📑 Daftar Isi

Ilustrasi baterai sodium-ion untuk penyimpanan energi skala grid hasil kemitraan GM dan Peak Energy

GM dan Peak Energy Kembangkan Baterai Sodium-Ion untuk Grid

Penulis:Ida Farida
Terbit:
Diperbarui:
⏱️5 menit membaca
Bagikan:
  • GM dan Peak Energy kembangkan sel baterai sodium-ion untuk penyimpanan energi skala grid, bukan kendaraan listrik
  • GM kembangkan sel di lab Michigan dan pegang hak manufaktur eksklusif, Peak Energy integrasikan ke sistemnya
  • Platform berpendingin pasif klaim tekan biaya 20% dan uptime lebih dari 99%
  • Peak Energy raih pendanaan Series B 108 juta dolar AS dipimpin GM Ventures
  • Dana untuk perluas manufaktur AS, penuhi pesanan lebih dari 1 miliar dolar AS, dan masuki pasar data center

Telset.id – General Motors (GM) melalui GM Ventures resmi menjalin kemitraan strategis dengan startup Peak Energy untuk mengembangkan sel baterai sodium-ion generasi berikutnya yang ditujukan khusus untuk proyek penyimpanan energi skala grid, bukan untuk kendaraan listrik. Kemitraan yang diumumkan pada 10 Juni 2026 ini menempatkan GM sebagai pengembang sel di laboratorium baterainya di Michigan, sementara Peak Energy bertanggung jawab mengintegrasikan sel tersebut ke dalam sistem penyimpanan baterai mereka seiring perluasan manufaktur di Amerika Serikat.

Langkah ini menandai pergeseran menarik dalam strategi industri baterai. Di saat sebagian besar produsen otomotif berlomba mengembangkan baterai berdensitas energi tinggi untuk kendaraan listrik, GM justru memilih jalur berbeda dengan menggarap sodium-ion untuk pasar yang menuntut prioritas lain: biaya rendah, keandalan, dan keamanan. Keputusan ini bukan tanpa alasan, karena pasar penyimpanan energi stasioner tumbuh pesat seiring utilitas menambah kapasitas baterai untuk mendukung energi terbarukan, lonjakan permintaan listrik, serta pembangunan pusat data dan infrastruktur AI.

Saat ini, pasar penyimpanan stasioner didominasi oleh baterai lithium-iron phosphate (LFP). Namun Peak Energy meyakini bahwa baterai sodium-ion dapat menghadirkan alternatif berbiaya lebih rendah untuk aplikasi grid, di mana kepadatan energi tidak sepenting faktor biaya, keandalan, dan keamanan. Keyakinan inilah yang menjadi dasar kolaborasi dengan GM untuk mendorong adopsi teknologi tersebut di pasar Amerika Serikat.

sodium-ion batteries

Sodium-Ion dan Platform Pendinginan Pasif Peak Energy

Bagian kunci dari tawaran Peak Energy terletak pada platform penyimpanan baterai berpendingin pasif. Sistem baterai LFP konvensional memerlukan peralatan pendingin aktif untuk menjaga suhu operasional yang aman, yang justru menambah biaya dan kompleksitas. Peak Energy mengklaim sistemnya menghilangkan kebutuhan peralatan pendingin tersebut sepenuhnya. Menurut perusahaan, platform sodium-ion mereka dapat menekan biaya penyimpanan energi hingga 20 persen dibandingkan sistem konvensional, sekaligus menghadirkan uptime lebih dari 99 persen.

Peak Energy juga berargumen bahwa desainnya lebih hemat energi. Perusahaan memperkirakan bahwa mengganti sistem penyimpanan LFP konvensional dengan teknologi berpendingin pasif mereka dapat mengurangi pemborosan energi penyimpanan baterai tahunan di Amerika Serikat hingga 2 terawatt-jam. Jumlah itu cukup untuk memasok listrik sebuah kota berukuran sedang selama satu tahun. Efisiensi semacam ini menjadi daya tarik tersendiri bagi operator grid yang terus mencari cara menekan kerugian energi.

Wakil Presiden Baterai dan Keberlanjutan GM, Kurt Kelty, menegaskan bahwa sodium-ion adalah pilihan tepat untuk penyimpanan stasioner skala grid. “Di GM, kami tahu bahwa aplikasi harus menentukan baterai, dan untuk penyimpanan stasioner skala grid, sodium-ion adalah solusi yang tepat,” ujar Kelty. “Peak telah menunjukkan nilai sodium-ion melalui platform penyimpanan energi inovatif mereka, dan bersama-sama kami bekerja untuk mendorong manfaat tersebut lebih jauh dengan sel generasi berikutnya, membantu menghadirkan penyimpanan energi yang lebih andal dan berbiaya lebih rendah secara masif untuk grid Amerika Serikat.”

