Telset.id – Li Auto resmi mengonfirmasi bahwa teknologi baterai proprietary-nya akan diintegrasikan ke seluruh lini kendaraan mulai 7 September 2026. Langkah ini menandai perpisahan bertahap dengan pemasok baterai utama mereka, CATL, mengikuti jejak strategis yang sebelumnya dilakukan Xpeng. Keputusan ini diumumkan di tengah meningkatnya kebutuhan akan kepastian pasokan dan inovasi teknologi baterai yang lebih cepat.
Perusahaan otomotif asal China tersebut telah memulai penerapan baterai in-house pada beberapa model utamanya. Baterai proprietary Li Auto saat ini sudah digunakan di Li L8, Li L6, dan Li i8. Rencana peluncuran untuk kuartal keempat 2026 telah dipublikasikan, mencakup beberapa model baru dengan transisi bertahap dari baterai CATL ke baterai buatan sendiri.
Rencana Peluncuran Baterai In-house Kuartal IV 2026
Li Auto telah menyusun jadwal rinci untuk transisi baterai pada tiga model utama. Untuk Li Mega Home, perusahaan mengungkapkan bahwa karena volume pesanan yang lebih tinggi dari perkiraan, stok baterai lithium ternary 5C CATL saat ini hampir habis. Pesanan yang dikunci mulai pukul 15.00 pada 7 September akan dilengkapi dengan baterai lithium ternary 5C proprietary Li Auto, dengan pengiriman dijadwalkan mulai November 2026.

Sementara itu, Li i9 yang merupakan SUV keluarga flagship baru akan debut pada pertengahan September. Model ini awalnya akan diluncurkan dengan baterai CATL, kemudian beralih ke baterai 5C proprietary Li Auto setelah kapasitas produksi meningkat. Adapun 2026 Li i6 yang meluncur pada kuartal keempat akan menampilkan baterai 5C proprietary sekaligus chip Mach hasil pengembangan sendiri. Pre-order dibuka akhir September dengan pengiriman dijadwalkan awal November.
Strategi ini menunjukkan pergeseran signifikan dalam model bisnis Li Auto. Alih-alih sekadar membeli baterai jadi dari pemasok, perusahaan kini mendefinisikan spesifikasi produk dan memimpin pengembangan material sel, struktur, serta BMS (Battery Management System). Pemasok hanya berperan sebagai manufaktur kontrak untuk sel baterai.
Investasi Strategis di Sunwoda EVB
Sebelumnya pada bulan yang sama, Li Auto mengumumkan investasi strategis senilai 2,65 miliar yuan (sekitar 389,7 juta USD) ke Sunwoda EVB, anak perusahaan dari Sunwoda Electronic. Setelah transaksi selesai, Li Auto akan memegang 8,79% saham di Sunwoda EVB, sehingga total kepemilikan tidak langsungnya menjadi 11,17% dan menjadikannya pemegang saham terbesar kedua.
Investasi ini memperdalam kemitraan yang telah dimulai sejak 2017. Di bawah model “in-house” saat ini, Li Auto mendefinisikan spesifikasi produk, memimpin pengembangan material sel, struktur, dan BMS, sementara Sunwoda bertindak sebagai manufaktur kontrak untuk sel baterai.

“Battery technology is not a commodity,” ujar Liu Zhimin, Senior Director of Power Batteries di Li Auto. “Dengan mengendalikan desain dasar dan standar manufaktur, kami memastikan kepastian pasokan dan kemampuan berinovasi dengan cepat untuk memenuhi kebutuhan pengguna.”
Meskipun batch pertama Li i9 masih akan menggunakan baterai CATL, sinyal ini menunjukkan bahwa Li Auto sedang berpisah dengan CATL. Perlu dicatat, Li Auto pernah menjadi salah satu klien utama CATL—bahkan pada April tahun ini, mereka adalah pelanggan terbesar keempat untuk baterai kendaraan listrik.
Tren Perpisahan dengan CATL di Industri EV China
Li Auto bukanlah yang pertama berpisah dengan CATL. Beberapa tahun lalu, Xpeng telah berhenti menggunakan baterai CATL, dan Xiaomi melalui SkyNomad N70 dan N90 yang baru diluncurkan juga tidak menggunakannya. Namun, CATL juga mendapatkan pelanggan baru. Leapmotor, yang penjualannya telah menembus 100.000 unit selama dua bulan berturut-turut, sebelumnya tidak banyak menggunakan baterai CATL karena kendala biaya. Namun seri D kelas atasnya yang diluncurkan tahun ini menggunakan baterai CATL di seluruh lini.
Pergeseran ini mencerminkan dinamika kompetitif yang semakin intensif di industri kendaraan listrik China. Produsen kendaraan semakin menyadari pentingnya kontrol atas teknologi baterai sebagai komponen paling mahal dan paling krusial dalam EV. Keputusan Li Auto untuk mengembangkan baterai sendiri sejalan dengan strategi vertikal integrasi yang semakin umum di industri ini.

Bagi Li Auto, transisi ke baterai in-house bukan sekadar soal biaya, melainkan juga soal diferensiasi produk dan kecepatan inovasi. Dengan mengendalikan teknologi baterai, perusahaan dapat lebih cepat menyesuaikan produk dengan kebutuhan pengguna tanpa harus menunggu jadwal pengembangan pemasok eksternal. Ini juga memberikan fleksibilitas lebih besar dalam hal desain kendaraan dan integrasi sistem.
Keputusan ini juga memiliki implikasi bagi lanskap persaingan di pasar EV China yang semakin padat. Dengan semakin banyaknya produsen yang mengembangkan baterai sendiri, CATL perlu mencari strategi baru untuk mempertahankan pangsa pasarnya. Sementara itu, munculnya pemain seperti Leapmotor yang justru meningkatkan penggunaan baterai CATL menunjukkan bahwa hubungan antara produsen kendaraan dan pemasok baterai akan semakin kompleks dan beragam ke depannya.
Bagi konsumen, transisi ini diharapkan membawa manfaat dalam bentuk peningkatan kualitas dan inovasi baterai. Dengan kontrol penuh atas teknologi baterai, Li Auto berpotensi menghadirkan solusi yang lebih terintegrasi dan efisien. Namun, kepastian pasokan dan kualitas tetap menjadi faktor kunci yang perlu dipantau selama masa transisi ini berlangsung.





Komentar
Belum ada komentar.