Telset.id – Pasar smartphone premium saat ini sedang berada di fase yang menarik. Harga flagship semakin tinggi, sementara kebutuhan mayoritas pengguna sebenarnya tidak selalu membutuhkan performa kelas dewa yang mampu menjalankan belasan aplikasi sekaligus sambil merender video 8K di latar belakang. Di tengah situasi tersebut, Xiaomi kembali memainkan kartu andalannya melalui Xiaomi 17T, sebuah smartphone yang mencoba menawarkan pengalaman mendekati flagship tanpa memaksa dompet ikut menjalani diet ekstrem.
Di Indonesia, Xiaomi 17T hadir dengan harga mulai dari Rp8.999.000 untuk varian 12GB/256GB dan Rp9.999.000 untuk model 12GB/512GB. Angka yang tentu sudah tidak bisa disebut murah, tetapi masih jauh lebih masuk akal dibandingkan banyak flagship yang kini menembus Rp15 juta hingga Rp20 juta. Pertanyaannya, apakah Xiaomi 17T benar-benar mampu memberikan pengalaman premium sesuai harga yang ditawarkan?
Dari atas kertas, perangkat ini membawa sejumlah spesifikasi yang cukup menggoda. Mulai dari layar AMOLED 120Hz, chipset MediaTek Dimensity 8500 Ultra, baterai 6.500 mAh, hingga sistem kamera Leica yang kini dilengkapi lensa periskop telefoto 5x. Kombinasi tersebut membuat Xiaomi 17T terlihat seperti smartphone yang dirancang khusus untuk pengguna yang lebih mementingkan fotografi dibanding mengejar skor benchmark.
Lalu bagaimana pengalaman sebenarnya? Berikut ulasan lengkap dalam Review Xiaomi 17T dari tim Telset.
Desain Xiaomi 17T

Secara visual, Xiaomi 17T berhasil memberikan kesan premium sejak pertama kali dilihat. Xiaomi mempertahankan bahasa desain modern dengan bingkai datar, sudut yang membulat secara proporsional, serta modul kamera berbentuk squircle yang cukup besar di bagian belakang. Kehadiran logo Leica pada modul kamera juga menjadi penanda bahwa Xiaomi ingin pengguna langsung memahami fokus utama perangkat ini bahkan sebelum membuka aplikasi kamera.
Dimensi 157,6 x 75,2 x 8,2 mm dengan bobot sekitar 200 gram membuat ponsel ini terasa solid di tangan. Ukurannya memang tidak bisa disebut ringkas, tetapi masih nyaman digunakan dalam aktivitas sehari-hari. Bobot tambahan tersebut sebagian besar berasal dari baterai berkapasitas besar yang kini mencapai 6.500 mAh. Jadi setidaknya ada alasan logis mengapa Xiaomi 17T sedikit lebih tebal dibanding pendahulunya.
Namun ada satu kompromi yang mungkin membuat sebagian pengguna mengangkat alis. Xiaomi masih menggunakan frame berbahan plastik. Di rentang harga mendekati Rp10 juta, beberapa kompetitor sudah mulai menawarkan rangka aluminium yang terasa lebih mewah. Untungnya kualitas perakitan Xiaomi 17T tetap terasa kokoh tanpa gejala flex atau bunyi berdecit saat ditekan. Ini seperti seseorang yang datang ke pesta memakai pakaian sederhana tetapi tetap terlihat rapi dan percaya diri.
Meski menggunakan frame plastik, Xiaomi tidak mengorbankan aspek ketahanan. Perangkat ini telah mengantongi sertifikasi IP68 yang membuatnya tahan terhadap debu dan air. Lapisan Gorilla Glass 7i di bagian depan juga memberikan perlindungan tambahan terhadap goresan ringan dalam penggunaan sehari-hari.
Layar Xiaomi 17T