Baterai sodium-ion sendiri masih menyumbang porsi kecil dari pasar baterai global, tetapi minat terhadapnya terus tumbuh karena dapat dibuat dari material yang lebih melimpah dan lebih murah dibandingkan baterai berbasis lithium. GM dan Peak Energy bertaruh bahwa keunggulan tersebut dapat menjadikan sodium-ion sebagai opsi yang semakin menarik untuk penyimpanan energi skala besar. Meski demikian, jangan berharap GM mengembangkan sel baterai sodium-ion untuk kendaraan listrik, karena kepadatan energinya terlalu rendah untuk kebutuhan kendaraan.

Pendanaan Series B dan Ekspansi ke Pasar Data Center

Pada pembaruan 23 Oktober 2026, Peak Energy mengumumkan telah mengumpulkan dana sebesar 108 juta dolar AS dalam putaran pendanaan Series B yang oversubscribed, dipimpin oleh GM Ventures dengan dukungan dari LG Technology Ventures dan sejumlah investor lainnya. Startup baterai sodium-ion ini berencana menggunakan dana tersebut untuk memperluas manufaktur di Amerika Serikat, memenuhi pesanan pelanggan yang ada senilai lebih dari 1 miliar dolar AS, serta membawa sistem penyimpanan energi berpendingin pasif mereka ke pasar pusat data yang haus daya.

Langkah ekspansi ke pasar pusat data ini sejalan dengan konteks pertumbuhan permintaan listrik yang disebutkan dalam kemitraan awal, di mana pembangunan pusat data dan infrastruktur AI menjadi salah satu pendorong utama kebutuhan penyimpanan energi. Dengan platform berpendingin pasif yang diklaim lebih hemat biaya dan lebih andal, Peak Energy memposisikan diri untuk menangkap peluang dari operator pusat data yang membutuhkan pasokan listrik stabil.

Kemitraan GM dan Peak Energy ini juga mencerminkan tren yang lebih luas di industri baterai, di mana produsen mulai memetakan teknologi ke aplikasi yang paling sesuai. Sebagaimana GM menegaskan bahwa aplikasi harus menentukan jenis baterai, pendekatan serupa terlihat pada produsen lain yang tengah menata ulang lini produksi baterai mereka. Perkembangan seperti Produksi Baterai BMW menunjukkan bagaimana industri otomotif global terus bereksperimen dengan beragam teknologi dan lokasi manufaktur untuk memenuhi kebutuhan pasar yang berbeda.

Dari sisi rantai pasok, ketergantungan pada material yang lebih melimpah menjadi nilai jual utama sodium-ion. Lithium, sebagai bahan baku dominan baterai saat ini, menghadapi tekanan pasokan dan fluktuasi harga. Sodium yang jauh lebih melimpah di alam menawarkan jalan keluar potensial, terutama untuk aplikasi yang tidak terlalu sensitif terhadap kepadatan energi. Inilah alasan mengapa pasar penyimpanan stasioner dipandang sebagai lahan paling subur bagi teknologi ini.

Meski prospeknya menjanjikan, adopsi sodium-ion tetap menghadapi tantangan. Pasar baterai global masih didominasi teknologi berbasis lithium, dan ekosistem manufaktur sodium-ion belum matang. Namun dengan investasi strategis dari pemain besar seperti GM dan LG, serta pesanan pelanggan yang telah mencapai lebih dari 1 miliar dolar AS, Peak Energy tampaknya berada di jalur yang tepat untuk mengubah sodium-ion dari teknologi niche menjadi alternatif arus utama untuk penyimpanan energi skala grid.

Bagi industri energi dan teknologi secara keseluruhan, kemitraan ini menawarkan sinyal bahwa diversifikasi teknologi baterai semakin dianggap penting. Ketika permintaan listrik melonjak akibat pertumbuhan pusat data dan AI, solusi penyimpanan yang lebih murah, lebih aman, dan lebih andal menjadi kebutuhan mendesak. Sodium-ion dengan platform berpendingin pasif hadir sebagai salah satu jawaban yang patut diperhitungkan, setidaknya untuk aplikasi stasioner yang tidak menuntut kepadatan energi tinggi seperti kendaraan listrik.

Seiring berjalannya waktu, keberhasilan GM dan Peak Energy dalam mewujudkan produksi sel generasi berikutnya di Michigan serta memenuhi pesanan yang ada akan menjadi tolok ukur penting. Jika klaim penurunan biaya 20 persen dan uptime di atas 99 persen terbukti di lapangan, sodium-ion berpotensi menggeser sebagian dominasi LFP di pasar penyimpanan stasioner. Untuk saat ini, kemitraan ini menegaskan satu hal: masa depan baterai tidak tunggal, melainkan beragam sesuai aplikasinya.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.