Pernahkah Anda menggulir beranda media sosial dan tiba-tiba menemukan sosok terkenal seperti Elon Musk atau penyiar berita ternama sedang mempromosikan skema investasi yang terdengar terlalu muluk? Atau mungkin Anda melihat selebriti favorit “menjual” obat ajaib untuk penyakit kronis? Jika ya, Anda tidak sendirian. Fenomena ini bukan sekadar gangguan visual, melainkan taktik manipulatif canggih yang memanfaatkan teknologi deepfake untuk menguras dompet pengguna.
Menyadari ancaman yang kian mengganas ini, Meta akhirnya mengambil langkah agresif. Raksasa teknologi di balik Facebook dan Instagram ini secara resmi mengajukan gugatan hukum terhadap individu dan kelompok di balik tiga operasi penipuan besar. Entitas-entitas ini dituduh menggunakan gambar dan teknologi deepfake selebriti untuk memancing pengguna masuk ke situs web penipuan. Langkah ini menandai babak baru dalam pertempuran Meta melawan penyalahgunaan platform mereka yang selama ini meresahkan.
Menurut laporan resmi perusahaan, para pelaku yang digugat berbasis di China dan Brazil. Mereka menargetkan korban di Amerika Serikat, Jepang, dan berbagai negara lainnya. Modus operandinya beragam, mulai dari skema investasi bodong hingga penjualan produk kesehatan palsu. Tindakan hukum ini menjadi sinyal kuat bahwa Meta tidak lagi hanya mengandalkan algoritma moderasi, tetapi mulai mengejar para pelaku hingga ke meja hijau demi menjaga integritas platformnya.
Jaringan Penipuan Lintas Negara
Dalam gugatannya, Meta merinci bagaimana operasi ini dijalankan secara sistematis. Di Brazil, perusahaan menggugat beberapa individu yang mempromosikan produk kesehatan palsu atau tak berizin. Tidak hanya menjual produk fisik, para pelaku ini juga menawarkan kursus daring yang mempromosikan barang-barang ilegal tersebut. Ini adalah ekosistem penipuan yang dirancang untuk terlihat meyakinkan di mata pengguna awam.
Sementara itu, entitas yang berbasis di China dituduh menggunakan iklan yang menampilkan selebriti sebagai bagian dari skema penipuan yang lebih besar. Iklan-iklan ini memikat orang untuk bergabung dengan apa yang disebut sebagai “kelompok investasi.” Meskipun Meta tidak merinci berapa banyak iklan yang telah dijalankan atau berapa lama operasi ini berlangsung, skala target geografisnya menunjukkan bahwa ini adalah operasi yang terorganisir dengan rapi. Langkah hukum ini diambil di tengah tekanan regulasi, di mana gugatan FTC juga sedang membayangi raksasa teknologi tersebut.
Jebakan “Celeb Bait” dan Deepfake
Istilah “celeb bait” atau umpan selebriti telah menjadi isu menahun bagi Meta. Engadget sebelumnya mendokumentasikan bagaimana penipu kerap menggunakan wajah Elon Musk atau kepribadian dari Fox News untuk menjajakan “obat palsu” bagi penderita diabetes. Dewan Pengawas Meta (Oversight Board) bahkan sempat mengkritik perusahaan karena dinilai kurang maksimal dalam memerangi penipuan semacam ini. Kritikan ini senada dengan isu perlindungan pengguna lainnya, seperti kasus chatbot liar yang sempat menjadi sorotan.
Dalam pembaruan terbarunya, Meta mengakui tantangan berat dalam mendeteksi iklan ini. “Karena iklan penipuan dirancang agar terlihat nyata, mereka tidak selalu mudah dideteksi,” ungkap perwakilan Meta. Untuk menanggulangi hal ini, perusahaan telah mendaftarkan lebih dari 500.000 selebriti dan tokoh publik ke dalam sistem pengenalan wajah mereka. Sistem ini dirancang untuk secara otomatis mendeteksi iklan penipuan yang menyalahgunakan wajah orang-orang terkenal tersebut.
Baca Juga:
Dilema Pendapatan dan Teknologi Cloaking
Penanganan Meta terhadap pengiklan nakal mendapat sorotan tajam dalam beberapa bulan terakhir. Sebuah laporan dari Reuters menyebutkan bahwa peneliti di internal perusahaan pernah memperkirakan hingga 10 persen pendapatan iklan Meta mungkin berasal dari penipuan dan produk terlarang. Fakta bahwa Meta meraup miliaran dolar dari pengiklan bermasalah ini memicu spekulasi bahwa perusahaan lambat bertindak karena konflik kepentingan finansial. Hal ini mengingatkan pada dokumen internal masa lalu yang mengungkap lambannya respons perusahaan, seperti yang terlihat dalam kasus email 2018 bocor.
Selain faktor finansial, aspek teknis juga menjadi kendala. Meta menyatakan telah meningkatkan kemampuannya mendeteksi iklan penipuan yang menggunakan teknik “cloaking” atau penyelubungan. Teknik ini memungkinkan penipu untuk menyembunyikan konten asli situs tujuan mereka dari sistem tinjauan internal Meta, namun menampilkannya kepada pengguna biasa. Ini adalah permainan kucing-kucingan teknologi yang terus berkembang.
Barang Mewah Palsu dan Jasa Pemulihan Akun
Gugatan Meta tidak berhenti pada deepfake selebriti. Perusahaan juga menggugat pengiklan berbasis di Vietnam yang menggunakan iklan penipuan untuk menjual barang-barang dari merek terkenal dengan diskon besar-besaran, termasuk merek Longchamp. Modus ini sering kali menjebak konsumen yang tergiur harga murah untuk barang yang sebenarnya palsu atau tidak pernah dikirim.
Selain itu, Meta mengambil tindakan hukum terhadap delapan mantan “Mitra Bisnis Meta.” Kelompok ini mempromosikan layanan yang mengklaim bisa memulihkan akun yang diblokir atau layanan “un-ban.” Meta menegaskan akan mempertimbangkan tindakan hukum tambahan, termasuk litigasi lebih lanjut, jika para pelaku ini tidak mematuhi perintah penghentian (cease and desist). Ketegasan ini penting, mengingat Meta juga sedang menghadapi tekanan hukum lain terkait teknologi, seperti sengketa paten kacamata pintar.
Langkah hukum beruntun ini menunjukkan bahwa Meta mulai serius membersihkan platformnya dari parasit digital. Meskipun skeptisisme publik tetap ada mengingat besarnya pendapatan iklan dari sektor abu-abu ini, upaya menyeret pelaku ke pengadilan setidaknya memberikan efek jera yang lebih nyata dibandingkan sekadar pemblokiran akun.