Xiaomi 17T dibekali panel AMOLED 6,59 inci dengan resolusi 1.5K sebesar 1268 x 2756 piksel. Kerapatan piksel yang tinggi menghasilkan tampilan yang sangat tajam, baik saat membaca artikel panjang, mengedit foto, maupun menikmati konten video beresolusi tinggi. Detail kecil terlihat jelas tanpa perlu mendekatkan layar ke wajah seperti sedang mencari semut di halaman rumah.
Panel ini mendukung kedalaman warna 12-bit dengan reproduksi hingga 68 miliar warna. Dukungan HDR10+ dan Dolby Vision membuat pengalaman streaming terasa jauh lebih hidup. Saat digunakan untuk menonton film, transisi warna terlihat halus dan efek kontras mampu menghadirkan kesan sinematik yang cukup mengesankan untuk kelas harga ini.
Tingkat kecerahan puncak yang diklaim mencapai 3.500 nits juga membuat layar tetap nyaman digunakan di bawah sinar matahari. Dalam penggunaan sehari-hari, visibilitas outdoor tergolong sangat baik. Xiaomi juga melengkapi layar dengan berbagai sertifikasi TÜV Rheinland yang membantu mengurangi kelelahan mata ketika digunakan dalam waktu lama.
Meski demikian, implementasi refresh rate masih belum sempurna. Secara teori layar mendukung refresh rate hingga 120Hz, tetapi dalam praktiknya sistem terkadang menurunkan refresh rate ke 60Hz pada beberapa aplikasi tertentu. Bukan masalah besar, tetapi cukup mengganggu bagi pengguna yang membeli smartphone premium dan berharap seluruh pengalaman berjalan semulus janji di atas kertas.
Performa Xiaomi 17T

Di sektor performa, Xiaomi mempercayakan tugas berat kepada MediaTek Dimensity 8500 Ultra yang diproduksi menggunakan fabrikasi 4nm. Chipset ini dipadukan dengan RAM LPDDR5X 12GB dan penyimpanan UFS 4.1 hingga 512GB. Secara spesifikasi, kombinasi tersebut sudah sangat memadai untuk penggunaan jangka panjang.
Dalam penggunaan sehari-hari, Xiaomi 17T terasa sangat responsif. Membuka banyak aplikasi, berpindah antar menu, melakukan editing foto, hingga bermain game populer dapat dilakukan tanpa hambatan berarti. Sistem pendingin 3D Ice Loop juga membantu menjaga suhu tetap terkendali ketika perangkat dipaksa bekerja keras dalam waktu lama.
Untuk gaming, performanya tergolong sangat baik meskipun belum bisa menyamai chipset flagship seperti Snapdragon 8 Elite atau Dimensity 9500. Game seperti Mobile Legends, PUBG Mobile, Call of Duty Mobile, hingga Genshin Impact dapat dimainkan dengan lancar pada pengaturan grafis tinggi. Namun saat sesi gaming berlangsung sangat lama, sistem akan mulai menurunkan performa untuk menjaga suhu tetap aman.

Sebagai gambaran sekencang apa performanya, kami mencoba melakukan pengujian melalui aplikasi AnTuTu Benchmark versi 11. Dari skor yang berhasil ditembus dikisaran 2,1 juta poin ini menunjukan performa Xiaomi 17T masih tergolong cukup kencang untuk kerja harian hingga gaming berat sesekali dalam waktu singkat.
Di sinilah posisi Xiaomi 17T menjadi menarik. Smartphone ini cukup bertenaga untuk hampir semua orang, tetapi tidak berusaha berpura-pura menjadi monster benchmark. Xiaomi tampaknya memahami bahwa sebagian besar pengguna lebih membutuhkan performa yang stabil dibanding skor sintetis yang hanya dipamerkan saat nongkrong di forum teknologi.
Kamera Xiaomi 17T

