Dunia hiburan digital kembali dikejutkan oleh langkah strategis raksasa streaming global, Netflix. Setelah sukses merambah berbagai format tayangan langsung, platform ini kini bersiap mencetak sejarah baru di arena olahraga tarung bebas. Bukan sekadar rumor, Netflix telah mengonfirmasi akan menayangkan pertarungan Mixed Martial Arts (MMA) langsung untuk pertama kalinya. Langkah ini menandai evolusi konten yang signifikan, mengaburkan batas antara penyedia film seri dengan penyiar olahraga kelas dunia.
Antusiasme publik seketika memuncak ketika dua nama besar diumumkan sebagai lakon utama dalam perhelatan ini. Anda tidak salah dengar, dua ikon wanita yang pernah merajai panggungnya masing-masing, Ronda Rousey dan Gina Carano, akan kembali berhadapan. Pertarungan ini dijadwalkan berlangsung pada hari Sabtu, 16 Mei mendatang. Ini bukan sekadar pertarungan biasa, melainkan sebuah reuni “berdarah” dari dua figur yang telah lama meninggalkan arena profesional namun warisannya tetap hidup di benak para penggemar.
Keputusan Netflix untuk mempertemukan dua veteran ini tentu memicu berbagai reaksi dan spekulasi. Mengapa harus mereka yang sudah pensiun? Apakah ini sekadar nostalgia atau strategi bisnis yang brilian? Di balik gemerlap lampu sorot dan antisipasi penggemar, terdapat narasi menarik mengenai bagaimana industri hiburan olahraga kini bergerak, serta dinamika kontroversial yang menyelimuti salah satu petarung tersebut. Mari kita bedah lebih dalam peristiwa yang dijuluki sebagai “Legacy Showdown” ini.
Panggung Megah untuk Satu Malam Saja
Pertarungan antara Ronda Rousey dan Gina Carano ini dirancang sebagai acara eksklusif dengan tajuk “one night only”. Artinya, ini adalah kesempatan langka yang mungkin tidak akan terulang kembali. Netflix tampaknya tidak main-main dalam mengemas acara ini. Mereka telah mempersiapkan sebuah kandang berbentuk heksagon (segi enam) sebagai arena pertempuran, sebuah variasi visual yang menarik dibandingkan oktagon standar yang biasa Anda lihat di kompetisi UFC.
Duel ini akan dilangsungkan di kelas featherweight atau kelas bulu. Bagi Anda yang mengikuti perjalanan karier mereka, pertemuan ini adalah mimpi yang tertunda. Acara ini akan disiarkan secara global, memastikan bahwa jutaan pasang mata dari berbagai penjuru dunia dapat menyaksikan momen bersejarah ini secara real-time. Langkah Netflix menyiarkan acara ini secara langsung menegaskan ambisi mereka untuk menjadi pemain utama dalam penyiaran acara olahraga, bersaing langsung dengan jaringan televisi kabel tradisional.
Menariknya, acara ini turut dipandu oleh Most Valuable Productions, sebuah perusahaan promosi yang didirikan oleh Jake Paul. Keterlibatan perusahaan milik Jake Paul ini memberikan sinyal bahwa pertarungan ini akan dikemas dengan nilai hiburan yang tinggi, mengingat rekam jejak Jake Paul dalam mempromosikan pertarungan tinju yang viral dan menyedot perhatian generasi muda.
Strategi Cerdas di Balik Pemilihan Veteran
Mungkin Anda bertanya-tanya, mengapa Netflix memilih dua petarung yang sudah pensiun alih-alih menampilkan bintang MMA yang sedang naik daun saat ini? Jawabannya terletak pada kompleksitas kontrak industri olahraga. Sebagian besar bintang aktif saat ini terikat kontrak eksklusif dengan berbagai entitas promosi besar seperti UFC atau Bellator, yang membuat mereka mustahil untuk tampil di platform pihak ketiga seperti Netflix tanpa negosiasi yang sangat rumit.
