Telset.id, JakartaĀ ā CEO Facebook, Mark Zuckerberg, akhirnya buka suara terkait pernyataannya yang menyebut bahwaĀ para pengguna Facebook tidak mempercayai Holocaust atau pembantaian orang Yahudi oleh Jerman pada pada Perang Dunia II.
Zuckerberg mencoba memberi klarifikasi dengan menyatakan dirinya tak bermaksud membela orang-orang sentimen terhadap Holocaust. Apalagi, semua orang tahu bahwa Zuckerberg juga merupakan bagian dari etnis Yahudi.
āLarangan soal konten kontroversial seperti itu bukan menjadi tanggung jawab Facebook. Namun, kami harus memastikan bahwa konten tersebut tidak tersebar luas di Feed,ā katanya lewat surat elektronik sperti dilansir Recode, Kamis (19/7).
āKami merasa bertanggung jawab dalam upaya mencegah hoaks supaya tidak menjadi viral dan didistribusikan kepada banyak orang,ā imbuh Zuckerberg.
Zuckerberg mengaku bahwa Facebook memilih untuk melakukan pendekatan yang tidak terlalu ekstrem dalam menanggapi informasi keliru. Menurutnya, semua orang bisa saja salah dalam memahami sesuatu, termasuk tentang peristiwa Holocaust.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa ketika sebuah postingan viral banyak menerima flag sebagai hoaks, sejumlah orang yang bertugas sebagai pengecek fakta akan melakukan pemeriksaan. Jika informasi tersebut memang salah, maka Facebook akan menurunkan tingkat penyebaran postingan itu.
Sebelumnya, ketika membahas konten konspirasi yang disebarkan oleh Infowars mengenai penembakan massal di Sekolah Dasar Sandy Hook di Connecticut, Amerika Serikat, tiba-tiba Zuck mengungkit Holocaust.
āSaya orang Yahudi, dan ada sekelompok orang yang menolak bahwa Holocaust pernah terjadi. Saya menemukan hal itu sangat ofensif,ā ujar Zuckerberg.
āTapi, pada akhirnya, saya tidak percaya bahwa platform kami harus menghapusnya karena saya pikir banyak hal salah yang diterima oleh orang lain. Saya rasa mereka tidak sengaja melakukan kesalahan,ā pungkasnya.
Facebook sendiri dilaporkan sedang melakukan peningkatan keamanan dari ancamanĀ berita palsu. Facebook bahkan menerapkan kebijakan baru untuk menghapus berita yang berpotensi memicu kekerasan.
MenurutĀ The Verge, Kamis (19/7/2018), Facebook sedang melakukan uji coba kebijakan itu di Sri Lanka. Alasannya, negara tersebut tengah bermasalah dengan isu antaragama dan rasisme yang menyebar via Facebook.
āKami mencoba memperketat aturan mengingat ada sejumlah informasi keliru yang mengakibatkan kerusakan secara fisik. Kebijakan kami memungkinkanĀ menghapus berita palsu di Facebook,ā ujar Facebook.Ā [BA/IF]
Sumber : Recode



