📑 Daftar Isi

Nezar Patria Ungkap 3 Aspek Wujudkan AI Driven Security di Indonesia

Nezar Patria Ungkap 3 Aspek Wujudkan AI Driven Security di Indonesia

Penulis:Fernando Yehezkiel
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:

Telset.id – Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria mengungkapkan tiga aspek penting untuk mewujudkan AI driven security atau sistem keamanan siber berbasis AI di Indonesia. Ketiga aspek tersebut mencakup regulasi yang adaptif, pertukaran informasi antara industri dan lembaga nasional, serta pembangunan talenta digital yang andal.

Dalam acara Kaspersky Academy Partners Summit 2026 di Jakarta, Rabu (19/8/2026), Nezar menekankan bahwa ketiga aspek tersebut harus dikerjakan secara kolaboratif. Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri, melainkan perlu melibatkan akademisi, industri, hingga komunitas masyarakat untuk mewujudkan ekosistem AI driven security yang kuat di Indonesia.

“Pertama kita perlu memerlukan proses yang berkelanjutan dan kolaboratif di mana pemerintah, industri, akademisi, dan pemangku kepentingan lainnya secara aktif bersama-sama melakukan penyesuaian regulasi,” kata Nezar.

Menurut Nezar, dalam menghadirkan regulasi terkait keamanan siber, pemerintah secara aktif telah membuka ruang bagi para pemangku kepentingan terkait untuk terlibat di dalamnya. Hal ini juga diterapkan dalam pembentukan aturan yang kini sedang berjalan, seperti peraturan pelaksana untuk Undang-Undang Pelindungan Data Pribadi (PDP) dan rancangan Undang-Undang Keamanan dan Ketahanan Siber (RUU KKS).

“Kami mengundang para pemangku kepentingan untuk berbagi pengalaman di lapangan, bukti, dan keahlian mereka agar kerangka regulasi kami tetap praktis, adaptif, dan didasarkan pada risiko nyata di lapangan,” jelas Nezar.

Pertukaran Informasi dan Solusi AI untuk Deteksi Serangan

Aspek kedua yang harus dilakukan ialah pertukaran informasi yang rutin antara industri dengan lembaga-lembaga nasional sebagai mitra. Hal ini terutama penting dalam membahas solusi AI yang dapat membantu mendeteksi serangan siber. Menurut Nezar, selain perlunya komunikasi untuk memahami pola serangan siber, industri dan lembaga nasional juga perlu membangun solusi seperti AI yang dapat mendeteksi maupun mencegah serangan siber.

Solusi tersebut diharapkan tidak hanya berguna untuk bisnis-bisnis skala besar saja, tetapi juga bisa menjangkau penggunaan di masyarakat awam untuk kegiatan sehari-hari. “Seperti layanan menyaring panggilan telepon, layanan pemeriksaan identitas palsu, dan layanan sistem verifikasi pemerintah yang dapat digunakan secara nasional,” kata Nezar mencontohkan jenis-jenis solusi AI yang dapat dikembangkan untuk menciptakan AI driven security.

Perkembangan ini sejalan dengan upaya berbagai pihak dalam meningkatkan keamanan siber di Indonesia. Sebelumnya, IBM juga mengklaim bahwa teknologi generatif AI bisa meningkatkan keamanan siber di Indonesia, menunjukkan bahwa adopsi AI dalam bidang keamanan semakin mendapat perhatian serius dari berbagai pemangku kepentingan.

Talenta Digital sebagai Faktor Kunci

Aspek ketiga yang perlu disiapkan melalui kolaborasi pemerintah dengan para pemangku kepentingan terkait adalah dari sisi penciptaan talenta digital. Wamenkomdigi mengatakan sumber daya manusia menjadi faktor paling penting dalam mewujudkan AI driven security karena mereka tidak hanya menciptakan solusi, tetapi juga membuat tata kelola hingga memastikan solusi tersebut bekerja dengan optimal.

Maka dari itu, ia mengajak universitas-universitas di Indonesia serta mitra-mitra industri untuk mengambil bagian dalam menumbuhkan talenta digital di bidang keamanan siber, terutama untuk mengisi posisi-posisi strategis. Tidak hanya untuk menjadi profesional di industri, kolaborasi ini juga diharapkan bisa menjangkau masyarakat awam yang rentan terhadap serangan siber dalam kehidupan sehari-hari.

“Saya juga mengajak komunitas masyarakat dan industri untuk memperluas jangkauan literasi digital khususnya pada masyarakat rentan seperti para pengguna internet pemula, kalangan pensiunan, hingga pemilik bisnis kecil. Mereka sangatlah rentan untuk menjadi korban dari kejahatan siber,” kata Nezar.

Hal ini menjadi perhatian penting mengingat tingkat keamanan digital di Indonesia masih perlu ditingkatkan. Berdasarkan indeks literasi digital nasional, meskipun terjadi kenaikan tipis, aspek keamanan digital masih menjadi titik lemah yang perlu perhatian serius dari semua pihak.

AI driven security menjadi relevan di era saat ini berkaca dari perkembangan AI yang sangat masif dan mengambil peranan penting dalam keamanan siber. Hal ini sejalan dengan laporan Global Cybersecurity Outlook 2026 dari World Economic Forum yang melaporkan bahwa banyak pemimpin bisnis menilai AI sebagai faktor pendorong perubahan yang paling signifikan dalam bidang keamanan siber.

Laporan tersebut menyebut 9 dari 10 pemimpin mengidentifikasi AI berpengaruh pada kerentanan keamanan siber. Kondisi ini juga tercermin dari survei yang menunjukkan bahwa mayoritas perusahaan di Indonesia merasa telah memiliki sistem keamanan yang baik, meskipun realita di lapangan menunjukkan masih banyak tantangan yang harus dihadapi.

Dengan membangun kesadaran mengenai keamanan siber pada masyarakat awam, hal ini diharapkan bisa mempercepat tumbuhnya inovasi AI driven security di Indonesia. Penting bagi suatu negara untuk dapat mendukung terciptanya AI driven security agar di masa mendatang teknologi hadir untuk memberi keamanan dan bukan menjadi kerentanan baru.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.