Telset.id – Polestar akan menghentikan penjualan kendaraannya di Amerika Serikat mulai tahun model 2027. Keputusan ini diambil setelah Departemen Perdagangan AS menolak otorisasi yang memungkinkan merek tersebut menjual mobil di AS di tengah aturan federal yang membatasi penjualan kendaraan dengan teknologi terhubung buatan China.
Keputusan ini berdampak langsung pada jaringan dealer Polestar di AS. Matthew Haiken, pemilik dealer Polestar Short Hills di New Jersey dan tiga dealer lain di Prestige Collection Auto Group, mengungkapkan kekecewaannya. “Ini sangat disayangkan,” kata Haiken. “Sulit bagi pelanggan saya yang telah menghubungi; sulit bagi staf saya.”
Haiken mengatakan bahwa ia dan pemilik 31 dealer Polestar lainnya di AS telah menginvestasikan “banyak juta dolar” untuk menjual mobil-mobil tersebut. Ia menyebut keputusan penolakan otorisasi itu sebagai “kejutan bagi saya dan semua dealer.”
Polestar, yang mayoritas sahamnya dimiliki oleh Geely Holding asal China dan pendirinya Li Shufu, mengkonfirmasi bahwa dealer AS akan menjual “stok yang ada” dari Polestar 3 dan Polestar 4. Jaringan servis di AS akan “terus mendukung pelanggan.” Perusahaan membingkai langkah ini sebagai “meningkatkan fokus strategisnya di Eropa,” dan menyebutkan bahwa 94 persen penjualan Polestar pada kuartal pertama 2026 terjadi di luar AS.
Angka tersebut menuai kritik dari Haiken. Ia menyebut statistik itu menyesatkan karena model terbaru Polestar, yaitu Polestar 4 coupe, mulai dijual di Eropa pada Januari 2024 tetapi baru tersedia di AS pada Desember 2025.
Aturan Kendaraan Terhubung dan Dampaknya
Departemen Perdagangan AS di bawah pemerintahan Biden secara resmi menyetujui aturan kendaraan terhubung pada Januari 2025. Pemerintah AS beralasan bahwa larangan terhadap perangkat keras dan perangkat lunak otomotif buatan China dan Rusia diperlukan untuk alasan keamanan nasional.
Pemerintah federal menyatakan bahwa kamera otomotif, mikrofon, dan peralatan GPS yang terhubung ke internet mengancam keselamatan AS. “Tidak butuh imajinasi besar untuk memahami bagaimana lawan asing dengan akses ke informasi ini dapat menimbulkan risiko serius bagi keamanan nasional dan privasi warga AS,” kata Menteri Perdagangan Gina Raimondo saat itu.
Menariknya, Volvo yang juga mayoritas dimiliki oleh Geely, justru menerima otorisasi dari Departemen Perdagangan pada bulan Maret. Volvo saat itu mengatakan bahwa mereka mengadakan “diskusi konstruktif” dengan departemen tersebut mengenai “tata kelola, teknologi, dan keamanan data” perusahaan.
Ketika ditanya mengenai perbedaan perlakuan ini, juru bicara Polestar mengatakan bahwa perusahaan “tidak dapat berkomentar tentang bagaimana undang-undang berlaku untuk pabrikan lain.”
Nasib Dealer dan Layanan Purna Jual
Sejak Polestar Short Hills dibuka pada tahun 2021, dealer tersebut telah melalui berbagai tantangan. Mulai dari lonjakan permintaan era Covid dan kelangkaan EV yang membuat harga mobil listrik bekas lebih tinggi dari yang baru, kredit pajak federal hingga $7.500 yang mendatangkan gelombang pembeli baru, penurunan volume penjualan setelah pengurangan kredit pajak tersebut, hingga gelombang pembelian lain ketika pengemudi yang penasaran dengan EV mulai beralih dari Tesla karena keterlibatan CEO Elon Musk dengan pemerintahan Trump.
Sekarang, Haiken menghadapi tantangan yang lebih serius. Beberapa dealer Polestar menangani masalah servis melalui pusat Volvo, tetapi Haiken mengatakan pusat servis Polestar miliknya akan terus memperbaiki dan merawat EV tersebut. “Kami memiliki volume untuk membenarkannya,” katanya. “Kami harus ada untuk melakukan pekerjaan itu.”
Tidak semua dealer mungkin mengambil keputusan yang sama, kata Haiken, meskipun kendaraan kemungkinan akan dikirim ke pusat servis terdekat untuk perawatan dan perbaikan. Juru bicara Polestar Mike Ofiara menulis dalam pernyataan bahwa Polestar “sangat menghargai mitra ritel kami dan bekerja sama dengan mereka untuk mengelola transisi ini.”
Berbeda dengan perusahaan kendaraan listrik Fisker yang bangkrut pada tahun 2024 dan membuat pemilik terdampar tanpa layanan dan suku cadang, Polestar masih eksis di negara lain. Perusahaan seharusnya masih dapat mendukung kendaraannya, dan secara hukum memang berkewajiban untuk melakukannya.
Haiken menyatakan kekecewaannya yang mendalam kepada Polestar secara global. “Saya sangat frustrasi dengan Polestar, secara global,” kata Haiken. “Saya pikir mereka benar-benar menjatuhkan bola, dan saya menyalahkan mereka. Saya tidak menyalahkan pemerintah.”
Untuk saat ini, Haiken mengatakan bekerja dengan teknologi terhubung China tidak membuatnya gugup. “Saya mendukung keamanan nasional,” katanya. “Saya juga mendukung teknologi dan inovasi serta membiarkan produk terbaik mutlak yang menang.”
