Telset.id – Ribuan pengguna ponsel Android murah di berbagai belahan dunia menjadi korban malware yang sudah tertanam di level firmware sebelum perangkat dikirim ke toko. Temuan peneliti keamanan Bitdefender ini mengungkap bagaimana rantai pasok sejumlah produsen smartphone dikompromikan, membuat malware hampir mustahil dihapus oleh pengguna awam.
Malware tersebut tidak hanya menghasilkan pendapatan iklan ilegal, tetapi juga mengubah perangkat yang terinfeksi menjadi residential proxy yang bisa disalahgunakan untuk berbagai kejahatan siber. Inilah yang membuat kasus ini jauh lebih berbahaya dibanding malware Android biasa yang biasanya menuntut korban mengunduh aplikasi secara manual.
Menurut laporan Bitdefender, aktor ancaman yang belum teridentifikasi berhasil menyusup ke rantai pasok beberapa produsen smartphone dan menanamkan malware pada level firmware sebelum perangkat dikirim ke toko. Sejumlah merek yang disebut dalam laporan mencakup Doogee S200 X, Doogee Fire 3 Max, dan Cubot KINGKONG X, yang merupakan produsen ponsel Android murah asal China dengan desain tangguh. Laporan juga menyebut adanya perangkat tiruan yang mengaku-ngaku sebagai produk Samsung dan Apple.
Secara umum, perangkat yang terinfeksi menggunakan chipset MediaTek. Infeksi pada level ini memungkinkan penyerang memodifikasi aplikasi, memberikan hak istimewa lebih tinggi bagi diri mereka sendiri, hingga melakukan serangan remote code execution (RCE) tanpa diketahui korban.
Dampak Global dan Modus Operandi Malware
Perangkat yang terinfeksi telah dikirim ke seluruh dunia. Bitdefender mengklaim “ribuan” orang menjadi korban, tersebar di sekitar 150 negara, dengan konsentrasi tertinggi ditemukan di Meksiko, Prancis, Italia, Amerika Serikat, Jerman, Brasil, dan Spanyol.
Malware ini hadir dalam berbagai bentuk. Sejauh ini, Bitdefender menemukan 32 aplikasi berbahaya, termasuk yang menyamar sebagai aplikasi cuaca, file manager, app locker, alat OCR, dan editor audio. Semua aplikasi tersebut melakukan hal yang sama: membuat overlay tak terlihat di atas berbagai aplikasi dan mendaftarkan iklan sebagai telah dilihat, padahal pengguna tidak pernah benar-benar melihatnya. Dengan cara itu, pihak yang menanamkan malware menipu jaringan iklan agar mengira iklan telah ditayangkan ke ribuan pengguna, yang kemudian menghasilkan keuntungan.
Belum diketahui secara pasti berapa banyak perangkat yang terkompromi dengan cara ini, atau berapa besar uang yang dicuri para pelaku melalui skema tersebut.
“Aplikasi sistem itu sendiri tidak mendaftarkan impresi dan klik palsu,” kata Bitdefender. “Mesin pendapatan digerakkan oleh aplikasi cover yang dijatuhkan, termasuk aplikasi cuaca, app-lock, catatan, dan OCR yang tampak asli, yang memuat iklan asli melalui SDK iklan yang sah. Tujuannya sederhana: memuat jendela tak terlihat di atas aplikasi yang mendaftarkan iklan sedang ditampilkan.”

Bitdefender juga mengungkap bahwa salah satu aplikasi yang ditemukan, yakni app locker, mengandung elemen TCP proxy yang mendaftarkan ponsel yang terkompromi ke server perintah jarak jauh. Setelah registrasi berhasil, penyerang dapat meneruskan lalu lintas melalui ponsel, pada dasarnya menciptakan layanan residential proxy yang bisa digunakan kriminal untuk berbagai hal, mulai dari meluncurkan serangan DDoS hingga terlibat dalam spam dan penipuan transfer bank.
Selain itu, peneliti menemukan lebih dari selusin aplikasi di Google Play Store dengan kode iklan curang yang sama, serta infrastruktur komunikasi yang sama. Namun, aplikasi-aplikasi ini memerlukan instalasi manual dan meminta pengguna memberikan izin yang diminta, yang mungkin memicu kecurigaan pengguna.
Baca Juga:
Membersihkan Malware Butuh Langkah Ekstra
Menghapus malware ini bukan sekadar meng-uninstall aplikasi. Para peneliti menyatakan bahwa banyak perangkat memerlukan pembersihan di level firmware, atau menonaktifkan komponen berbahaya menggunakan Android Debug Bridge (ADB), yang bisa terlalu teknis bagi banyak korban.
Solusi yang lebih mudah sekaligus lebih elegan juga lebih mahal: jangan membeli perangkat dari merek dengan reputasi meragukan. Pengguna yang ingin melindungi perangkatnya dapat mempertimbangkan opsi perlindungan tambahan, sejalan dengan pembahasan soal keamanan perangkat yang semakin relevan di pasar.
Bitdefender, sebagai peneliti yang mengungkap kasus ini, juga dikenal sebagai pengembang solusi antivirus. Dalam panduan antivirus terbaik versi TechRadar, Bitdefender Total Security disebut sebagai pilihan terbaik secara keseluruhan, diikuti Norton 360 with LifeLock untuk keluarga, dan McAfee Mobile Security untuk perangkat mobile.
Kasus ini menegaskan bahwa ancaman siber tidak selalu datang dari aplikasi yang diunduh pengguna. Ketika malware sudah tertanam di firmware sejak pabrik, lapisan pertahanan pengguna menjadi jauh lebih tipis. Bagi siapa pun yang mempertimbangkan membeli ponsel Android murah, terutama dari merek yang kurang dikenal, kewaspadaan terhadap asal-usul perangkat menjadi bagian penting dari keamanan digital sehari-hari.
[END_CONTENT]





Komentar
Belum ada komentar.