📑 Daftar Isi

Penjualan Software Selamatkan Laba Kotor Rekor Rivian di Q2 2026

Penjualan Software Selamatkan Laba Kotor Rekor Rivian di Q2 2026

Penulis:Fernando Yehezkiel
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:

Telset.id – Rivian berhasil membukukan laba kotor konsolidasi rekor sebesar €153 juta pada kuartal kedua 2026, ditopang oleh lonjakan pendapatan dari divisi software dan layanan yang tumbuh 37 persen year-over-year menjadi €440 juta. Capaian ini terjadi di tengah tekanan besar dari lini manufaktur kendaraan yang masih mencatat kerugian kotor akibat biaya produksi awal R2 SUV.

Total pendapatan Rivian pada kuartal ini mencapai €1,42 miliar, melonjak 27 persen dan melampaui prediksi analis Wall Street yang hanya memperkirakan €1,29 miliar. Angka ini menunjukkan bahwa strategi Rivian untuk menyeimbangkan bisnis manufaktur fisik dengan pendapatan digital mulai membuahkan hasil, meskipun tantangan produksi massal masih membayangi.

Kinerja keuangan ini menjadi sorotan utama karena terjadi di saat yang krusial. Rivian baru saja memulai pengiriman R2 SUV pada 9 Juni lalu, kendaraan yang dirancang untuk menembus pasar mainstream dengan harga di bawah €43.000. Peluncuran ini merupakan langkah berani di tengah pasar kendaraan listrik Amerika Serikat yang mulai mendingin, terutama setelah insentif pajak berakhir dan konsumen semakin berhati-hati dalam membelanjakan uang.

Divisi manufaktur kendaraan Rivian memang masih merugi. Pendapatan dari lini ini mencapai €0,98 miliar, namun mencatat kerugian kotor sebesar €31 juta. Biaya introduksi produksi R2 yang mencapai sekitar €85 juta menjadi beban utama, sebuah konsekuensi yang wajar ketika memulai lini perakitan baru dari nol.

Namun, cerita berbeda datang dari divisi software dan layanan. Pendapatan digital naik signifikan berkat laba kotor rekor dari joint venture dengan Volkswagen Group yang menyuntikkan €263 juta. Dengan margin kotor software mencapai 42 persen atau €184 juta laba bersih, divisi digital ini efektif menopang seluruh neraca keuangan perusahaan.

Perlu dicatat bahwa sekitar €92 juta dari pendapatan Rivian berasal dari penjualan kredit kepatuhan regulasi kepada produsen mobil tradisional. Jika komponen ini dihilangkan, kerugian aktual perusahaan diperkirakan mendekati €120 juta, menunjukkan betapa besar biaya operasional pabrik sebelum skala ekonomi tercapai.

Target Produksi Paruh Kedua yang Ambisius

Manajemen Rivian menaikkan proyeksi pengiriman kendaraan tahun penuh menjadi 65.000 hingga 70.000 unit, naik 3.000 unit dari estimasi sebelumnya. Namun, angka ini menyimpan tantangan logistik yang sangat besar. Setelah mengirimkan 22.559 kendaraan pada paruh pertama tahun ini, Rivian harus mengirimkan 42.000 hingga 47.000 unit hanya dalam dua kuartal terakhir.

Artinya, perusahaan hampir harus menggandakan laju produksi mereka dalam waktu yang sama, sebuah maraton logistik yang menuntut seluruh lini perakitan beroperasi maksimal. Rivian juga mempersempit panduan kerugian EBITDA tahun penuh menjadi kisaran €1,54 miliar hingga €1,71 miliar, serta memangkas ekspektasi belanja modal menjadi €1,45 miliar hingga €1,54 miliar.

Transisi ke produksi volume memang menjadi momen penentu yang sudah dipersiapkan Rivian selama satu dekade. Setelah sukses dengan R1T dan R1S yang premium namun mahal, Rivian kini harus membuktikan diri di segmen pasar yang berbeda. Strategi biaya R2 dirancang sekitar setengah dari biaya produksi R1, sebuah pendekatan yang diperlukan untuk bersaing di pasar massal.

Untuk mendanai transisi ini dan pembangunan pabrik baru di Georgia, Rivian telah mengumpulkan dana segar sekitar €12 miliar. Sumber dana tersebut mencakup penjualan saham senilai €1,11 miliar, utang non-recourse €1 miliar dari Volkswagen, dan investasi ekuitas €213 juta dari Uber. Arus kas bebas kuartal ini memang negatif €725 juta karena penumpukan inventaris R2, namun kas dan investasi jangka pendek sebesar €4,53 miliar masih tersedia di akhir kuartal.

Minat pasar terhadap R2 terlihat sangat kuat. Rivian mencatat rekor perusahaan dengan 57.000 sesi test drive selama kuartal tersebut, yang berhasil dikonversi menjadi pesanan firm yang melampaui proyeksi paling optimis sekalipun. Antusiasme ini menjadi sinyal positif bahwa R2 mampu menarik konsumen yang selama ini menunggu kendaraan listrik dengan karakter SUV sejati.

Secara dimensi, R2 memiliki panjang 4.714 mm, sedikit lebih pendek dari Tesla Model Y namun lebih tinggi dengan 1.700 mm. Ground clearance mencapai 249 mm, memberikan postur off-road yang agresif dan membedakannya dari pesaing yang lebih urban. Desain ini menegaskan posisi R2 sebagai SUV tradisional yang kokoh, bukan sekadar hatchback yang diperbesar.

Meskipun kerugian bersih masih tercatat besar di angka €714 juta atau €0,54 per saham, hasil ini tetap dipandang sebagai kemenangan mengingat Rivian berhasil mengalahkan prediksi Wall Street. Adjusted EBITDA tercatat negatif €324 juta, lebih baik dari perkiraan analis yang memodelkan negatif €468 juta. Pasar merespons positif dengan kenaikan harga saham hampir dua persen di premarket menjadi €14,81.

Dengan lima kuartal berturut-turut margin kotor yang meningkat, Rivian menunjukkan kombinasi antara ketangguhan rekayasa dan kecerdasan software. Perjalanan dari produsen niche mahal menuju pemain pasar massal yang menguntungkan memang sulit, namun fondasi yang dibangun saat ini memberikan landasan kuat untuk menghadapi tantangan produksi di sisa tahun 2026.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.