Ilustrasi robot humanoid Atlas buatan Boston Dynamics dengan latar belakang pabrik Hyundai

Buruh Hyundai Ancam Mogok Massal Lawan Robot Humanoid

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • Buruh Hyundai Korea Selatan ancam mogok massal lawan rencana penempatan 25.000 robot humanoid
  • Aksi mogok parsial sudah dimulai, pekerja menolak kerja 4 jam per shift
  • Produksi 5.000 mobil terancam, potensi kerugian mencapai 135 juta dolar AS
  • Robot Atlas buatan Boston Dynamics jadi sumber ketegangan
  • Tuntutan buruh: jaminan kerja, bonus lebih besar, gaji tetap, dan hak veto atas otomatisasi
  • Ini pertama kalinya mogok massal terjadi secara spesifik karena robot humanoid

Telset.id – Ribuan buruh pabrik Hyundai di Korea Selatan mengancam akan melakukan mogok massal sebagai respons terhadap rencana perusahaan yang akan menempatkan lebih dari 25.000 robot humanoid di lini produksi. Aksi ini merupakan yang pertama dalam sejarah terkait langsung dengan ancaman robot humanoid di tempat kerja.

Pada akhir Juni lalu, ribuan anggota Serikat Pekerja Logam Korea (KMWU) memberikan suara untuk mengesahkan aksi mogok. Keputusan ini diambil setelah Hyundai mengumumkan rencana ambisiusnya untuk menggelar ribuan robot di seluruh pabriknya. Kini, aksi mogok parsial telah berlangsung dan mulai memperlambat produksi di salah satu pabrik Hyundai hingga hampir terhenti.

Menurut laporan Wall Street Journal, para pekerja memulai mogok parsial setelah negosiasi dengan manajemen gagal minggu lalu. Sejak Senin, para pekerja menolak bekerja selama empat jam dari setiap shift. Akibatnya, lini produksi terhenti selama setengah hari kerja.

Dampak ekonomi dari aksi ini sudah mulai terasa. Berdasarkan laporan WSJ, penghentian produksi parsial ini diperkirakan akan mengganggu produksi sekitar 5.000 unit mobil. Lebih parah lagi, pendapatan penjualan Hyundai diproyeksikan berkurang sekitar 135 juta dolar AS akibat aksi mogok ini.

Jika Hyundai memilih untuk bertahan dengan rencananya, serikat pekerja menyatakan siap meningkatkan aksi mogok. Mereka bisa memperpanjang durasi mogok, meningkatkannya menjadi mogok penuh, atau bahkan melakukan keduanya sekaligus.

Aksi ini menjadi momen penting dalam sejarah ketenagakerjaan. Untuk pertama kalinya, sebuah serikat pekerja melakukan mobilisasi massal secara spesifik menentang penggunaan robot humanoid di pabrik.

Ilustrasi robot humanoid Atlas buatan Boston Dynamics yang menjadi sumber perselisihan antara buruh Hyundai dan manajemen perusahaan

Robot Atlas Jadi Sumber Ketegangan

Yang menjadi pokok persoalan adalah ancaman Hyundai untuk menempatkan ribuan robot model “Atlas” buatan Boston Dynamics. Robot humanoid ini berdiri setinggi sekitar 6 kaki 2 inci (188 cm) dan mampu mengangkat beban maksimal 110 pon (sekitar 50 kg).

Menariknya, robot-robot tersebut belum benar-benar ditempatkan di pabrik. Namun, para pengurus serikat pekerja menjelaskan bahwa mogok ini dilakukan agar para pekerja memiliki kekuatan untuk menegosiasikan ulang kontrak kerja mereka sebelum gelombang otomatisasi benar-benar dimulai.

“Kami harus bersiap untuk memastikan ada perlindungan yang memadai,” kata Sekretaris Jenderal KMWU sekaligus negosiator utama Byun Jun-hwan kepada WSJ.

Secara spesifik, tuntutan serikat pekerja meliputi beberapa poin penting. Pertama, jaminan keamanan kerja yang dirancang khusus untuk mengantisipasi dampak AI dan otomatisasi. Kedua, bonus yang lebih besar yang mencerminkan margin keuntungan Hyundai. Ketiga, transisi dari sistem upah per jam menuju sistem gaji tetap. Dan yang terakhir, kesepakatan formal yang memberikan hak veto kepada pekerja atas setiap rencana penempatan robot humanoid.

Dampak Lebih Luas

Kasus Hyundai ini menjadi preseden penting bagi industri manufaktur global. Ketegangan antara buruh dan manajemen terkait otomatisasi sebenarnya sudah berlangsung lama, tetapi aksi mogok khusus menentang robot humanoid adalah sesuatu yang baru.

Jika Hyundai menyerah pada tuntutan buruh, hal ini bisa menjadi pukulan telak bagi ambisi perusahaan untuk memimpin era otomatisasi pabrik. Sebaliknya, jika Hyundai bertahan, eskalasi mogok bisa menghentikan total produksi dan menyebabkan kerugian yang jauh lebih besar.

Situasi ini juga menjadi peringatan bagi perusahaan-perusahaan lain yang berencana mengadopsi robot humanoid. Ke depannya, negosiasi dengan serikat pekerja soal otomatisasi kemungkinan akan menjadi bagian tak terpisahkan dari strategi bisnis perusahaan manufaktur.

Perselisihan serikat pekerja seperti ini juga terjadi di sektor lain, seperti yang dialami Microsoft terkait tuduhan pelanggaran hukum ketenagakerjaan.

Dengan kerugian potensial mencapai 135 juta dolar AS dan produksi 5.000 mobil terancam, tekanan pada Hyundai untuk mencapai kesepakatan dengan buruh semakin besar. Keputusan yang diambil dalam waktu dekat akan menentukan arah hubungan industrial di era robot humanoid.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.