Telset.id – GAC Aion resmi memperkenalkan seri Ray yang baru dengan meluncurkan Ray 7, sedan listrik mid-to-large yang secara langsung menargetkan Xiaomi SU7. Model ini menjadi yang pertama memakai logo terbaru merek tersebut dan hadir dengan teknologi canggih dari Huawei, termasuk sistem pengereman elektro-mekanis (EMB) dan motor listrik tunggal.
Ray 7 debut pada 20 Agustus 2026 dan langsung mencuri perhatian berkat desain fastback yang ramping serta kelengkapan fitur keselamatan dan bantuan mengemudi tingkat lanjut. Mobil ini menjadi penanda baru bagi GAC Aion yang selama ini lebih dikenal lewat penjualan kendaraan untuk pasar ride-hailing.
Desain Eksterior dan Dimensi
Dari sisi tampilan, Ray 7 mengusung star-ring through-type light cluster dengan logo Aion berbahasa Inggris yang diperbarui di bagian tengah gril depan. Gril tertutupnya dipadukan dengan intake trapesium beraksen hitam glossy, shovel-style front lip, serta slot pembuangan udara di samping. Konsumen bisa memilih warna “Lightning Yellow” dan “Midsummer Purple”.
Sisi samping menampilkan siluet fastback yang aerodinamis, dilengkapi gagang pintu semi-tersembunyi, pelek double five-spoke, dan kaliper rem kuning. Bagian belakang dirancang simetris dengan depan, memakai lampu belakang memanjang yang berpusat pada identitas merek Aion.
Berdasarkan dokumen Kementerian Perindustrian dan Teknologi Informasi (MIIT), dimensi Ray 7 tercatat panjang 4.960 mm, lebar 1.900 mm, dan tinggi 1.455 mm dengan jarak sumbu roda 2.920 mm.

Chassis dan Sistem Pengereman
Ray 7 dibangun di atas platform murni listrik dengan penggerak roda belakang. Menariknya, tuning sasisnya melibatkan keahlian dari Alfa Romeo. Suspensi yang digunakan adalah kombinasi aluminium double-wishbone di depan dan five-link di belakang, plus peredam adaptif FSD serta stabiliser bar depan dan belakang.
Mobil ini juga mengadopsi arsitektur fusi kontrol berkendara tingkat chip dan sistem rem elektro-mekanis Huawei DriveOne EMB. Berkat teknologi tersebut, jarak pengereman dari 100 km/jam mampu dicapai hanya dalam 33 meter. Sistem kontrol torsi cerdas Huawei iTRACK turut disematkan untuk membantu cengkeraman di jalan licin akibat hujan atau salju.
Powertrain dan Baterai
Ray 7 ditenagai satu motor listrik buatan Huawei dengan output 180 kW (241 hp). Baterainya memakai LFP dari CATL yang memberikan jangkauan CLTC hingga 700 km. Kombinasi ini menjadikan Ray 7 sebagai sedan listrik dengan efisiensi yang kompetitif di kelasnya.
Untuk urusan kecerdasan, Ray 7 dilengkapi 27 sensor otomotif kelas otomotif, termasuk LiDAR 192-line dan tiga radar gelombang milimeter 4D. Sistem bantuan mengemudinya memakai model skala besar yang diturunkan dari teknologi Robotaxi L4 milik WeRide.
Dengan kemampuan ini, mobil dapat menavigasi lingkungan perkotaan yang kompleks seperti “urban villages”, putar balik satu jalur, dan manuver meminjam jalur. Fitur navigasi “parking spot to parking spot”, akses gerbang, dan skenario parkir dengan tingkat kesulitan tinggi juga didukung penuh.
Baca Juga:
Posisi Pasar dan Tantangan Reputasi
GAC Aion diketahui menjual sekitar 30.000 mobil setiap bulan, namun sebagian besar penjualannya berasal dari pasar ride-hailing. Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri karena reputasi merek sempat terguncang akibat masalah kualitas pada baterai CALB yang digunakan di kendaraan ride-hailing mereka.
Dengan hadirnya Ray 7 yang menyasar segmen premium dan langsung menantang Xiaomi SU7, GAC Aion tampaknya ingin memperkuat posisinya di pasar ritel dan meninggalkan citra sebagai pemasok kendaraan armada semata. Kehadiran teknologi Huawei di sektor penggerak dan pengereman menjadi nilai jual utama yang membedakan Ray 7 dari kompetitornya.
Bagi konsumen yang mengikuti perkembangan penjualan EV di China, langkah GAC Aion ini menarik untuk diamati. Apalagi merek tersebut juga pernah bekerja sama dengan DiDi dalam pengembangan Robotaxi L4 yang diproduksi massal mulai 2025.
Ke depan, keberhasilan Ray 7 di pasar akan menentukan apakah GAC Aion mampu bersaing di segmen sedan listrik premium yang saat ini didominasi oleh pemain-pemain besar. Teknologi Huawei yang diusungnya jelas menjadi senjata utama, tetapi reputasi yang sempat tercoreng harus dibuktikan ulang lewat kualitas produk yang konsisten.





Komentar
Belum ada komentar.