📑 Daftar Isi

Tesla Cybercab meluncur di jalanan Austin Texas tanpa setir dan pedal rem

NHTSA Selidiki Tesla Cybercab Usai Meluncur di Austin

Penulis:Ida Farida
Terbit:
Diperbarui:
⏱️6 menit membaca
Bagikan:
  • NHTSA membuka penyelidikan terhadap Tesla Cybercab sehari setelah peluncuran di Austin, Texas
  • Cybercab tidak memiliki setir, pedal rem, dan kaca spion - menjadi sorotan utama regulator
  • NHTSA memeriksa proses sertifikasi mandiri Tesla terhadap Federal Motor Vehicle Safety Standards (FMVSS)
  • Kasus serupa pernah terjadi pada Zoox milik Amazon yang akhirnya mendapat pengecualian
  • Tesla membuka pencarian penjualan armada Cybercab tetapi pemilik FSD masih dikesampingkan
  • Data Tesla mengonfirmasi kecelakaan fatal yang melibatkan Autopilot dan Full Self-Driving

Telset.id – Otoritas keselamatan jalan raya Amerika Serikat (NHTSA) langsung membuka penyelidikan terhadap Tesla Cybercab hanya sehari setelah mobil otonom tanpa setir tersebut resmi meluncur di jalanan Austin, Texas, pada Kamis malam. Investigasi ini menyoroti proses sertifikasi mandiri yang dilakukan Tesla, yang mengklaim kendaraan roda dua berwarna emas tersebut telah memenuhi Federal Motor Vehicle Safety Standards (FMVSS), meskipun tidak memiliki kemudi, pedal rem, maupun kaca spion.

Peluncuran Cybercab pada Kamis malam itu sempat menjadi momen kegembiraan bagi para penggemar berat Tesla, sebagian di antaranya bahkan menghadiri acara privat untuk merayakannya. Namun, pesta tersebut tampaknya tidak berlangsung lama. NHTSA mengumumkan pada Jumat bahwa pihaknya membuka audit query untuk memeriksa proses dan data teknis yang menjadi dasar sertifikasi Tesla terhadap Cybercab.

Fokus Investigasi NHTSA pada Sertifikasi Mandiri

NHTSA menyatakan akan meneliti sejauh mana sertifikasi Tesla bergantung pada penentuan bahwa sejumlah standar FMVSS tidak berlaku untuk Cybercab. “Di AS, NHTSA menetapkan persyaratan kinerja kendaraan yang jelas. Agar pembuat mobil dapat mengakses pasar AS, mereka harus mensertifikasi bahwa kendaraan mereka memenuhi standar ini – tunduk pada pengawasan dari badan tersebut untuk memastikan kepatuhan,” demikian pernyataan resmi NHTSA. “Ketika kendaraan bersertifikat tampaknya tidak mematuhi persyaratan ini, NHTSA melakukan penyelidikan.”

Masalah utama yang disorot NHTSA adalah Cybercab sama sekali tidak memiliki kontrol fisik. Tidak ada setir, tidak ada pedal, dan tidak ada kaca spion sebagai cadangan jika terjadi masalah pada kamera di dalam mobil. Tesla menganggap hal ini sebagai nilai jual, tetapi regulator federal melihatnya sebagai potensi masalah karena fitur-fitur tersebut biasanya menjadi persyaratan wajib pada kendaraan bermotor.

Menariknya, kasus ini bukan yang pertama. Di bawah pemerintahan Biden, NHTSA juga pernah membuka penyelidikan serupa terhadap Zoox milik Amazon setelah perusahaan tersebut melakukan sertifikasi mandiri atas mobil tanpa pengemudi mereka. Badan tersebut akhirnya menutup penyelidikan pada 2025, kemudian memberikan pengecualian kepada Zoox untuk keperluan pengujian. Pada Juli, NHTSA kembali memberikan pengecualian FMVSS kepada Zoox untuk meluncurkan pod otonomnya secara komersial.

