Telset.id – Microsoft dan Nvidia telah menghabiskan delapan bulan kerja intensif untuk merombak fundamental Windows 11 agar kompatibel dengan platform RTX Spark. Hasilnya, laptop dengan CPU Arm Nvidia dan GPU RTX desktop-class kini mampu berjalan optimal, menandai perubahan besar dalam upaya menjadikan PC gaming berbasis Arm sebuah kenyataan.
Peter Dawoud, Principal Product Manager Microsoft, menyatakan bahwa kerja sama ini merupakan fondasi penting. “Windows kind of had to get all these subsystems right all at the same time, so that you can enjoy an RTX Spark device and take the most advantage out of it,” ujarnya.
Perombakan Prism Emulator dan UI Windows 11
Salah satu tantangan terbesar dalam menjalankan game di Windows on Arm adalah masalah emulasi. Dawoud menjelaskan bahwa dalam gaming, yang terpenting bukan hanya rata-rata FPS, tetapi juga stabilitas frame rate dan kontrol stuttering yang sangat dipengaruhi oleh CPU.
Untuk mengatasi hal ini, Microsoft melakukan overhaul besar-besaran pada lapisan emulasi Prism. Dengan memperbaiki cara tugas dialokasikan ke setiap thread CPU, frame rate menjadi jauh lebih stabil dibandingkan versi sebelumnya.
Microsoft juga membersihkan berbagai aspek UI Windows 11 untuk mendukung perangkat RTX Spark. Pembaruan mencakup kustomisasi taskbar native, notifikasi yang dapat diatur, penghapusan widget yang tidak diinginkan, serta pengingatan pengaturan layar untuk display yang terhubung. Tujuannya jelas, yakni membuat sistem operasi tidak menghalangi pengguna dalam bekerja.

Fondasi Teknis untuk AI dan Performa
Platform RTX Spark juga dirancang untuk mendukung local agentic AI. Dalam demonstrasi, agen bernama Hermes Agent mampu mengatur agenda harian, menyusun draf email di Gmail, dan memperbarui project tracker di Google Docs secara on-device tanpa bantuan cloud AI.
Untuk keamanan, Microsoft memperkenalkan Microsoft Extension Containers (MXC), yaitu sandbox terisolasi yang memungkinkan model AI lokal beroperasi di desktop tanpa membocorkan kontrol sistem yang sensitif. Dawoud menegaskan pentingnya kendali pengguna atas agen AI tersebut.
Dari sisi manajemen daya, RTX Spark menggunakan open-source Modern Power and Thermal Framework. Ini memungkinkan Windows mengontrol semua tuning thermal dan power secara native, menghilangkan kebutuhan akan software tambahan dari OEM. Pengguna cukup mengatur performa terbaik langsung dari Windows tanpa harus membuka aplikasi lain.

Salah satu kunci teknis lainnya adalah dukungan Unified Memory Architecture (UMA). CPU dan GPU memiliki cara berbeda dalam memproses memori, di mana CPU menyukai halaman kecil 4-kilobyte, sementara GPU membutuhkan blok besar hingga 2-megabyte. Microsoft menambahkan variable page sizing ke memory manager agar Windows dapat mendistribusikan data secara dinamis ke komponen yang tepat secara bersamaan.
Nvidia juga menggunakan konfigurasi core proprietary pada CPU Grace 18 dan 20 core yang berbeda dari chip Snapdragon X. Windows 11 kini memiliki profiling stack baru yang dapat menyesuaikan scheduler secara dinamis dengan arsitektur unik Nvidia tanpa merusak kompatibilitas dengan perangkat lama.
Kolaborasi selama 14 tahun antara Microsoft dan Nvidia, yang dimulai sejak era Surface RT dengan chip Tegra, akhirnya membuahkan hasil yang signifikan. RTX Spark bukan sekadar penambahan GPU pada prosesor Arm, melainkan penulisan ulang aturan main di balik layar untuk memastikan pengalaman PC gaming berbasis Arm dapat berjalan mulus.
[CONTENT_END]





Komentar
Belum ada komentar.