📑 Daftar Isi

Wamenkomdigi Minta Pemimpin Era Digital Berani Ubah Cara Kerja Lama

Wamenkomdigi Minta Pemimpin Era Digital Berani Ubah Cara Kerja Lama

Penulis:Fernando Yehezkiel
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:

Telset.id – Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Angga Raka Prabowo menegaskan bahwa pemimpin pada era digital harus berani mengubah cara kerja lama, mengevaluasi program yang tidak berdampak, dan memastikan pemanfaatan anggaran benar-benar bermanfaat bagi masyarakat. Pernyataan itu ia sampaikan dalam sesi pembelajaran Program Presiden untuk Pemimpin Masa Depan (P3MD) di Nawasena Corporate University Mandiri Wijayakusuma, Jakarta Barat, Rabu (4/11/2026).

Dalam sesi tersebut, Angga menekankan bahwa keberhasilan sebuah program semestinya diukur dari manfaatnya bagi publik, bukan hanya dari tingkat penyerapan anggaran. Menurutnya, setiap program yang dijalankan harus punya tujuan, sasaran, dan dampak yang jelas. Pandangan ini sejalan dengan penekanan Wamenkomdigi bahwa Pemahaman AI menjadi bekal wajib bagi siapa pun yang hendak menghadapi perubahan cara kerja.

Kritik terhadap orientasi penyerapan anggaran disampaikan Angga secara terbuka. Ia meminta para pengelola program tidak membuat indikator kinerja yang seolah tercapai hanya karena ada serapan. “Tolong jangan bikin KPI (key performance indicator) yang sudah dicapai cuma karena ada serapan,” kata Angga dalam keterangan pers kementerian pada Kamis.

Dampak Program Jadi Ukuran Utama

Angga menilai kegiatan seperti sosialisasi dan literasi digital tetap penting, tetapi perancangannya harus menjawab kebutuhan masyarakat dan menghasilkan dampak yang lebih nyata. Dengan begitu, program tidak berhenti pada formalitas pelaksanaan, melainkan sampai pada perubahan yang dirasakan publik.

Ia juga menyoroti pentingnya pemerataan kesempatan. Menurut Angga, pemimpin pada era digital harus memastikan setiap program yang dijalankan dapat memberikan kesempatan setara bagi seluruh masyarakat, termasuk mereka yang tinggal di perdesaan. Pemerataan ini menjadi bagian dari cara pandang baru yang ia dorong dalam pengelolaan program berbasis teknologi.

Dalam konteks pemanfaatan teknologi, Angga menempatkan AI, data, dan infrastruktur digital sebagai alat, bukan tujuan akhir. “Teknologi itu penting, AI itu penting, data dan infrastruktur digital yang dibangun itu penting. Tapi itu semua bukan suatu tujuan akhir. Pertanyaan yang lebih krusial menurut saya, teknologi ini dibangun untuk apa? BUMN itu bekerja untuk apa? Kemudian, menjadi pemimpin itu untuk apa?” katanya.

Pertanyaan-pertanyaan tersebut ia ajukan untuk menggeser fokus para calon pemimpin dari sekadar pembangunan infrastruktur menuju tujuan yang lebih mendasar. Teknologi, dalam pandangan Angga, harus diarahkan pada manfaat yang jelas bagi masyarakat, bukan sekadar menjadi capaian teknis yang dipamerkan.

Terbuka pada Masukan dan Terus Belajar

Selain soal evaluasi program, Angga mengingatkan para calon pemimpin agar terbuka menerima masukan, berusaha memahami persoalan organisasi, dan tidak berhenti belajar. Sikap ini, menurutnya, menjadi bagian dari kompetensi yang harus dimiliki pemimpin di tengah perubahan cara kerja yang cepat.

Ia menegaskan pentingnya kemampuan mengenali masalah secara jernih. “Kita harus tahu masalah, hadapi masalah, dan berikan solusi terhadap masalah,” katanya. Pernyataan itu menegaskan bahwa kepemimpinan tidak cukup berhenti pada identifikasi persoalan, tetapi harus sampai pada penyelesaian yang nyata.

Pesan tentang pentingnya pemahaman terhadap teknologi juga muncul dalam kesempatan lain. Wamenkomdigi menyoroti risiko Data Poisoning pada adopsi AI jurnalistik, yang menunjukkan bahwa pemanfaatan teknologi membutuhkan kewaspadaan dan tata kelola yang baik. Dalam konteks yang lebih luas, Wamenkomdigi juga menilai bahwa Filsafat Makin Relevan di era AI karena membantu manusia mempertanyakan arah dan tujuan teknologi.

Melalui sesi pembelajaran P3MD, Angga mendorong para calon pemimpin untuk mengubah pola pikir dalam mengelola program dan anggaran. Fokusnya bukan pada seberapa besar dana terserap, melainkan pada seberapa nyata manfaat yang dirasakan masyarakat, termasuk warga di perdesaan yang selama ini kerap tertinggal dalam akses layanan digital.

Dengan menempatkan dampak sebagai ukuran utama, arah pembekalan P3MD menegaskan bahwa pemimpin era digital dituntut berani meninggalkan cara lama yang tidak lagi relevan, sekaligus memastikan setiap keputusan berlandas pada tujuan yang jelas dan manfaat yang terukur bagi publik.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.