📑 Daftar Isi

Pulau Maratua, salah satu wilayah pelosok Indonesia yang menjadi fokus pemerataan internet

Pemerintah Kejar Kualitas Internet Wilayah 3T

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️2 menit membaca
Bagikan:
  • Pemerintah melalui BAKTI Komdigi mengubah strategi pembangunan internet di wilayah 3T, dari sekadar 'ada sinyal' menjadi koneksi berkualitas.
  • Direktur Utama BAKTI, Fadhilah Mathar, menyatakan standar kecepatan internet dinaikkan dari 2 Mbps menjadi minimal 6-8 Mbps per titik akses.
  • BAKTI telah mengaktifkan Wi-Fi gratis di 31.863 lokasi publik dan membangun 6.747 menara BTS 4G di wilayah non-komersial.
  • Kendala utama seperti kurangnya kapasitas satelit di Papua mulai teratasi dengan peluncuran satelit Satria-1 pada awal 2024.
  • Target utama adalah konektivitas 100% di permukiman, lalu diperluas ke cakupan geografis tanpa putus sinyal hingga 2029.

Telset.id – Pemerintah melalui Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) menegaskan perubahan strategi dalam pemerataan infrastruktur digital. Kini, menghadirkan akses internet di wilayah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T) tidak lagi sekadar ‘yang penting ada sinyal’, namun harus memastikan kualitas dan kecepatan yang mumpuni.

Direktur Utama BAKTI Komdigi, Fadhilah Mathar, memaparkan adanya evolusi kebijakan pembangunan konektivitas antara era pemerintahan sebelumnya dengan yang sekarang. “Waktu Nawa Cita dulu, Bapak Presiden Jokowi menyampaikan bahwa yang penting akses masuk terlebih dahulu. Namun saat ini, melalui Asta Cita, Bapak Presiden Prabowo menyampaikan visi yang lebih progresif, bukan hanya sekadar ada akses, tapi tidak boleh ada sinyal yang lemah,” tegas Fadhilah.

Untuk merealisasikan target tersebut, sejak tahun 2024 BAKTI tidak lagi sekadar membangun titik akses baru, tetapi juga fokus meningkatkan kapasitas pada infrastruktur yang sudah ada di berbagai pelosok. Fadhilah merinci bahwa standar kecepatan internet di wilayah layanan BAKTI telah dinaikkan. “Yang awalnya 1 titik akses kami itu berkapasitas 2 Mbps, sekarang minimal sudah di angka 6 hingga 8 Mbps,” jelasnya.

Data Capaian Infrastruktur BAKTI

Secara nasional, BAKTI telah mengaktifkan akses internet gratis (Wi-Fi) di 31.863 lokasi layanan publik seperti sekolah, fasilitas kesehatan, dan kantor desa. Selain itu, sebanyak 6.747 menara BTS 4G telah dibangun, secara khusus melayani wilayah-wilayah yang tidak memiliki kelayakan komersial bagi pihak swasta atau operator seluler.

Pulau Maratua

Mengejar kualitas internet di wilayah 3T tentu bukan tanpa rintangan. Fadhilah mengungkapkan bahwa di masa lalu, kendala terbesar bukan sekadar anggaran, melainkan infrastruktur pendukungnya. Contohnya di Papua, di mana BAKTI siap membangun namun terbentur oleh ketiadaan kapasitas satelit. Rintangan ini belakangan berhasil diurai setelah pemerintah Indonesia meluncurkan satelit Satria-1 pada awal 2024.

Target Konektivitas Masa Depan

Prioritas utama BAKTI adalah menuntaskan 100% konektivitas di seluruh wilayah permukiman. Fase berikutnya, yakni pada periode 2020 hingga 2029, pemerintah akan menargetkan cakupan geografis. “Geografis artinya di mana pun kita lewat — di jalan, di gunung, di hutan, bahkan di laut — sinyal itu tidak akan terputus,” sebut Fadhilah.

Dengan pergeseran fokus dari sekadar kuantitas akses menjadi kualitas konektivitas, pemerintah berharap inklusi digital dapat dirasakan secara adil, yang pada akhirnya akan mendongkrak roda ekonomi digital di ujung-ujung negeri.

Langkah BAKTI ini menjadi krusial di tengah meningkatnya kebutuhan akan akses internet yang andal. Peningkatan kapasitas hingga 6-8 Mbps per titik akses diharapkan mampu mendukung aktivitas digital masyarakat di wilayah 3T, mulai dari pendidikan jarak jauh hingga layanan kesehatan berbasis digital. Kehadiran satelit Satria-1 menjadi salah satu faktor penting yang memungkinkan akselerasi ini.

Komentar

Belum ada komentar.