📑 Daftar Isi

Grafik penurunan laba pabrikan mobil China akibat krisis chip dan biaya material

Biaya Material dan Chip Dongkrak Kerugian Empat Pabrikan Mobil China

Penulis:Ida Farida
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • Empat dari enam pabrikan mobil China melaporkan kerugian bersih di semester I-2026.
  • GAC Group rugi hingga 4,57 miliar yuan, Seres dan BAIC Bluepark juga merugi besar.
  • Changan Auto dan Great Wall Motor alami penurunan laba signifikan.
  • Krisis chip penyimpanan perparah situasi dengan harga kontrak naik lebih dari dua kali lipat.
  • Pabrikan hadapi tekanan ganda: biaya naik dan permintaan domestik turun 20,2 persen.
  • Perusahaan seperti GM, Ford, dan Nio mulai jalin perjanjian pasokan chip jangka panjang.

Telset.id – Empat dari enam pabrikan mobil China yang melaporkan prakiraan keuangan semester I-2026 mencatatkan kerugian bersih, sementara dua lainnya mengalami penurunan laba hingga nyaris 60 persen. Tekanan dari rantai pasok hulu menjadi tantangan bersama yang sulit dicerna dalam jangka pendek.

Laporan yang dirilis pada 17 Juli 2026 oleh Liu Miao dari CarNewsChina ini mengungkapkan bahwa kenaikan biaya bahan baku seperti litium karbonat, tembaga, dan aluminium, serta komponen semikonduktor, menjadi biang keladi utama. Kondisi ini diperparah oleh penurunan permintaan domestik dan persaingan harga yang semakin sengit.

GAC Group memproyeksikan kerugian bersih sebesar 4,06 hingga 4,57 miliar yuan (sekitar 590–660 juta USD). Faktor utama yang disebutkan meliputi biaya bahan baku, investasi penjualan, penurunan penjualan joint venture, serta fluktuasi nilai tukar. Sementara itu, Changan Auto memperkirakan laba bersihnya akan turun 57,66 persen hingga 67,7 persen, menjadi hanya 740–970 juta yuan (110–140 juta USD).

Seres, pabrikan yang dikenal dengan kemitraannya bersama Huawei, justru berbalik arah menjadi rugi. Perusahaan ini memperkirakan kerugian sebesar 1,5 hingga 1,8 miliar yuan (220–260 juta USD) akibat perubahan biaya rantai pasok dan bahan baku. BAIC Bluepark juga tidak luput dari tekanan, dengan proyeksi kerugian 1,77 hingga 1,97 miliar yuan (260–290 juta USD) yang dikaitkan dengan investasi riset dan pengembangan serta kurangnya skala ekonomi.

JAC Motors diperkirakan mengalami kerugian 740 juta yuan (110 juta USD) karena penurunan penjualan dan dampak nilai tukar. Satu-satunya pabrikan yang masih mencatatkan laba namun dengan penurunan signifikan adalah Great Wall Motor, yang labanya tergerus akibat penundaan subsidi pajak di luar negeri dan fluktuasi mata uang.

Krisis Chip Penyimpanan Memperparah Keadaan

Selain komoditas tradisional, krisis chip penyimpanan (storage chip) menjadi faktor biaya yang paling sulit dikelola. Lonjakan permintaan untuk kecerdasan buatan (AI) dan pusat data telah membuat produsen chip memprioritaskan sektor dengan margin tinggi, menyebabkan kelangkaan pasokan chip kelas otomotif.

Menurut data TrendForce yang dikutip oleh Jiemian News, harga kontrak untuk chip penyimpanan generasi tertentu telah meningkat lebih dari dua kali lipat pada paruh pertama 2026. Kenaikan lebih lanjut sebesar 60 hingga 70 persen diperkirakan terjadi di paruh kedua tahun ini. Berbeda dengan material lain, chip ini tidak memiliki instrumen lindung nilai finansial seperti kontrak berjangka, sehingga pabrikan mobil harus berebut pasokan.

