawa hasil yang bisa diterapkan di organisasi masing-masing,” ujar Firlie.
Menurutnya, Makassar memiliki posisi strategis sebagai pusat pertumbuhan ekonomi di kawasan timur Indonesia. Hal ini menjadikan kota tersebut lokasi yang tepat untuk memperluas gerakan ketahanan siber. Indonesia Jadi Target utama serangan siber di Asia Tenggara, sehingga inisiatif seperti GNKS menjadi semakin krusial.
Baca Juga:
Gerakan Nasional Ketahanan Siber merupakan inisiatif yang dijalankan ITSEC Asia bersama ADIGSI sepanjang tahun 2026. Setelah Banten dan Makassar, rangkaian kegiatan ini akan berlanjut ke Pontianak, Bali, Yogyakarta, dan Medan. Hal ini menunjukkan komitmen untuk memperluas jangkauan edukasi keamanan siber ke berbagai wilayah Indonesia.
Patrick Dannacher menutup dengan harapan agar semakin banyak organisasi yang terlibat. “Kami berharap semakin banyak organisasi yang terlibat dalam gerakan ini. Ketahanan siber pada akhirnya merupakan kepentingan bersama yang akan mendukung tingkat kepercayaan terhadap ekonomi digital Indonesia,” tutup Patrick.
ITSEC Asia merupakan perusahaan keamanan siber dan AI terdepan di Indonesia. Perusahaan ini menghadirkan perlindungan data end-to-end bagi perusahaan dan individu. Dengan lebih dari 400 ahli yang tersebar di Indonesia, Singapura, Australia, Mauritius, dan Dubai, ITSEC Asia menyediakan solusi keamanan siber menyeluruh. Perusahaan ini juga telah terverifikasi oleh BSSN serta memiliki sertifikasi internasional seperti ISO 27001, ISO 9001, dan ISO 14001.
Salah satu inovasi unggulan ITSEC Asia adalah IntelliBroń, platform yang dikembangkan secara lokal untuk mengidentifikasi, menganalisis, dan merespons insiden siber secara real-time. Platform ini mencerminkan komitmen ITSEC Asia dalam mempercepat transformasi digital yang aman dan adaptif.
Meningkatnya ancaman siber membuat inisiatif seperti GNKS menjadi sangat relevan. Kemenekraf Perkuat Keamanan siber dengan startup lokal, menunjukkan bahwa kolaborasi antar pemangku kepentingan menjadi kunci dalam menghadapi tantangan ini. UMKM Indonesia Butuh perlindungan ekstra menghadapi serangan siber AI, sehingga edukasi dan simulasi seperti yang dilakukan GNKS menjadi semakin penting.





Komentar
Belum ada komentar.