Jika harus memilih satu alasan utama membeli Xiaomi 17T, jawabannya ada di sektor kamera. Xiaomi membekali perangkat ini dengan kamera utama 50MP Light Fusion 800 berfitur OIS, kamera ultrawide 12MP, serta kamera periskop telefoto 50MP dengan kemampuan optical zoom 5x. Kombinasi ini menjadikannya salah satu smartphone paling menarik untuk fotografi di kelas harga Rp8-10 jutaan.
Lensa periskop 5x menjadi bintang utama. Focal length setara 115mm memberikan fleksibilitas yang jauh lebih luas dibanding smartphone yang hanya mengandalkan zoom digital. Pengguna dapat memotret subjek dari kejauhan tanpa kehilangan terlalu banyak detail. Untuk fotografi jalanan, konser, hingga portrait, kamera ini memberikan perspektif yang lebih menarik dan profesional.
Dalam kondisi cahaya cukup, kamera utama mampu menghasilkan foto dengan warna yang kaya dan detail yang tinggi. Karakter Leica Vibrant menghasilkan gambar yang lebih hidup dan menarik perhatian, sementara Leica Authentic menawarkan pendekatan warna yang lebih natural. Hasilnya memang tidak selalu akurat secara ilmiah, tetapi sering kali terlihat lebih menarik untuk dibagikan ke media sosial.
Kamera portrait juga menjadi salah satu kekuatan Xiaomi 17T. Efek bokeh terlihat rapi dengan pemisahan subjek yang baik. Bahkan pada kondisi kompleks seperti rambut atau objek dengan detail halus, algoritma pemrosesan mampu bekerja cukup baik. Hal ini membuat hasil foto portrait terasa lebih konsisten dibanding banyak pesaing di kelasnya.
Namun sektor kamera tetap memiliki beberapa kelemahan. Kamera ultrawide belum mampu menyamai kualitas kamera utama dalam hal detail maupun reproduksi warna. Sementara itu, hasil zoom ekstrem di atas 10x mulai menunjukkan gejala oversharpening dan kehilangan detail alami. Pada malam hari, Xiaomi juga cenderung melakukan smoothing yang cukup agresif untuk menekan noise sehingga beberapa tekstur terlihat kurang natural.
Kamera selfie 32MP menghasilkan foto yang cukup baik untuk media sosial dan panggilan video. Sayangnya warna kulit terkadang terlihat sedikit terlalu cerah dan saturasi warna cenderung berlebihan. Untungnya hasil tersebut masih berada dalam batas yang bisa diterima oleh sebagian besar pengguna.
Baterai Xiaomi 17T

Baterai menjadi salah satu peningkatan terbesar pada Xiaomi 17T. Kapasitasnya mencapai 6.500 mAh, jauh lebih besar dibanding generasi sebelumnya. Dalam penggunaan normal yang mencakup media sosial, kamera, navigasi, streaming video, dan chatting, perangkat ini mampu bertahan seharian penuh tanpa kesulitan.
Bahkan untuk pengguna yang cukup aktif, daya tahan baterainya masih tergolong impresif. Screen-on time di kisaran 7 hingga 9 jam bukan hal yang sulit dicapai. Ini membuat Xiaomi 17T menjadi teman perjalanan yang cukup dapat diandalkan, terutama bagi pengguna yang sering berada di luar ruangan.
Sayangnya, pengisian daya 67W terasa kurang mengesankan dibanding standar Xiaomi beberapa tahun lalu. Ironis memang, karena pernah ada masa ketika Xiaomi membuat kompetitor panik dengan teknologi charging super cepat. Kini, saat beberapa pesaing menawarkan 90W hingga 120W, Xiaomi 17T membutuhkan sekitar satu jam untuk mengisi baterai hingga penuh.
Bukan berarti lambat, tetapi ekspektasi terhadap Xiaomi memang sudah terlanjur tinggi. Untungnya Xiaomi tetap menyertakan charger di dalam kotak penjualan, sesuatu yang mulai dianggap spesial di era ketika beberapa produsen menjual charger secara terpisah dengan semangat yang sulit dijelaskan.
Sistem Operasi dan Fitur