Ilustrasi kelangkaan chip otomotif yang menjadi krisis baru bagi industri mobil China.

Menanggapi situasi ini, perusahaan seperti General Motors, Ford, dan Nio mulai menandatangani perjanjian pasokan jangka panjang atau membentuk kemitraan strategis dengan pemasok chip. Langkah ini diharapkan dapat memberikan stabilitas pasokan di tengah ketidakpastian harga.

Tekanan Ganda pada Profitabilitas

Pabrikan mobil China saat ini menghadapi “tekanan ganda” (double squeeze). Pertama, kenaikan biaya material dan komponen diperkirakan meningkatkan biaya per kendaraan setidaknya 4.000 hingga 7.000 yuan (600–1.000 USD). Untuk beberapa model mewah, kenaikannya bisa mencapai 10.000 yuan (1.500 USD).

Kedua, permintaan domestik yang menyusut memperparah situasi. Penjualan ritel mobil penumpang di China turun 20,2 persen pada paruh pertama 2026. Untuk mempertahankan pangsa pasar, perusahaan terpaksa memberikan diskon dan subsidi besar-besaran, sambil tetap mendanai peluncuran produk baru yang mencapai rata-rata 3,6 model per hari dalam lima bulan pertama tahun ini.

Kondisi ini menciptakan lingkaran setan: di satu sisi biaya produksi membengkak, di sisi lain pendapatan tertekan oleh perang harga. Margin keuntungan yang tipis membuat pabrikan kesulitan untuk berinvestasi dalam teknologi baru atau ekspansi pasar.

Prospek dan Dampak bagi Industri

S&P Global Ratings menyampaikan kepada Jiemian News bahwa dengan permintaan domestik yang kemungkinan besar tidak akan pulih tajam dalam waktu dekat, pabrikan mobil akan terus menghadapi tekanan pada arus kas dan margin. Profitabilitas diperkirakan akan berbeda antar perusahaan: mereka yang memiliki campuran produk kelas atas, skala ekonomi yang kuat, dan operasi luar negeri yang stabil lebih mampu menyerap biaya ini.

Sebaliknya, perusahaan kecil atau yang sangat bergantung pada segmen margin rendah menghadapi masa depan yang semakin genting. Hal ini bisa memicu gelombang konsolidasi di industri otomotif China, di mana pemain besar akan semakin dominan sementara pemain kecil mungkin harus bergabung atau gulung tikar.

Fenomena ini juga relevan dengan tren global di industri teknologi, di mana biaya komponen semikonduktor menjadi isu krusial. Untuk memahami lebih lanjut tentang bagaimana inovasi kamera motorik diadopsi di pasar, Anda bisa membaca artikel tentang Pivot Rising Camera dari Oppo yang menunjukkan efisiensi desain.

Selain itu, strategi ekspansi pabrikan seperti Advan melalui program Rising Star menunjukkan bagaimana perusahaan mencoba bertahan di tengah persaingan ketat dengan meluncurkan berbagai model baru.

Kesimpulannya, pabrikan mobil China harus segera beradaptasi dengan realitas biaya baru ini. Mereka yang mampu mengelola rantai pasok secara efisien, berinvestasi dalam teknologi produksi yang lebih hemat biaya, dan memperkuat posisi di segmen pasar yang menguntungkan akan memiliki peluang lebih besar untuk bertahan dan berkembang di tengah badai ekonomi ini.

Dampak dari krisis ini tidak hanya dirasakan di China, tetapi juga akan mempengaruhi pasar global mengingat posisi China sebagai produsen dan konsumen mobil terbesar di dunia. Kenaikan harga mobil China di pasar ekspor bisa menjadi konsekuensi logis dari tekanan biaya ini.

Sementara itu, konsumen mungkin akan melihat lebih sedikit pilihan mobil murah di pasaran, karena pabrikan fokus pada model dengan margin lebih tinggi untuk bertahan hidup. Hal ini bisa mengubah lanskap industri otomotif secara fundamental dalam beberapa tahun ke depan.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.