Telset.id – BYD kembali mengguncang pasar otomotif global. Bocoran terbaru dari Kementerian Perindustrian dan Teknologi Informasi China (MIIT) mengungkapkan kehadiran BYD Qin Plus generasi baru. Model plug-in hybrid (PHEV) ini tidak hanya tampil dengan desain eksterior yang segar, tetapi juga dibekali sensor LiDAR di atap, menandai lompatan besar dalam teknologi mengemudi otonom untuk segmen mobil massal.
Berdasarkan data homologasi domestik yang dirilis MIIT pada Juli 2026, BYD Qin Plus terbaru ini telah mengajukan izin penjualan dan siap meluncur ke pasar. Menariknya, mobil ini rencananya akan dirakit di enam pabrik BYD secara bersamaan. Ini menunjukkan betapa besarnya ekspektasi BYD terhadap model ini, mengingat Qin Plus generasi sebelumnya merupakan salah satu mobil terlaris mereka.
Sepanjang tahun 2024, Qin Plus mencatatkan rekor penjualan tertinggi sepanjang masa dengan total 480.025 unit terjual di pasar domestik China. Angka fantastis ini membuktikan posisi kuat model ini di hati konsumen. Kini, BYD berusaha mempertahankan dominasi tersebut dengan menyematkan teknologi yang biasanya hanya ada di mobil premium ke dalam kendaraan yang lebih terjangkau.
Desain Lebih Tajam dan Dimensi Membesar
Dari segi tampilan, BYD Qin Plus baru mengadopsi bahasa desain Loong Face (Dragon Face) yang khas dengan bagian depan tertutup. Mobil ini memiliki air intake besar, lampu depan tajam, dan elemen krom yang menghubungkan kedua lampu tersebut. Gagang pintu masih menggunakan model konvensional, sementara lampu belakang menyatu dalam satu unit.
Perubahan paling signifikan terletak pada dimensi. BYD Qin Plus baru memiliki panjang 4.840 mm, lebar 1.900 mm, dan tinggi 1.498 mm dengan jarak sumbu roda 2.800 mm. Jika dibandingkan dengan model sebelumnya, mobil ini 60 mm lebih panjang, 63 mm lebih lebar, dan 17 mm lebih tinggi. Jarak sumbu roda pun mengalami peregangan sebesar 82 mm. Ini memberikan ruang kabin yang lebih lega.
Mobil ini menggunakan velg 16 atau 17 inci. Overhang depan dan belakang masing-masing adalah 978 mm dan 1.062 mm, dengan sudut approach 13 derajat dan departure 14 derajat. Bobot kosong kendaraan mencapai 1.610 kg, sementara bobot kotor mencapai 2.005 kg.
Menariknya, BYD Qin Plus baru disebut sebagai model kembar dari BYD Qin L yang lebih besar. Bahkan, ada indikasi bahwa kedua model ini berpotensi disatukan menjadi satu lini produk di masa depan. Ini menjadi strategi efisiensi yang menarik untuk diamati, terutama di tengah persaingan ketat yang membuat beberapa merek lain berpotensi menghilang.
Performa PHEV dan Baterai LFP
Di sektor dapur pacu, BYD Qin Plus baru masih mengandalkan powertrain plug-in hybrid DM-i. Mesinnya adalah 1.500 cc 4-silinder naturally aspirated kode BYD472QC yang menghasilkan tenaga 74 kW (99 hp). Tenaga ini dipadukan dengan motor listrik bertenaga 120 kW (161 hp). Kecepatan maksimum mobil ini adalah 180 km/jam.
Untuk baterai, BYD menyediakan dua opsi LFP (Lithium Ferro Phosphate) dengan kapasitas 16,2 kWh dan 24,3 kWh. Dengan kapasitas tersebut, mobil ini mampu menempuh jarak listrik murni antara 107 km hingga 160 km. Konsumsi bahan bakar saat baterai dalam kondisi kosong tercatat sangat irit, yaitu hanya 3,6 – 3,7 liter per 100 km.
Angka-angka ini menunjukkan efisiensi yang luar biasa, menjadikan Qin Plus baru sebagai kendaraan yang sangat ekonomis untuk penggunaan harian. Ini adalah nilai jual utama yang bisa membuat konsumen beralih dari mobil konvensional.
Teknologi Otonom dengan DiPilot 300
Fitur paling menonjol dari BYD Qin Plus baru adalah kehadiran sensor LiDAR di atap. Sensor ini menjadi bagian dari sistem bantuan mengemudi DiPilot 300, atau yang disebut sebagai “God’s Eye B”. Sistem ini memungkinkan mobil menjalankan fungsi Navigate on Autopilot (NOA) di jalan perkotaan dan jalan tol.
Dengan NOA aktif, mobil dapat melaju dari satu alamat ke alamat lain secara otomatis. Namun, pengemudi tetap harus memantau situasi dan siap mengambil alih kendali kapan saja. Ini adalah langkah maju yang signifikan untuk membawa teknologi mengemudi otonom ke mobil dengan harga terjangkau.
Meskipun belum ada konfirmasi resmi, kehadiran LiDAR ini dipastikan akan membuat banderolnya lebih tinggi dibandingkan model saat ini yang dibanderol 79.800 – 99.800 yuan (sekitar Rp 178 juta – Rp 223 juta). BYD sepertinya ingin menawarkan paket teknologi premium dengan harga yang masih kompetitif.
Kesimpulan dan Implikasi Pasar
Kehadiran BYD Qin Plus baru dengan LiDAR menandai era baru di segmen mobil massal. BYD tidak hanya bersaing dalam hal harga dan efisiensi, tetapi juga dalam teknologi otonom. Ini bisa menjadi standar baru yang akan diikuti oleh kompetitor lain.
Jika BYD berhasil mempertahankan harga yang kompetitif, model ini berpotensi menjadi game changer di pasar otomotif global, terutama di negara-negara yang mulai mengadopsi kendaraan listrik secara massal. Langkah ini juga menunjukkan bahwa BYD tidak gentar untuk terus berinovasi, meskipun pasar sedang tidak menentu.
Dengan segala keunggulan yang ditawarkan, BYD Qin Plus baru siap menjadi primadona baru di kelasnya. Kita tunggu saja bagaimana respons pasar dan persaingan yang akan terjadi ke depannya.





Komentar
Belum ada komentar.