📑 Daftar Isi

Ilustrasi toilet luar angkasa di dalam wahana Orion pada misi Artemis 2 NASA yang mengalami gangguan teknis.

Toilet Luar Angkasa Artemis 2 Alami Masalah, NASA Cari Solusi

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:

Telset.id – Toilet bernilai miliaran rupiah di wahana antariksa Orion milik NASA mengalami serangkaian masalah teknis selama misi Artemis 2. Astronaut melaporkan gangguan fungsi buang air kecil dan bau hangus aneh, memaksa kru menggunakan toilet darurat sementara tim di bumi berusaha memperbaikinya.

Misi Artemis 2 yang membawa empat astronaut melintasi orbit bulan menghadapi kendala tak terduga terkait sistem sanitasi. Spesialis misi Christina Koch bahkan menyebut dirinya sebagai “tukang ledeng antariksa” setelah berhasil melakukan perbaikan awal terhadap malfungsi toilet. Namun, masalah tidak berhenti di situ.

Dalam hari-hari berikutnya, kru melaporkan munculnya bau “hangus” atau seperti pemanas listrik yang baru dinyalakan setelah lama tidak digunakan di dalam modul sanitasi wahana Orion. Modul ini merupakan bilik kecil berukuran serupa toilet di pesawat jet pribadi.

Penyelidikan dan Solusi Sementara

Debbie Korth, wakil manajer proyek wahana Orion, mengonfirmasi bahwa tim insinyur sedang menyelidiki sumber bau tersebut. “Kami belum dapat menentukan penyebab pastinya. Tim engineering menduga ini mungkin terkait masalah mekanis, seperti pelepasan gas dari beberapa pita perekat atau material lainnya,” ujar Korth seperti dikutip dari laporan resmi. Ia menekankan bahwa investigasi masih awal dan tidak ada indikasi kondisi berbahaya.

Masalah lain muncul ketika tangki penampung urine, yang berukuran sekitar tempat sampah kantor, hanya mampu mengeluarkan 3% isinya. Kontrol misi di bumi menduga pipa tersumbat oleh urine yang membeku akibat suhu sangat rendah di luar angkasa. Untuk mengatasinya, wahana Orion diarahkan sehingga nozzle pembuangan urine menghadap matahari selama beberapa jam untuk “mencairkan” sumbatan es.

Operasi “pemanasan” ini berhasil sebagian, dengan sekitar setengah isi tangki berhasil dikosongkan. Namun, toilet belum sepenuhnya berfungsi normal. Dalam komunikasi radio, Koch bertanya kapan mereka bisa kembali menggunakan toilet. “Tim sedang menganalisis data dan akan segera memberi tahu rencana tindak lanjut,” jawab komunikator misi, Jacki Mahaffey, dari Pusat Kendali Johnson Space Center NASA.

Mengandalkan Toilet Darurat

Sementara perbaikan berlangsung, keempat astronaut terpaksa menggunakan toilet darurat portabel berbentuk wadah plastik silinder. Setiap astronaut dibekali dua unit. Perangkat ini memiliki tutup dan saluran di dasar untuk menuangkan urine ke dalam tangki penyimpanan sebelum dibuang ke luar angkasa.

Astronaut NASA Don Pettit, yang tidak tergabung dalam misi ini, membagikan foto perangkat darurat tersebut di media sosial. “Saat Anda berada di ruang Bumi-Bulan dan toilet rusak, Anda perlu rencana cadangan. Pengganti darurat ini setara dengan sekitar 25 pound popok,” tulis Pettit. Pengalaman hidup di stasiun luar angkasa memang penuh tantangan, seperti yang pernah diungkapkan dalam cerita astronaut sebelumnya.

Toilet di wahana Orion merupakan versi lebih kecil dan ringkas dari yang digunakan di International Space Station (ISS). Dilaporkan oleh Space.com pada 2020, pengembangan toilet canggih ini menelan biaya sekitar 23 juta dolar AS atau setara Rp 341 miliar. Modul toiletnya sendiri adalah bilik kecil yang tertanam di lantai kabin.

Fokus pada masalah toilet selama misi bersejarah ke bulan mungkin terlihat sepele. Namun, pejabat NASA memahami perhatian publik. “Saya pikir toilet luar angkasa adalah sesuatu yang bisa dipahami semua orang,” kata Debbie Korth. “Ini juga pertama kalinya perangkat seperti ini digunakan. Wahana Apollo tidak memiliki teknologi semacam ini.”

Ketua Tim Manajemen Misi Artemis 2, John Honeycutt, menambahkan, “Wajar saja orang memperhatikan toilet, bukan? Setiap orang tahu betapa pentingnya peran toilet di Bumi, dan mengelola buang air di luar angkasa lebih rumit… Saya sendiri sangat memperhatikannya.”

Misi Artemis 2 diluncurkan pada 1 April 2026, membawa empat astronaut: Komandan Reid Wiseman, Pilot Victor Glover, Spesialis Misi Christina Koch (semua dari NASA), dan Spesialis Misi Jeremy Hansen dari Canadian Space Agency. Mereka dijadwalkan melintas dekat bulan pada 6 April 2026 dan kembali ke Bumi dengan mendarat di Samudra Pasifik pada 10 April 2026.

Insiden ini menyoroti kompleksitas dan tantangan teknis dalam misi antariksa berawak jarak jauh, di mana sistem pendukung kehidupan yang paling dasar pun harus berfungsi sempurna di lingkungan yang sangat ekstrem.