Telset.id – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang hampir menyentuh level Rp 17.800/US$ menjadi perhatian serius di sektor telekomunikasi. Indosat Ooredoo Hutchison memastikan fluktuasi kurs ini masih dapat dikelola dengan baik dan belum mengganggu stabilitas bisnis perusahaan.
Direktur dan Chief Financial Officer Indosat, Nicky Lee, menyatakan bahwa perusahaan terus mencermati dinamika makroekonomi sebagai bagian dari strategi pengelolaan bisnis yang berkelanjutan. Hal ini menjadi krusial mengingat industri telekomunikasi memiliki ketergantungan tinggi pada perangkat dan teknologi impor yang berbasis mata uang asing.
“Sebagai langkah pengelolaan risiko, kewajiban keuangan perusahaan sebagian besar didenominasikan dalam mata uang rupiah,” ujar Nicky Lee kepada detikINET, Rabu (27/5/2026).
Strategi Hedging dan Pengelolaan Risiko
Indosat mengungkapkan memiliki kemampuan untuk melakukan lindung nilai atau hedging valuta asing sesuai kebutuhan guna mengantisipasi gejolak nilai tukar. Strategi ini dinilai penting di tengah penguatan dolar AS yang berpotensi meningkatkan biaya operasional, terutama untuk pengadaan perangkat jaringan, infrastruktur, hingga kebutuhan teknologi.
Meski demikian, Indosat menegaskan kondisi nilai tukar saat ini belum mempengaruhi komitmen perusahaan dalam menjaga kualitas layanan bagi pelanggan. “Fluktuasi nilai tukar hingga saat ini dapat kami kelola dengan baik,” kata Nicky.
Perusahaan tetap fokus menghadirkan layanan dan pengalaman terbaik bagi pelanggan sebagai bagian dari dukungan terhadap konektivitas nasional dan pertumbuhan ekonomi digital Indonesia.

Dampak Pelemahan Rupiah ke Sektor Telekomunikasi
Industri telekomunikasi termasuk sektor yang cukup sensitif terhadap pergerakan kurs dolar AS. Kebutuhan investasi jaringan dan teknologi masih banyak menggunakan komponen berbasis mata uang asing, sehingga fluktuasi kurs dapat berdampak langsung pada biaya operasional.
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS hampir menyentuh level Rp 17.800/US$. Pada penutupan perdagangan Selasa (26/5/2026), dolar AS menguat 0,29% (52 poin) atau berada di level Rp 17.795. Pelemahan ini menjadi tantangan tersendiri bagi operator seluler yang harus menjaga keseimbangan antara investasi infrastruktur dan efisiensi biaya.
Baca Juga:
Respons Pemerintah Terhadap Pelemahan Rupiah
Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menilai anjloknya nilai tukar rupiah tidak masuk akal. Sebab, fundamental ekonomi Indonesia dinilai bagus. “Kan ekonomi bagus, ini terjadi ketika fundamentalnya bagus. Ini nggak masuk akal sebenarnya. Biasanya melemah kalau ada gangguan di fundamental,” ujar Purbaya saat ditemui di kantor Direktorat Jenderal Pajak (DJP), Jakarta Selatan, Rabu (27/5/2026).
Kendati rupiah melemah, Purbaya menyebut imbal hasil (yield) di pasar obligasi Indonesia mengalami penurunan. Hal ini tak lepas dari aksi pemerintah melakukan intervensi di pasar Surat Berharga Negara (SBN) treasury operation demi menjaga stabilitas nilai tukar.
Indosat menegaskan akan tetap fokus menghadirkan layanan terbaik bagi pelanggan di tengah tekanan nilai tukar. Strategi pengelolaan risiko yang matang menjadi kunci perusahaan untuk tetap kompetitif dan berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi digital Indonesia.





Komentar
Belum ada komentar.