📑 Daftar Isi

China Targetkan Baterai Solid-State Massal 2030, CATL Beri Peringatan

China Targetkan Baterai Solid-State Massal 2030, CATL Beri Peringatan

Penulis:Ida Farida
Terbit:
Diperbarui:
⏱️5 menit membaca
Bagikan:
  • China menargetkan penyebaran besar-besaran baterai solid-state pada 2030 melalui roadmap industri baru yang dirilis 28 September
  • CATL memperingatkan hambatan biaya dan manufaktur masih menghalangi adopsi massal baterai solid-state
  • Chairman CATL Robin Zeng menilai kesiapan teknologi solid-state baru di level 4 dari 9, adopsi jutaan kendaraan tidak mungkin sebelum akhir dekade
  • CATL berencana memulai produksi terbatas pada 2027, tetapi volume besar akan sulit dicapai
  • LG Energy Solution juga menyoroti sulitnya memproduksi sel solid-state berukuran besar
  • BloombergNEF memproyeksikan solid-state hanya 10% dari permintaan global EV dan penyimpanan baterai pada 2035
  • Roadmap China juga mencakup baterai sodium, flow, dan target baterai lithium 15.000 siklus
  • China menyumbang 70% produksi mobil listrik global pada periode rencana lima tahun 2021–2025

Telset.id – China menetapkan target ambisius untuk mencapai penyebaran besar-besaran baterai solid-state pada 2030 melalui roadmap industri baterai baru yang dirilis 28 September. Langkah ini bertujuan memperluas keunggulan China yang sudah signifikan di teknologi baterai konvensional ke generasi berikutnya. Namun, produsen baterai terbesar China, CATL, dengan hati-hati mengingatkan bahwa hambatan biaya dan manufaktur masih membentang antara baterai solid-state dan adopsi massal.

Roadmap ini bukan sekadar dokumen industri biasa. Menurut South China Morning Post, target China untuk menguasai baterai solid-state secara massal adalah bagian dari strategi nasional yang lebih luas. Kementerian Industri dan Teknologi Informasi China (MIIT) bahkan mengakui bahwa industri baterai China saat ini menghadapi masalah, termasuk kekurangan dalam inovasi dan ketidakseimbangan antara pasokan dan permintaan. Pengakuan ini menunjukkan bahwa di balik ambisi besar, ada realitas yang tidak bisa diabaikan begitu saja.

Yang jelas, memiliki basis manufaktur dan riset yang sangat besar memberikan China titik awal yang kuat. Namun, China juga perlu menemukan solusi rekayasa yang diperlukan untuk benar-benar mewujudkannya. Ini bukan soal keinginan, melainkan soal kemampuan eksekusi di lapangan.

Peringatan CATL dan Realitas Kesulitan Manufaktur

Beberapa bulan sebelum roadmap ini muncul, pada musim panas sebelumnya, Chairman CATL Robin Zeng menilai teknologi solid-state berada di level empat dari sembilan pada skala kesiapan, dengan sembilan mewakili kesiapan produksi massal. Zeng juga menyatakan bahwa adopsi di jutaan kendaraan tidak mungkin terjadi sebelum akhir dekade ini karena performa dan biaya masih menjadi hambatan. Penilaian ini bukan sekadar pesimisme, melainkan cerminan dari kompleksitas teknologi yang sedang dihadapi seluruh industri global.

CATL sendiri telah mengonfirmasi rencana untuk memulai produksi terbatas baterai solid-state pada 2027, tetapi mereka menyarankan bahwa beralih ke volume yang jauh lebih besar akan sulit. Artinya, 2030 kemungkinan menjadi titik awal bagi baterai ini untuk mencapai lebih banyak mobil, bukan tahun di mana baterai ini tiba-tiba menjadi standar industri secara menyeluruh. Ada perbedaan besar antara “bisa diproduksi” dan “bisa diproduksi dalam jumlah yang cukup untuk mengubah pasar.”

Peringatan serupa juga datang dari tempat lain. Presiden LG Energy Solution untuk Amerika Utara, Robert Lee, menyoroti sulitnya memproduksi sel solid-state berukuran besar. Ia juga memperkirakan bahwa aplikasi mass-market pertama tidak akan hadir di kendaraan listrik. Dengan kata lain, baterai solid-state mungkin akan muncul lebih dulu di perangkat atau aplikasi lain sebelum benar-benar masuk ke mobil listrik yang terjangkau.

Saat ini, baterai semi-solid-state sudah mencapai kendaraan di China dalam jumlah terbatas. Namun, perkenalan tersebut tidak boleh disalahartikan sebagai bukti bahwa baterai all-solid-state sudah siap untuk adopsi luas. Ada garis pemisah yang jelas antara semi-solid-state dan all-solid-state, dan garis itu tidak bisa diseberangi hanya dengan optimisme.