Xiaomi 17T menjalankan HyperOS 3 berbasis Android 16. Secara tampilan, sistem operasi ini masih mempertahankan identitas Xiaomi dengan animasi yang halus dan tingkat kustomisasi yang sangat tinggi. Pengguna dapat mengatur berbagai aspek antarmuka sesuai preferensi masing-masing.
HyperOS 3 juga membawa berbagai fitur AI modern seperti AI Writing, AI Translator, AI Wallpaper, AI Search, hingga integrasi Gemini. Kehadiran fitur-fitur tersebut memang mengikuti tren industri saat ini, tetapi implementasinya cukup berguna dalam aktivitas sehari-hari, terutama untuk produktivitas.
Fitur Hyper Island yang terinspirasi dari Dynamic Island milik Apple juga menjadi tambahan menarik. Informasi kontekstual seperti pemutar musik, timer, atau panggilan telepon dapat ditampilkan secara ringkas di sekitar kamera depan. Fungsinya memang belum sepenuhnya revolusioner, tetapi cukup membantu meningkatkan pengalaman penggunaan.
Dukungan pembaruan perangkat lunak juga tergolong baik. Xiaomi menjanjikan lima tahun pembaruan Android dan enam tahun pembaruan keamanan. Ini memberikan rasa aman bagi pengguna yang berencana menggunakan perangkat dalam jangka panjang.
Meski demikian, HyperOS masih menyisakan beberapa kekurangan. Beberapa aplikasi bawaan terasa berlebihan dan sesekali muncul bug kecil yang mengganggu. Tidak sampai merusak pengalaman, tetapi cukup mengingatkan bahwa kesempurnaan masih menjadi tujuan, bukan kenyataan.
Kesimpulan
Setelah menghabiskan waktu bersama perangkat ini, satu hal menjadi sangat jelas. Xiaomi 17T bukan smartphone yang mencoba menjadi yang terbaik di semua aspek. Sebaliknya, perangkat ini memilih fokus yang jelas: menghadirkan pengalaman fotografi yang lebih unggul dibanding sebagian besar pesaing di kelas harganya.
Lensa periskop telefoto 5x menjadi nilai jual terbesar yang sulit ditemukan pada smartphone lain di kisaran harga Rp8 jutaan hingga Rp10 jutaan. Ditambah layar AMOLED berkualitas tinggi, baterai besar, performa stabil, dan dukungan software jangka panjang, Xiaomi 17T menawarkan paket yang sangat menarik bagi pengguna yang gemar fotografi.
Namun bukan berarti tanpa kekurangan. Frame plastik terasa kurang premium untuk kelas harganya, pengisian daya 67W tidak lagi menjadi yang tercepat, dan performanya masih berada satu tingkat di bawah flagship sejati. Beberapa inkonsistensi refresh rate dan kamera ultrawide yang biasa saja juga menjadi catatan yang perlu dipertimbangkan.
Kelebihan Xiaomi 17T
Xiaomi 17T memiliki kamera periskop telefoto 5x yang sangat unggul di kelasnya. Layar AMOLED 1.5K tampil tajam dan mendukung Dolby Vision. Baterai 6.500 mAh menawarkan daya tahan yang sangat baik. Performa harian stabil dan HyperOS 3 hadir dengan fitur AI yang lengkap. Sertifikasi IP68 dan Gorilla Glass 7i juga meningkatkan nilai perangkat secara keseluruhan.
Kekurangan Xiaomi 17T
Frame plastik terasa kurang premium untuk harga yang ditawarkan. Pengisian daya 67W mulai tertinggal dari beberapa kompetitor. Kamera ultrawide belum sebaik kamera utama dan telefoto. Refresh rate masih terkadang tidak konsisten. Harga normalnya juga cukup dekat dengan beberapa smartphone yang menawarkan chipset lebih bertenaga.
Pada akhirnya, jika prioritas utama Anda adalah fotografi, khususnya kemampuan zoom optik berkualitas tinggi tanpa harus membeli flagship belasan juta rupiah, maka Xiaomi 17T menjadi salah satu pilihan paling menarik di pasar Indonesia saat ini. Namun jika yang dicari adalah performa gaming maksimal atau pengisian daya super cepat, ada beberapa alternatif lain yang mungkin lebih menggoda.



































Komentar
Belum ada komentar.