Telset.id – Para peneliti dari Delft University of Technology dan Wageningen University berhasil menciptakan sistem yang memungkinkan drone merasakan sinyal seperti rasa sakit. Konsep yang terinspirasi dari sistem saraf manusia ini dirancang untuk mendeteksi kerusakan komponen secara dini, mencegah kegagalan fatal, dan bahkan disebut-sebut dapat diterapkan pada mobil otonom.
Penemuan ini pada dasarnya memberikan sistem saraf digital pada drone. Ketika sebuah drone mengalami kerusakan, misalnya pada baling-balingnya, sistem akan mengirimkan sinyal peringatan, mirip dengan cara tubuh manusia mengirim sinyal sakit ke otak untuk menghentikan aktivitas yang dapat memperparah cedera. Teknologi ini dikembangkan sebagai solusi untuk mengatasi kurangnya kesadaran diri (self-awareness) pada mesin.
“Anda dapat membandingkan pendekatan kami dengan cara manusia merasakan sakit,” ujar peneliti utama, Jasper van Beers. “Setelah cedera, rasa sakit memberikan umpan balik langsung tentang kondisi kami dan membantu kami menilai tindakan apa yang masih aman dilakukan. Mesin umumnya tidak memiliki bentuk kesadaran diri seperti ini.”
Sistem kerja teknologi ini cukup unik. Tim peneliti mengembangkan indikator peringatan dini yang disebut sinyal “critical slowing down”. Konsep ini dipinjam dari ekologi, di mana ia digunakan untuk memprediksi keruntuhan ekosistem. Dalam studi yang diterbitkan di Proceedings of the National Academy of Sciences, para peneliti menjelaskan bahwa sistem apa pun, baik biologis maupun rekayasa, mulai menunjukkan perubahan halus pada data sensornya sebelum benar-benar gagal.
Sistem deteksi ini mampu membaca perubahan tersebut secara real-time, tanpa memerlukan model prediktif atau data historis. Ini berarti teknologi ini dapat diintegrasikan ke berbagai perangkat keras yang sudah ada tanpa perlu retrofit.

Untuk menguji sistem ini, para peneliti melakukan percobaan pada quadrotor di fasilitas penelitian drone CyberZoo. Mereka secara bertahap merusak bilah rotor dari kondisi sehat hingga kerusakan ujung sebesar 55%. Hasil pengujian menunjukkan bahwa kehilangan kendali terjadi pada kerusakan ujung bilah sebesar 15% di rotor depan kanan. Sistem yang dikembangkan berhasil menandai ketidakstabilan tersebut sejak awal, saat kerusakan masih dalam tahap akumulasi.
Baca Juga:
## Penerapan pada Mobil Otonom
Konsep yang sama, menurut para peneliti, dapat diterjemahkan langsung ke kendaraan otonom dan sistem bantuan pengemudi tingkat lanjut (ADAS), terutama yang digunakan secara komersial sebagai robotaxi. Sebuah mobil tanpa pengemudi yang menghadapi sensor yang menurun, aktuator yang gagal, atau kondisi jalan yang tidak menguntungkan menghadapi masalah yang persis sama: tidak ada cara untuk merasakan peringatan sebelum kehilangan kendali.
Karena sistem ini bekerja hanya dengan data real-time, ia tidak memerlukan retrofit atau perangkat keras baru. Sistem ini hanya memproses data yang sudah ada. Para peneliti secara eksplisit menyebutkan mobil otonom sebagai aplikasi target, yang tentunya terdengar menarik. Dengan mengadopsi teknologi ini, mobil otonom diharapkan dapat menghindari kecelakaan akibat kegagalan komponen yang tidak terdeteksi.

Teknologi ini menawarkan pendekatan baru dalam keselamatan mesin. Alih-alih menunggu kegagalan terjadi, sistem memberikan peringatan dini berdasarkan data yang ada. Hal ini memungkinkan pengambilan tindakan pencegahan, seperti pengurangan kecepatan atau pengalihan kontrol, sebelum situasi menjadi berbahaya.
Konsep ini mirip dengan bagaimana sistem Fitur Terbaru pada laptop dapat menyesuaikan kinerja berdasarkan beban kerja. Di masa depan, teknologi serupa dapat menjadi standar pada berbagai kendaraan dan perangkat untuk meningkatkan keamanan dan keandalan.
Dengan pendekatan berbasis data real-time dan tanpa kebutuhan perangkat keras tambahan, inovasi dari Delft University of Technology dan Wageningen University ini berpotensi menjadi terobosan penting dalam industri otomotif dan penerbangan tanpa awak. Penerapannya pada mobil otonom dapat secara signifikan mengurangi risiko kecelakaan akibat kegagalan teknis yang tidak terdeteksi.





Komentar
Belum ada komentar.