📑 Daftar Isi

Logo Cisco pada dinding biru sebagai ilustrasi proyek refactor kode legacy dengan AI

Cisco Rombak 98% Kode Lama Pakai AI, Dipimpin Anak Muda 27 Tahun

Penulis:Ida Farida
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • Cisco menugaskan Padmanabhan Krishnamurthy (27 tahun) menulis ulang 98% kode legacy dalam 24 bulan
  • Krishnamurthy bergabung lewat akuisisi EzDubs 2023, sebelumnya di posisi lima tingkat lebih rendah
  • Jeetu Patel memberi token AI tanpa batas, dengan empat minggu sebagai bukti konsep
  • Patel mencari talenta muda yang berani menantang status quo dan memacu semangat tim
  • Patel meyakini kombinasi operator berpengalaman, karyawan eksternal, dan talenta AI-native menghasilkan kinerja terbaik

Telset.id – Cisco menyerahkan tugas besar kepada Padmanabhan Krishnamurthy, seorang karyawan berusia 27 tahun, untuk menulis ulang 98% kode legacy perusahaan dalam waktu 24 bulan. Langkah ini diambil Presiden dan Chief Product Officer Cisco, Jeetu Patel, sebagai respons atas kekhawatiran bahwa kecerdasan artifisial (AI) kian menggantikan posisi pekerjaan tingkat awal bagi generasi muda.

Keputusan ini menjadi sorotan karena Krishnamurthy sebelumnya berada di posisi lima tingkat di bawah struktur organisasi dan dianggap “terkubur” dalam peran yang tidak strategis. Menurut laporan Fortune, Krishnamurthy bergabung ke Cisco setelah perusahaan mengakuisisi EzDubs, sebuah startup penerjemahan yang ia bantu bangun pada 2023. Meski memiliki pengalaman sebagai eksekutif, Patel menilai talenta muda ini belum ditempatkan pada posisi yang tepat.

Dalam pertemuan di kantor Cisco di San Francisco, Krishnamurthy menyampaikan kepada Patel bahwa ia mampu menulis ulang kode legacy Cisco hanya dengan tim berisi dua orang. Ia juga menyebut bahwa bahkan orang-orang paling berorientasi AI di tim Patel tidak berpikir dengan cara tersebut. Keyakinan itu yang akhirnya mengantar Krishnamurthy ke proyek ambisius ini.

Proyek Refactor Kode Legacy dengan AI

Patel menugaskan Krishnamurthy untuk menulis ulang 98% kode legacy Cisco dalam 24 bulan, dengan empat minggu pertama sebagai bukti konsep. Ia bahkan memberikan akses token tanpa batas kepada Krishnamurthy untuk mendukung proses refactor kode tersebut. “Saya memberinya token tanpa batas karena dia akan melakukan refactor kode,” kata Patel, seraya menambahkan bahwa ia mempersilakan Krishnamurthy bekerja secara leluasa.

Langkah Cisco ini berjalan seiring melonjaknya penggunaan AI untuk coding dalam beberapa bulan terakhir. GitHub, misalnya, harus menambah 4 juta core CPU dan 160 petabyte penyimpanan untuk menangani beban tersebut. Namun praktik ini tidak lepas dari risiko, karena agen AI yang nakal dikenal kerap melakukan tindakan tak diminta, termasuk menghapus seluruh basis data perusahaan, hasil edit acara televisi, hingga konfigurasi produksi.

The Cisco logo on a blue wall.

Strategi Talenta Muda dan Kultur Kerja Cisco

Patel berharap menemukan lebih banyak karyawan muda seperti Krishnamurthy, baik dari dalam maupun luar perusahaan. Ia mencari kandidat yang berani “menantang sistem dan status quo” serta mampu menjadi sosok yang memacu semangat tim. Patel menilai struktur korporat saat ini justru bekerja melawan pola pikir semacam itu.

“Jika Anda tidak mempekerjakan pekerja di awal karier, dan Anda membiarkan tenaga kerja Anda terus seperti sebelumnya, dari mana ide-ide segar masuk? Bagaimana Anda menantang status quo?” ujar Patel, seperti dikutip dalam laporan tersebut.

Ia mengakui bahwa pendekatan ini akan menimbulkan gesekan, dengan menempatkan karyawan Gen Z di antara pekerja yang sudah puluhan tahun berkarier. Menurut Patel, ketegangan semacam itu justru dibutuhkan. “Ketegangan itu baik… Saya sebenarnya mencoba menciptakan ketegangan di tim karena Anda ingin ada gesekan pada ide-ide. Anda tidak ingin gesekan pada orang dan kepribadian,” jelasnya.

Patel meyakini kombinasi antara operator berpengalaman berskala besar di Cisco, karyawan dari luar, serta pendiri, CEO, dan engineer yang “AI-native” akan membuahkan hasil. “Salah satu kelompok ini saja tidak sekuat ketika ketiganya bekerja bersama. Itulah yang menciptakan keajaiban,” katanya.

Langkah Cisco ini memperlihatkan bagaimana perusahaan teknologi menempatkan talenta muda sebagai penggerak proyek berbasis AI, sekaligus menghadapi tantangan struktur organisasi yang mapan. Bagi pekerja di awal karier, keputusan Patel menjadi sinyal bahwa ruang untuk menantang status quo masih terbuka di tengah gelombang adopsi AI.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.