Oleh karena itu, memilih Rousey dan Carano adalah langkah taktis yang brilian. Ronda Rousey, yang dikenal sebagai fenomena global, telah meninggalkan olahraga ini sejak tahun 2016. Sementara itu, Gina Carano telah gantung sarung tinju jauh lebih lama, yakni sejak tahun 2009. Status “bebas agen” mereka memungkinkan Netflix untuk mengontrak mereka tanpa hambatan birokrasi dari organisasi MMA manapun.
Langkah ini sebenarnya bukan hal baru bagi Netflix. Sebelumnya, platform ini telah sukses menayangkan pertandingan tinju, turnamen golf, acara bincang-bincang langsung, hingga upacara penghargaan. Masuknya MMA ke dalam portofolio siaran langsung mereka terasa sebagai langkah alami berikutnya dalam upaya mendominasi pasar live streaming.
Profil Sang Ratu dan Sang Pionir
Bagi Anda yang mungkin belum terlalu familiar dengan rekam jejak kedua wanita tangguh ini, mari kita ulas sedikit latar belakang mereka. Ronda Rousey bukanlah nama sembarangan. Ia adalah mantan juara UFC dan juga seorang peraih medali Olimpiade. Rekor profesionalnya di MMA sangat fantastis, yakni 12 kemenangan dan hanya 2 kekalahan. Dominasinya di masa jayanya begitu kuat sehingga ia dianggap sebagai salah satu atlet wanita paling berpengaruh dalam sejarah olahraga tarung bebas.
Di sisi lain sudut heksagon, kita memiliki Gina Carano. Ia dianggap sebagai pionir sejati dalam olahraga ini. Carano memulai kariernya jauh sebelum MMA wanita mendapatkan sorotan arus utama, tepatnya pada tahun 2006. Kehadirannya di awal era MMA wanita membuka jalan bagi generasi petarung selanjutnya, termasuk Rousey. Pertemuan keduanya bukan hanya soal fisik, melainkan pertemuan dua era yang berbeda dalam satu panggung.
Kontroversi yang Membayangi Gina Carano
Namun, narasi seputar Gina Carano tidak hanya berkutat pada prestasi olahraganya. Namanya sempat menjadi pusat perbincangan panas, bukan karena pukulan di ring, melainkan karena aktivitasnya di media sosial. Carano sempat meniti karier cemerlang di Hollywood, termasuk peran ikoniknya sebagai Cara Dune dalam serial hits The Mandalorian. Sayangnya, karier aktingnya tersandung masalah serius akibat serangkaian unggahan kontroversial.
Carano mendapat kecaman luas setelah membuat postingan media sosial yang mengejek penggunaan masker selama pandemi, serta menyebarkan dugaan kecurangan pemilih selama pemilu 2020. Ia juga dituduh merendahkan kelompok transgender melalui komentar-komentarnya. Situasi memuncak ketika ia “menggandakan” komentarnya dengan menyamakan reaksi keras yang diterima kaum konservatif di media sosial dengan pengalaman orang Yahudi selama peristiwa Holocaust.
Pernyataan tersebut menjadi titik akhir toleransi bagi Disney dan Lucasfilm, yang kemudian memecatnya dari serial Star Wars tersebut. Kini, Carano tidak tinggal diam. Ia telah bekerja sama dengan Elon Musk untuk menuntut Disney atas pemecatan tersebut, sebuah langkah hukum yang menambah drama di balik kembalinya ia ke sorotan publik. Ironisnya, di tengah kabar pertarungan ini, sebuah trailer baru untuk film The Mandalorian and Grogu baru saja dirilis dan mendapat sambutan hangat, seolah menjadi pengingat akan dunia yang telah ditinggalkan Carano.
Pertarungan pada 16 Mei nanti bukan hanya soal siapa yang menang atau kalah di dalam heksagon. Ini adalah tentang kembalinya dua legenda, strategi konten Netflix, dan babak baru bagi Carano setelah badai kontroversi yang menimpanya. Apakah Anda siap menjadi saksi sejarah ini?