Administrator NHTSA, Jonathan Morrison, menegaskan sikap lembaganya dalam pernyataan resmi. “NHTSA sepenuhnya mendukung pengembangan dan penerapan kendaraan otonom yang aman. Tetapi sebagai regulator federal, kami perlu memastikan bahwa semua hukum kami dipatuhi. Pendekatan kami yang menyeimbangkan inovasi dengan pengawasan keselamatan akan memungkinkan Amerika Serikat mempertahankan kepemimpinan globalnya dalam inovasi AV.”

Kemungkinan besar kasus Tesla akan diselesaikan dengan cara serupa seperti Zoox. NHTSA sendiri telah mulai merombak aturannya untuk mempermudah penerapan kendaraan otonom. Lembaga tersebut tengah menyusun aturan yang akan melonggarkan pembatasan peluncuran jenis kendaraan ini dengan merevisi cara pengaturan hal-hal seperti pedal rem, kaca spion, dan pencahayaan. Namun, pesan NHTSA saat ini cukup jelas: aturan tetaplah aturan sampai aturan tersebut diubah.

Janji yang Diingkari kepada Pengguna Awal

Di luar penyelidikan teknis, pekan ini juga dipenuhi kabar buruk bagi merek Autopilot dan Full Self Driving milik Tesla. Pertanyaan besar yang mengemuka justru berkaitan dengan janji-janji yang diingkari kepada para pengguna paling awal teknologi tersebut. Tesla kini membuka pencarian untuk penjualan armada Cybercab, tetapi para pemilik kendaraan dengan fitur Full Self Driving masih dikesampingkan dari kesempatan tersebut.

Selain itu, sejumlah insiden kecelakaan turut membayangi reputasi sistem otonom Tesla. Data internal Tesla sendiri mengonfirmasi bahwa sistem Autopilot atau Full Self Driving aktif dalam kecelakaan yang menewaskan seorang pengendara motor. Perusahaan juga mengonfirmasi bahwa Full Self-Driving aktif dalam kecelakaan yang menewaskan seorang ibu dengan lima anak. Tesla bahkan telah menyelesaikan tuntutan hukum terkait kecelakaan melawan truk pemadam kebakaran yang melibatkan Autopilot, dengan membayar ganti rugi di luar pengadilan untuk menghindari persidangan juri.

Cybercab sendiri telah menjadi sorotan sejak pertama kali diumumkan. Kendaraan ini dirancang tanpa setir dan pedal sebagai wujud visi Elon Musk tentang masa depan transportasi yang sepenuhnya otonom. Tesla mengklaim desain tersebut memungkinkan kabin yang lebih lega dan biaya produksi yang lebih rendah karena menghilangkan komponen mekanis yang tidak diperlukan. Namun, peluncuran ke jalan umum tanpa melalui proses persetujuan regulasi yang konvensional memicu pertanyaan tentang kesiapan teknologi ini.

NHTSA sebelumnya juga telah membuka penyelidikan terhadap Cybercab segera setelah peluncurannya, menambah daftar panjang pengawasan regulasi terhadap produk-produk otonom Tesla. Situasi ini menunjukkan adanya ketegangan antara ambisi inovasi perusahaan teknologi dan kerangka regulasi yang berlaku. Sementara Tesla ingin menjadi pionir dalam layanan robotaxi komersial, regulator menekankan bahwa keselamatan publik tidak bisa dikompromikan demi kecepatan inovasi.

Perkembangan ini juga menjadi perhatian bagi industri kendaraan otonom secara lebih luas. Cara NHTSA menangani kasus Cybercab akan menjadi preseden penting bagi produsen lain yang ingin mengikuti jejak Tesla dalam menghadirkan kendaraan tanpa kontrol manual ke pasar. Jika Tesla berhasil mendapatkan pengecualian seperti Zoox, pintu akan semakin terbuka bagi gelombang baru kendaraan otonom di jalanan AS. Sebaliknya, jika NHTSA memutuskan sebaliknya, perusahaan harus menunda rencana komersialisasi hingga aturan diubah.

