Tampilan antarmuka aplikasi klon Microsoft Office buatan ArtCraft yang bernama WordCraft.

ArtCraft Rilis GridCraft, DeckCraft, WordCraft: Klon Microsoft Office Gratis

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • ArtCraft merilis GridCraft, DeckCraft, dan WordCraft sebagai klon open-source Microsoft Office.
  • Aplikasi tersedia gratis dan dapat berjalan tanpa koneksi internet.
  • Langkah ini merupakan kelanjutan dari sukses ArtCraft mereplikasi Adobe Creative Cloud.
  • Microsoft dan Adobe dikritik karena harga langganan tinggi dan fitur yang membatasi.
  • Risiko hukum berupa somasi dari Microsoft dan Adobe masih menghantui proyek ini.

Telset.id – Dunia perangkat lunak kembali dihebohkan oleh langkah berani ArtCraft yang secara resmi mengumumkan kehadiran klon open-source untuk suite Microsoft Office. Langkah ini menandai babak baru dalam kontroversi hak cipta perangkat lunak setelah sebelumnya mereka sukses merilis tiruan dari Adobe Creative Cloud. Bagi pengguna yang selama ini merasa terbebani oleh biaya langganan tahunan yang terus melonjak, kehadiran GridCraft, DeckCraft, dan WordCraft menjadi angin segar yang menawarkan alternatif gratis tanpa perlu koneksi internet yang konstan.

Pengumuman ini disampaikan langsung oleh pengembang ArtCraft, Brandon Thomas, yang menyatakan bahwa aplikasi tiruan dari Excel, PowerPoint, dan Word tersebut sudah dapat diunduh secara bebas melalui situs web resmi ArtCraft. Langkah ini merupakan kelanjutan dari aksi “pembalasan” yang dilakukan oleh komunitas pengembang setelah sebelumnya mereka menggunakan model AI Claude dari Anthropic untuk membongkar dan mereplikasi aplikasi mahal seperti Photoshop dan Lightroom. Menurut keterangan pendiri ArtCraft, Michael Caffrey, kepada Futurism, timnya terkejut dengan hasil rekayasa balik yang mereka lakukan karena fungsionalitasnya dinilai sangat baik, bahkan cenderung lebih unggul dibandingkan produk aslinya.

Kehadiran ketiga aplikasi ini bukan sekadar tiruan biasa. Berdasarkan tangkapan layar yang dilampirkan, antarmuka dan fungsionalitas dari GridCraft, DeckCraft, dan WordCraft disebutkan hampir menyerupai salinan karbon dari aplikasi asli Microsoft. Hal ini tentu menjadi pukulan telak bagi Microsoft yang selama ini mematok harga langganan mulai dari $19,99 hingga $199,99 per tahun untuk paket Office mereka. Di sisi lain, ArtCraft menawarkan model bisnis yang berbeda dengan menyediakan kredit opsional untuk pembuatan gambar dan video AI yang didukung oleh Google Nano Banana Pro, memberikan nilai tambah bagi pengguna kreatif yang membutuhkan alat produksi konten.

Alasan utama di balik maraknya adopsi alat open-source ini tidak lepas dari kebijakan vendor besar yang dinilai semakin memberatkan pengguna. Baik Adobe maupun Microsoft disebutkan tidak melakukan banyak upaya untuk menenangkan basis pengguna mereka. Harga yang melonjak tinggi selama bertahun-tahun disertai dengan langganan yang semakin membatasi—seperti keharusan masuk akun, aktivasi lisensi, dan koneksi internet yang selalu aktif—menjadi pemicu utama kekecewaan. Selain itu, kedua perusahaan ini juga dikritik karena mengenakan biaya lebih untuk fitur-fitur yang tidak pernah diminta oleh sebagian besar pengguna, termasuk fitur kecerdasan buatan generatif yang kini menjadi tren di industri teknologi.

Keunggulan kompetitif lain yang ditawarkan oleh ArtCraft adalah sifat aplikasinya yang berdiri sendiri alias standalone. Berbeda dengan Google Sheets, Docs, dan Slides yang memang gratis namun bergantung pada koneksi internet dan kebijakan perusahaan teknologi besar, aplikasi buatan ArtCraft ini dapat berjalan tanpa koneksi internet. Pengguna tidak perlu khawatir akan nasib data mereka jika suatu saat Google memutuskan untuk menarik biaya langganan secara tiba-tiba. Kemandirian ini memberikan kontrol penuh kepada pengguna atas perangkat lunak yang mereka gunakan sehari-hari untuk produktivitas.

A screenshot of ArtCraft's Microsoft Office Word clone.

Meskipun menawarkan solusi gratis dan kemandirian, langkah ArtCraft ini tidak lepas dari risiko hukum. Pertanyaan besar yang kini mengemuka adalah seberapa lama ArtCraft dapat mempertahankan momentumnya sebelum kotak masuk email mereka dibanjiri surat somasi atau cease and desist dari raksasa teknologi seperti Microsoft dan Adobe. Namun, bagi para pengguna yang selama ini merasa terbebani dengan biaya langganan yang mahal, langkah ini dianggap sebagai kemenangan yang memuaskan. Bagi komunitas open-source, ini adalah pembuktian bahwa kontribusi mereka selama puluhan tahun yang menjadi fondasi bagi banyak perusahaan teknologi kini membuahkan hasil yang setimpal.

Michael Caffrey menyebut fenomena ini sebagai “karma kosmik”. Ia menyoroti bagaimana industri teknologi telah lama bergantung pada komunitas open-source untuk menjalankan operasional perusahaan mereka, dan kini model AI dilatih menggunakan kode open-source tersebut. ArtCraft hadir sebagai simbol perlawanan terhadap dominasi perangkat lunak berbayar yang dinilai tidak lagi ramah bagi pengguna. Dengan hadirnya PC Creator yang mendukung alur kerja kreatif, pengguna kini memiliki lebih banyak pilihan untuk menentukan perangkat lunak mana yang sesuai dengan kebutuhan dan anggaran mereka.

Bagi para profesional dan pelajar di Indonesia, kehadiran alternatif seperti WordCraft dan GridCraft dapat menjadi solusi untuk mengurangi biaya operasional tanpa mengorbankan fungsionalitas. Namun, perlu diingat bahwa status hukum dari perangkat lunak ini masih abu-abu dan bergantung pada bagaimana perusahaan asal menanggapi pelanggaran hak cipta yang terjadi. Pengguna disarankan untuk tetap bijak dalam memilih perangkat lunak yang mendukung produktivitas jangka panjang, terutama dengan semakin canggihnya fitur-fitur yang ditawarkan oleh perangkat kreator modern seperti yang terlihat pada LG OLED evo 2026.

Pada akhirnya, fenomena ArtCraft ini mencerminkan ketegangan yang sedang berlangsung antara inovasi open-source dan perlindungan hak kekayaan intelektual. Meskipun menawarkan solusi instan bagi pengguna yang frustrasi dengan biaya tinggi, keberlanjutan proyek ini akan sangat bergantung pada bagaimana mereka menavigasi tekanan hukum dari pemain industri besar. Masyarakat pengguna teknologi kini menantikan apakah langkah ArtCraft ini akan memicu gelombang serupa di industri perangkat lunak lain, atau justru menjadi preseden yang mengubah cara perusahaan besar memandang model bisnis langganan mereka.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.