Telset.id – CATL menaikkan tahap pengembangan baterai all-solid-state dari platform validasi kelas 10 Ah menjadi uji coba sel sampel 20 Ah. Produsen baterai EV terbesar dunia itu menargetkan produksi skala kecil pada 2027 dan manufaktur massal sekitar 2030, dengan target kepadatan energi sekitar 500 Wh/kg.
Pembaruan ini disampaikan CATL pada 27 Oktober 2026 sebagai jawaban atas pertanyaan investor di platform Hudongyi Shenzhen Stock Exchange. Tim pengembang program baterai solid-state perusahaan kini berjumlah lebih dari 1.000 orang. Namun CATL belum mengonfirmasi angka 500 Wh/kg sebagai spesifikasi sel produksi, dan juga belum mengungkap volume produksi uji coba, daftar pelanggan otomotif, maupun tanggal peluncuran kendaraan yang memakai sel tersebut.
Posisi CATL di pasar masih sangat dominan. Mengutip SNE Research, CATL menguasai 39,9% pangsa pasar baterai EV global sepanjang paruh pertama 2026. Untuk menjaga jarak dari pesaing, perusahaan mengembangkan beberapa kimia baterai sekaligus, termasuk solid-state dan sodium-ion, yang dijanjikan lebih aman, lebih efisien, dan lebih murah dibanding lithium-ion konvensional.
Level 4 dari 9 dan Tantangan Sulfida
Terlepas dari kemajuan uji coba, CATL sendiri menilai teknologinya belum matang. Chairman sekaligus CEO Robin Zeng, dalam Summer Davos Forum Juni 2026, menyebut baterai all-solid-state baru berada di level empat dari skala satu sampai sembilan. Penilaian itu memberi konteks seberapa jauh pekerjaan rumah yang tersisa.
CATL memakai sistem elektrolit padat berbasis sulfida. Material ini menawarkan konduktivitas ionik tinggi dan mudah dibentuk, tetapi menjaga kontak stabil antarkomponen padat tetap menjadi hambatan. Elektroda mengembang dan menyusut saat pengisian serta pengosongan, sehingga desain sel harus mampu mengelola tekanan kontak dan resistansi antarmuka agar performa terjaga.
Persoalan lain, material sulfida perlu dilindungi dari kelembapan karena reaksi dapat melepaskan hidrogen sulfida (H₂S), gas yang beracun. Penanganan material dan kondisi manufaktur karena itu menjadi pertimbangan penting menuju produksi komersial. Target 500 Wh/kg pun memunculkan pertanyaan soal desain elektroda, karena kepadatan energi setinggi itu bisa melibatkan arsitektur anoda berkapasitas lebih besar, termasuk lithium-metal atau anode-less. CATL belum mengungkap konfigurasi anoda pada sel yang masuk pembaruan terbaru ini.
Baca Juga:
Peta Jalan Toyota, Samsung SDI, dan BYD
Jadwal 2027 menempatkan CATL dalam perlombaan yang sama padatnya dengan produsen lain. Toyota dan Idemitsu menargetkan komersialisasi baterai all-solid-state berbasis sulfida untuk kendaraan listrik pada 2027 hingga 2028. Toyota, yang telah menjanjikan baterai solid-state hampir satu dekade, mengklaim prototipe mereka mampu menempuh 1.200 km dan terisi di bawah 10 menit, meski produksinya diperkirakan terbatas dan baru menyentuh pasar massal menjelang akhir dekade.
Samsung SDI menargetkan produksi massal baterai all-solid-state SolidStack pada paruh kedua 2027, dan menyebut robot humanoid sebagai potensi aplikasi awal. Sementara BYD, yang berada di posisi kedua penjualan baterai EV global, berencana meluncurkan kendaraan berbaterai solid-state pertamanya pada 2027. Executive vice president Stella Li menyatakan BYD berada di “posisi terdepan” pada baterai solid-state dan akan membuktikannya tahun depan. Divisi baterainya, FinDreams, menargetkan produksi batch terbatas baterai sulfida all-solid-state pada 2027 dan naik ke produksi massal pada 2030.
Kendati tenggatnya berdekatan, tonggak-tonggak itu tidak sepenuhnya setara. Artinya, produk masing-masing perusahaan belum tentu tiba di pasar pada waktu yang sama, dengan volume yang sebanding, atau performa yang ekuivalen. Perlu dicatat pula, kemajuan desain semi-solid tidak dengan sendirinya membuktikan sebuah perusahaan telah melewati tantangan antarmuka, daya tahan, dan manufaktur sel all-solid-state.
Bagi CATL, tantangan utamanya adalah mengubah pekerjaan pengembangan saat ini menjadi produksi yang repetitif dan kompetitif secara biaya. Daya tahan, hasil produksi, biaya, keselamatan, dan performa di kondisi operasi nyata akan menentukan apakah sel-sel itu layak dipakai kendaraan produksi. Sebagai pembanding, lini baterai lain juga bergerak cepat; Li Auto i6 bahkan diklaim menembus 811 km tanpa baterai CATL, sementara Aiva ME7 justru mengandalkan pasokan CATL. Di sisi lain, ekspansi jaringan tukar baterai CATL menunjukkan perusahaan tidak bertumpu pada satu jalur teknologi saja.
Yang pasti, kimia baterai baru dan teknologi yang terus berkembang akan membuat EV makin efisien, membuka jarak tempuh lebih panjang, pengisian lebih cepat, dan performa lebih baik. Baterai solid-state kerap disebut “cawan suci” teknologi baterai, tetapi ia hanya satu bagian dari persamaan. CATL, BYD, dan pemain lain tetap menggenjot lithium iron phosphate (LFP) serta sodium-ion yang pada akhirnya menawarkan opsi lebih murah dan efisien untuk beragam kebutuhan performa. Baterai Blade LFP generasi kedua BYD, contohnya, sudah mengklaim lebih dari 1.000 km jarak CLTC.
Dengan uji coba 20 Ah baru berjalan dan produksi massal masih empat tahun lagi, 2027 akan menjadi ujian pertama: siapa yang benar-benar bisa mengirim sel solid-state dalam jumlah berarti, bukan sekadar mengumumkan tonggak di atas kertas.





Komentar
Belum ada komentar.