Telset.id – Mantan CEO Infosys, Vishal Sikka, kembali mengguncang industri teknologi dengan startup barunya, Hang Ten Systems. Perusahaan yang mengusung layanan AI untuk enterprise ini berhasil mengantongi pendanaan seed sebesar USD 32 juta atau sekitar Rp520 miliar. Putaran awal ini dipimpin oleh Mayfield, dengan partisipasi strategis dari Aramco Ventures dan sejumlah angel investor.
Langkah Sikka ini menandai perubahan signifikan dalam industri yang selama puluhan tahun dikuasai oleh perusahaan jasa IT tradisional. Alih-alih mengandalkan tenaga kerja manusia dalam jumlah besar, Hang Ten Systems menawarkan pendekatan baru: menggunakan AI untuk membangun, memodifikasi, dan mengoperasikan software enterprise secara berkelanjutan. Ini adalah gebrakan yang berpotensi mengubah peta persaingan di sektor jasa TI global.
Strategi AI-Native untuk Enterprise
Hang Ten Systems hadir di tengah perdebatan sengit mengenai dampak AI terhadap industri jasa IT. Beberapa pihak, seperti analis dari Jefferies, berargumen bahwa sektor jasa IT akan menjadi salah satu yang pertama mengalami disrupsi besar akibat AI. Di sisi lain, ada yang percaya AI justru akan memperluas pasar yang bisa dijangkau (addressable market).
Infosys sendiri memandang AI sebagai peluang. Perusahaan yang pernah dipimpin Sikka itu baru-baru ini menyatakan kepada investor bahwa layanan “AI-first” bisa menjadi pasar senilai USD 300-400 miliar pada tahun 2030. Namun, kenyataan di lapangan menunjukkan tekanan. Saham Infosys tercatat telah turun lebih dari 35% sepanjang tahun ini, mencerminkan kekhawatiran investor terhadap masa depan model bisnis tradisional.
Dengan latar belakang ini, Hang Ten mencoba menawarkan jalan tengah. Startup ini tidak sekadar menjadi penyedia jasa, melainkan perusahaan jasa AI enterprise yang dibangun di atas agentic code generation, keterampilan AI yang dapat digunakan kembali (reusable AI skills), dan keahlian domain spesifik. Pendekatan ini memungkinkan perusahaan untuk memberikan layanan yang lebih efisien dan skalabel.
Mayfield, sebagai pemimpin pendanaan, melihat potensi unik dalam model bisnis Hang Ten. “Layanan tradisional berskala secara linear seiring jumlah karyawan,” ujar Mayfield dalam pernyataannya. “Hang Ten dibangun agar daya ungkitnya tumbuh di setiap proyek.” Ini berarti, semakin banyak proyek yang dikerjakan, semakin efisien dan bernilai layanan yang diberikan, tanpa harus menambah jumlah staf secara proporsional.
Keyakinan Mayfield terhadap Hang Ten tidak lepas dari rekam jejak Sikka. Pria berusia 59 tahun ini menghabiskan 12 tahun membangun software enterprise di SAP, kemudian menjabat sebagai anggota dewan Oracle, dan memimpin Infosys. Pengalaman panjang ini memberinya pemahaman mendalam tentang kebutuhan perusahaan besar serta cara kerja industri jasa TI dari dalam.
Vishal Sikka sebelumnya juga mendirikan VianAI, sebuah startup AI yang fokus pada aplikasi dan alat analitik untuk membantu bisnis dalam pengambilan keputusan. VianAI muncul dari stealth mode pada 2019 dengan pendanaan seed USD 50 juta dan kemudian mengantongi USD 140 juta pada putaran 2021 yang dipimpin SoftBank Vision Fund 2.
Namun, Hang Ten memiliki fokus yang berbeda. Navin Chaddha, Managing Partner Mayfield, menegaskan bahwa Hang Ten berbeda dari VianAI. Jika VianAI berfokus pada pasar yang berbeda, Hang Ten secara spesifik dibangun sebagai perusahaan jasa AI enterprise dengan pendekatan yang lebih terarah pada pengembangan kode dan otomatisasi.