Departemen Perdagangan AS tidak menanggapi pertanyaan WIRED mengenai masalah ini. Polestar juga mengkonfirmasi bahwa jaringan servis di AS akan terus beroperasi untuk mendukung pelanggan yang sudah ada.
Keputusan ini menjadi pukulan berat bagi pasar EV AS yang sedang berkembang. Polestar selama ini dikenal sebagai salah satu merek EV premium yang bersaing langsung dengan Tesla. Dengan hengkangnya Polestar dari pasar AS, konsumen kehilangan satu opsi kompetitif di segmen kendaraan listrik mewah.
Di sisi lain, langkah Polestar untuk fokus pada pasar Eropa menunjukkan pergeseran strategi yang signifikan. Eropa selama ini menjadi pasar utama bagi merek-merek EV premium, dan dengan 94 persen penjualan Polestar sudah terjadi di luar AS, keputusan ini mungkin tidak sepenuhnya mengejutkan dari sisi bisnis.
Namun, bagi dealer-dealer AS yang telah berinvestasi besar, keputusan ini tetap menjadi pukulan telak. Mereka harus beradaptasi dengan cepat, entah dengan beralih ke merek lain atau mengandalkan pendapatan dari servis kendaraan yang sudah terjual.
Kisah Polestar di AS menjadi contoh bagaimana regulasi geopolitik dapat mengubah peta persaingan industri otomotif. Aturan keamanan nasional yang membatasi teknologi China secara tidak langsung membentuk ulang lanskap pasar EV di Amerika Serikat.
Konsumen yang sudah memiliki Polestar di AS tidak perlu khawatir dalam waktu dekat. Jaringan servis akan tetap beroperasi, dan Polestar secara hukum berkewajiban untuk mendukung kendaraannya. Namun, ketersediaan suku cadang dan layanan jangka panjang masih menjadi tanda tanya, terutama jika volume kendaraan Polestar di AS terus menurun.
Keputusan Polestar ini juga menjadi pengingat bagi industri otomotif global tentang risiko ketergantungan pada rantai pasok China. Produsen mobil yang memiliki keterkaitan erat dengan China harus siap menghadapi hambatan regulasi di pasar-pasar utama seperti AS.
Ke depannya, Polestar akan lebih agresif di Eropa. Perusahaan menyebutkan akan “meningkatkan fokus strategisnya” di benua tersebut. Eropa sendiri juga mulai menerapkan kebijakan proteksionis terhadap mobil listrik China, sehingga langkah Polestar mungkin tidak sepenuhnya bebas hambatan.
Bagi industri EV global, kasus Polestar menunjukkan bahwa faktor geopolitik kini menjadi variabel kunci dalam strategi ekspansi pasar. Produsen mobil harus mempertimbangkan tidak hanya permintaan pasar, tetapi juga iklim regulasi dan hubungan diplomatik antara negara asal dan negara tujuan.
Matthew Haiken mungkin harus menutup babak baru dalam perjalanan bisnisnya. Dengan investasi jutaan dolar yang telah ditanamkan, ia dan dealer-dealer Polestar lainnya di AS kini harus mencari jalan keluar terbaik di tengah ketidakpastian regulasi yang tidak bisa mereka kendalikan.
Polestar sendiri belum memberikan jadwal pasti kapan penjualan di AS akan benar-benar berhenti. Yang jelas, model tahun 2027 akan menjadi tahun terakhir bagi Polestar di pasar Amerika Serikat, kecuali ada perubahan kebijakan di menit-menit terakhir.
Dengan kondisi ini, persaingan di pasar EV AS akan semakin ketat. Tesla masih menjadi pemain dominan, diikuti oleh merek-merek tradisional seperti Ford, GM, dan Hyundai-Kia yang semakin agresif di segmen kendaraan listrik. Kehilangan Polestar berarti satu pesaing premium berkurang, namun juga satu opsi bagi konsumen lenyap.
Keputusan Polestar untuk hengkang dari AS juga berpotensi mempengaruhi keputusan produsen China lainnya yang berniat masuk ke pasar AS. Merek-merek seperti BYD, Nio, dan Xpeng mungkin akan berpikir dua kali sebelum berekspansi ke Amerika Serikat mengingat ketatnya regulasi yang ada.
Di sisi lain, produsen Eropa dan Korea justru bisa memanfaatkan celah ini untuk merebut pangsa pasar yang ditinggalkan Polestar. Konsumen yang sebelumnya tertarik pada Polestar mungkin akan beralih ke merek-merek Eropa seperti BMW, Mercedes-Benz, atau Audi yang juga memiliki jajaran EV premium.
Bagi Polestar, fokus ke Eropa mungkin menjadi langkah yang tepat. Dengan basis pelanggan yang sudah kuat dan jaringan dealer yang matang, Eropa menawarkan pasar yang lebih stabil untuk pertumbuhan jangka panjang. Selain itu, Eropa juga memiliki regulasi yang lebih mendukung adopsi kendaraan listrik dibandingkan AS.
Namun, keputusan ini tetap menjadi tamparan bagi ambisi global Polestar. Kehilangan pasar AS, yang merupakan salah satu pasar otomotif terbesar di dunia, pasti akan mempengaruhi volume penjualan dan profitabilitas perusahaan dalam jangka pendek.
Yang jelas, industri otomotif global sedang memasuki era baru di mana faktor politik dan keamanan nasional menjadi sama pentingnya dengan inovasi teknologi dan strategi pemasaran. Polestar menjadi korban terbaru dari dinamika ini, dan mungkin bukan yang terakhir.





Komentar
Belum ada komentar.