Sebuah perkiraan dari BloombergNEF memproyeksikan bahwa teknologi solid-state hanya akan menyumbang 10% dari gabungan permintaan global untuk EV dan penyimpanan baterai pada 2035. Angka ini memberikan perspektif yang lebih realistis tentang seberapa cepat adopsi sebenarnya akan terjadi. Sepuluh persen dalam satu dekade bukanlah revolusi instan, melainkan evolusi bertahap yang membutuhkan kesabaran dan investasi jangka panjang.

Roadmap Lebih Luas dari Sekadar Solid-State

Roadmap baterai China sebenarnya lebih luas dari sekadar teknologi solid-state. Dokumen ini mencakup baterai sodium dan flow, keamanan dan performa suhu yang lebih baik, serta kualitas manufaktur yang ditingkatkan. Target terpisah juga menyerukan baterai lithium berumur panjang yang mampu mencapai 15.000 siklus, meskipun itu tidak berarti baterai solid-state akan mendekati angka tersebut. Diversifikasi ini menunjukkan bahwa China tidak menaruh semua telur dalam satu keranjang teknologi.

Dorongan nasional yang terkoordinasi ini tidak boleh dianggap enteng. China menetapkan prioritas ekonomi dan industrinya melalui rencana lima tahun, memberikan arahan bersama kepada lembaga pemerintah dan dunia usaha. Siklus sebelumnya, yang berlangsung antara 2021–2025, menyaksikan China memantapkan dominasi EV-nya: pada akhir periode itu, negara tersebut menyumbang 70% dari produksi mobil listrik global. Roadmap baterai baru untuk 2026–2030 bertujuan membawa keunggulan itu ke generasi teknologi berikutnya.

Keberhasilan China dalam mendominasi produksi EV global selama periode 2021–2025 memberikan fondasi yang kuat. Namun, berpindah dari baterai konvensional ke solid-state bukan sekadar perpanjangan dari kurva pembelajaran yang sama. Ini membutuhkan lompatan dalam ilmu material, proses manufaktur, dan rekayasa produksi yang belum sepenuhnya terpecahkan oleh siapa pun di dunia.

Dalam konteks persaingan global, langkah China ini juga harus dilihat sebagai upaya mempertahankan posisi di tengah tekanan eksternal. Ada dinamika Penyelundupan Chip Nvidia yang menunjukkan betapa ketatnya kontrol teknologi antara China dan Amerika Serikat. Dalam lanskap seperti ini, penguasaan teknologi baterai generasi berikutnya menjadi semakin strategis. Pemerintah AS Desak perusahaan untuk bertindak dalam kasus penyelundupan chip, sementara China bergerak cepat mengamankan rantai pasok baterainya sendiri.

Menariknya, ambisi baterai ini juga beririsan dengan tren lain di industri teknologi China. Misalnya, OnePlus 16 Kunci Baterai 9.000 mAh untuk perangkat konsumen menunjukkan bahwa inovasi baterai tidak hanya terjadi di sektor otomotif. Namun, skala dan kompleksitas baterai untuk kendaraan listrik jauh melampaui baterai ponsel, sehingga terobosan di satu bidang tidak otomatis berarti terobosan di bidang lain.

Pertanyaan besarnya bukan apakah baterai solid-state akan menjadi kenyataan. Teknologi ini sudah dalam pengembangan dan produksi terbatas akan dimulai pada 2027. Pertanyaan sebenarnya adalah seberapa cepat biaya bisa diturunkan dan seberapa cepat manufaktur bisa diskalakan. Tanpa penurunan biaya yang signifikan, baterai solid-state hanya akan menjadi fitur mewah di kendaraan premium, bukan teknologi yang mengubah cara jutaan orang berkendara.

Mendapatkan baterai solid-state ke dalam mobil adalah sebuah tonggak sejarah. Mendapatkannya ke dalam jutaan mobil dengan harga yang wajar adalah pencapaian yang sesungguhnya. Dan berdasarkan peringatan CATL serta proyeksi BloombergNEF, pencapaian itu kemungkinan tidak akan terwujud dalam waktu dekat. Roadmap China untuk 2030 adalah langkah penting, tetapi jalan menuju adopsi massal masih panjang dan penuh dengan tantangan teknis yang belum terpecahkan.

Bagi industri, pesan dari CATL jelas: jangan terjebak dalam euforia. Baterai solid-state memang menjanjikan performa lebih baik, keamanan lebih tinggi, dan potensi pengisian lebih cepat. Namun, janji-janji itu harus dibayar dengan solusi rekayasa yang nyata, bukan sekadar target di atas kertas. China mungkin memiliki sumber daya dan tekad untuk memimpin perlombaan ini, tetapi bahkan raksasa baterai sekalipun mengakui bahwa perjalanan menuju produksi massal masih jauh dari selesai.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.