Baca Juga:
Tim dan Pelanggan Awal
Hang Ten Systems tidak memulai dari nol. Startup yang baru berjalan sekitar sebulan ini sudah memiliki pelanggan. Navin Chaddha mengungkapkan kepada TechCrunch bahwa perusahaan “baru dimulai sebulan lalu” dan sudah memiliki klien. Ini menunjukkan bahwa ada permintaan nyata di pasar untuk model layanan AI yang ditawarkan Sikka.
Dalam sebuah blog post yang mengumumkan usaha barunya, Sikka menyatakan bahwa Hang Ten sudah membantu perusahaan-perusahaan besar untuk “hang ten on the biggest wave of our lifetimes” (menaiki gelombang terbesar dalam hidup kita). Metafora selancar ini mencerminkan keyakinannya bahwa AI adalah transformasi terbesar yang akan dialami industri enterprise.
Beberapa pelanggan yang telah disebutkan antara lain Siemens Gamesa Renewable Energy dan Fresenius. Kedua perusahaan ini sudah mulai mengerjakan proyek delivery berbasis AI bersama Hang Ten. Ini menjadi bukti awal bahwa pendekatan AI-native dapat diterima di sektor-sektor kritis seperti energi terbarukan dan layanan kesehatan.
Tim awal Hang Ten terdiri dari para eksekutif yang telah bekerja bersama Sikka selama bertahun-tahun, baik di SAP, Infosys, maupun VianAI. Berdasarkan profil LinkedIn mereka, co-founder yang bergabung termasuk Navin Budhiraja sebagai CTO, Sanjay Rajagopalan sebagai chief design officer, dan Tao Liu sebagai senior vice president of forward deployed engineering. Kehadiran mereka memberikan kredibilitas dan kesinambungan visi.
Perusahaan yang berkantor pusat di Bay Area ini saat ini sedang melakukan perekrutan besar-besaran. Hang Ten membuka lowongan di bidang delivery, teknik, penjualan, dan kepemimpinan. Startup ini berencana untuk memperluas operasinya ke berbagai lokasi global guna memenuhi permintaan enterprise yang terus meningkat.
Dengan pendanaan segar sebesar USD 32 juta dan dukungan dari investor strategis seperti Aramco Ventures, Hang Ten memiliki modal yang cukup untuk mulai menggerakkan mesin pertumbuhannya. Kehadiran Jerry Yang, co-founder Yahoo, di jajaran dewan juga menambah bobot kredibilitas startup ini di mata investor dan calon pelanggan.
Langkah Sikka ini menjadi sinyal kuat bahwa era baru jasa IT berbasis AI telah dimulai. Jika Hang Ten berhasil, bukan tidak mungkin model bisnis serupa akan diadopsi oleh banyak pemain lain. Industri jasa IT tradisional, yang selama puluhan tahun menjadi ladang emas bagi perusahaan seperti Infosys, kini harus bersiap menghadapi disrupsi dari dalam.
Investor dan analis akan terus mengamati bagaimana Hang Ten berkembang. Pertanyaan besarnya adalah apakah pendekatan AI-native ini benar-benar bisa menggantikan model outsourcing tradisional, atau justru akan menciptakan pasar baru yang lebih besar. Yang jelas, Vishal Sikka telah menempatkan taruhannya pada AI sebagai masa depan jasa enterprise.
Bagi perusahaan yang selama ini bergantung pada jasa IT konvensional, kemunculan Hang Ten menjadi pengingat bahwa inovasi tidak bisa dihindari. Mereka yang cepat beradaptasi dengan layanan berbasis AI kemungkinan akan mendapatkan keunggulan kompetitif, sementara yang bertahan dengan cara lama berisiko tertinggal.
Dengan dukungan investor kelas dunia dan tim berpengalaman, Hang Ten Systems siap menjadi pemain kunci dalam gelombang transformasi AI di industri enterprise. Pertarungan antara model tradisional dan AI-native kini resmi dimulai.





Komentar
Belum ada komentar.