Bagi konsumen dan pengamat industri, kasus ini menjadi pengingat bahwa teknologi otonom masih berada dalam fase transisi regulasi. Meskipun potensinya besar, jalan menuju adopsi massal masih panjang dan penuh tantangan. Sementara itu, para pemilik Tesla yang telah membayar mahal untuk fitur Full Self Driving menunggu kejelasan tentang nasib investasi mereka di tengah kabar buruk yang terus berdatangan.

NHTSA menegaskan bahwa aturan yang berlaku harus dipatuhi sampai ada perubahan resmi. Sikap tegas ini menunjukkan bahwa meskipun pemerintah mendukung pengembangan kendaraan otonom, pengawasan keselamatan tetap menjadi prioritas utama. Keputusan akhir atas penyelidikan Cybercab akan menentukan arah regulasi kendaraan otonom di Amerika Serikat ke depannya.

Kasus ini juga menyoroti praktik sertifikasi mandiri yang selama ini menjadi celah bagi produsen kendaraan otonom. Dengan tidak adanya persetujuan eksplisit dari regulator sebelum kendaraan meluncur ke jalan, risiko keselamatan menjadi tanggung jawab produsen sepenuhnya. NHTSA kini berupaya menutup celah tersebut melalui audit yang lebih ketat terhadap proses sertifikasi.

Sementara penyelidikan berlangsung, Tesla tetap dapat mengoperasikan Cybercab di Austin. Namun, jika NHTSA menemukan pelanggaran dalam proses sertifikasi, perusahaan bisa dipaksa menarik kendaraan atau menghentikan operasinya sampai memenuhi standar yang berlaku. Keputusan ini akan menjadi ujian besar bagi komitmen Tesla terhadap keselamatan di tengah ambisinya mendominasi pasar robotaxi.

Di sisi lain, kabar baik datang dari industri pengisian daya kendaraan listrik. IONNA memangkas hampir 50 persen harga pengisian cepat untuk momen liburan, sementara Universal EV Chargers meluncurkan tarif flat US$15 untuk pengisian cepat di seluruh Illinois. Namun, sorotan utama pekan ini tetap tertuju pada nasib Cybercab di tangan regulator.

Penyelidikan NHTSA terhadap Cybercab berpotensi memengaruhi kepercayaan publik terhadap teknologi otonom secara keseluruhan. Jika regulator menemukan kelemahan serius dalam proses sertifikasi Tesla, hal ini bisa memperlambat adopsi kendaraan otonom di AS. Sebaliknya, jika Tesla mampu membuktikan keamanan Cybercab, hal ini bisa menjadi tonggak penting bagi industri.

Terlepas dari hasilnya, kasus ini menunjukkan bahwa era kendaraan otonom tanpa setir telah resmi dimulai. Pertanyaannya sekarang adalah seberapa cepat regulasi bisa mengikuti laju inovasi, dan apakah produsen seperti Tesla bisa memenuhi standar keselamatan yang dituntut regulator.

Bagi pemilik Tesla yang telah menantikan fitur otonom penuh, berita ini tentu mengecewakan. Namun, keputusan NHTSA nantinya akan menentukan apakah mereka bisa segera menikmati layanan robotaxi atau harus bersabar lebih lama lagi. Sementara itu, para pengamat industri akan terus memantau perkembangan penyelidikan ini sebagai indikator arah regulasi kendaraan otonom di masa depan.

Kasus Cybercab juga membuka diskusi lebih luas tentang kesiapan infrastruktur regulasi dalam menghadapi teknologi baru. Banyak pihak menilai aturan yang ada saat ini sudah ketinggalan zaman dan tidak dirancang untuk kendaraan tanpa pengemudi. NHTSA sendiri mengakui perlunya pembaruan aturan, tetapi menekankan bahwa proses tersebut harus berjalan hati-hati tanpa mengorbankan keselamatan publik. Untuk informasi lebih lanjut seputar perkembangan teknologi dan keamanan siber, kamu bisa membaca Passkey Lebih Aman atau menyimak kabar tentang Audio Tersembunyi yang sempat menggemparkan.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.