Telset.id – Tesla baru saja mengumumkan telah memproduksi kendaraan ke-10 juta secara global di Fremont Factory. Pencapaian ini merupakan tonggak sejarah yang belum pernah diraih pabrikan mobil listrik lain, namun datang di saat pertumbuhan perusahaan justru terhenti dan kapasitas pabrik tidak termanfaatkan secara optimal.
Pengumuman tersebut disampaikan langsung oleh Tesla melalui akun media sosialnya pada akhir Juli 2026. “Hanya 6 tahun yang lalu, Fremont Factory membuat kendaraan ke-1 juta kami,” tulis Tesla, menandai lompatan produksi yang luar biasa cepat dalam satu dekade terakhir. Namun, di balik angka spektakuler ini, terdapat realitas bisnis yang lebih kompleks.
Lonjakan Produksi yang Melambat
Selama bertahun-tahun, Tesla memandu investor untuk menargetkan pertumbuhan produksi dan pengiriman rata-rata sekitar 50% per tahun. Target yang diulang-ulang Elon Musk dalam berbagai kesempatan itu sempat terbukti. Namun, momentum tersebut berhenti pada 2023, ketika Tesla mencapai puncak pengiriman sebanyak 1,81 juta unit.
Pada 2024, perusahaan mencatat penurunan tahunan pertamanya dengan pengiriman sekitar 1,79 juta unit. Tren negatif berlanjut pada 2025, di mana pengiriman kembali turun 9% year-over-year menjadi 1.636.129 unit. Dua tahun berturut-turut penurunan ini menunjukkan bahwa mesin pertumbuhan Tesla telah kehilangan tenaganya. Bahkan, data awal 2026 belum menunjukkan perbaikan signifikan.
Pencapaian 10 juta kendaraan adalah prestasi yang membanggakan bagi tim Tesla. Namun, banyak pengamat menilai angka ini seharusnya sudah tercapai lebih cepat jika perusahaan tidak mengalami stagnasi dalam beberapa tahun terakhir.
Dalam laporan pemegang saham kuartal pertama 2024, Tesla mengakui bahwa perusahaan sedang “berada di antara dua gelombang pertumbuhan besar.” Gelombang pertama adalah Model 3 dan Model Y. Gelombang kedua seharusnya adalah kendaraan generasi berikutnya yang lebih murah. Kini, lebih dari dua tahun berlalu, gelombang kedua tersebut belum juga terwujud.
Kapasitas Pabrik yang Menganggur
Salah satu masalah struktural yang jarang dibahas adalah kapasitas produksi Tesla yang jauh melampaui permintaan aktual. Berdasarkan data terbaru Tesla, kapasitas produksi tahunan terpasang perusahaan mencapai lebih dari 2,375 juta unit. Rinciannya meliputi lebih dari 950.000 unit di Shanghai, lebih dari 550.000 unit di Fremont, lebih dari 375.000 unit di Berlin, serta 250.000 unit Model Y, 125.000 unit Cybertruck, dan 125.000 unit Cybercab di Texas.
Namun, realitas produksi sangat berbeda. Pada kuartal kedua 2026, Tesla hanya memproduksi 451.758 kendaraan dan mengirimkan 480.126 unit. Jika diratakan, angka ini setara dengan sekitar 1,8 juta kendaraan per tahun—lebih dari setengah juta unit di bawah kapasitas maksimal pabriknya.
Bahkan pada 2025, ketika Tesla hanya mengirimkan 1,636 juta mobil, kapasitas produksinya sudah berada di atas 2 juta unit. Situasi ini menegaskan bahwa Tesla tidak lagi mengalami kendala pasokan, melainkan kendala permintaan. Perusahaan terpaksa mengoperasikan aset manufaktur senilai miliaran dolar di bawah kapasitas optimalnya.
Baca Juga:
Masalah pada Jajaran Produk
Akar permasalahan ini cukup sederhana. Model 3 dan Model Y memang merupakan dua mobil listrik terlaris di dunia, tetapi keduanya sudah dipasarkan sejak 2017 dan 2020. Sementara itu, Cybertruck yang sempat dinanti-nantikan justru gagal memenuhi ekspektasi pasar. Cybercab dan Semi masih dalam tahap peningkatan produksi. Roadster, yang dijanjikan sejak bertahun-tahun lalu, masih terjebak dalam fase “pengembangan desain.”
Alih-alih mengembangkan model EV baru yang lebih terjangkau, Tesla justru mengalihkan fokus dan sumber daya ke proyek robotaxi dan robot humanoid Optimus. Ironisnya, armada robotaxi Tesla justru menyusut, bukan bertambah. Sementara Optimus terus mengalami penundaan. Kedua proyek tersebut belum menghasilkan satu pun penjualan mobil tambahan.
Pencapaian 10 juta kendaraan listrik adalah prestasi yang benar-benar hebat, dan Tesla layak mendapat penghargaan untuk itu. Tidak ada pabrikan mobil konvensional yang mendekati angka tersebut. Tesla telah melakukan lebih dari siapa pun untuk membuktikan bahwa EV dapat diproduksi secara massal dan terjual dalam jumlah jutaan. Namun, pencapaian ini juga menjadi pengingat bahwa bisnis EV Tesla telah mandek.
Kisah pertumbuhan yang membawa harga saham melambung selama satu dekade berakhir pada 2023. Dua tahun berturut-turut penurunan pengiriman, jajaran produk yang sebagian besar sama dengan yang dijual lima tahun lalu, dan pabrik yang beroperasi dengan kapasitas menganggur ratusan ribu unit—itu bukanlah jeda di antara dua gelombang pertumbuhan. Itu adalah tanda bahwa perusahaan berhenti berinvestasi pada EV generasi berikutnya dan justru mempertaruhkan masa depannya pada robot dan robotaxi.
Inti permasalahannya sederhana: situasi ini sebenarnya bisa dihindari. Elon Musk kehilangan sentuhannya dan mendorong Tesla terlalu cepat ke arah otonomi dan robotika. Taruhan tersebut belum membuahkan hasil, dan ada kemungkinan tidak akan pernah berhasil, mengingat pendekatan Musk terhadap otonomi mulai tertinggal dari kompetitor.
Bagi pemilik salah satu dari 10 juta Tesla di jalan raya, cara termurah untuk mengisi daya adalah dengan listrik sendiri. Dengan tarif listrik yang naik hampir 10% tahun lalu dan diperkirakan terus meningkat, beralih ke tenaga surya menjadi salah satu cara terbaik untuk melindungi diri dari kenaikan biaya.
Pencapaian 10 juta unit adalah bukti nyata dominasi Tesla di era elektrifikasi. Namun, tanpa strategi produk yang segar dan pemulihan permintaan, angka tersebut bisa menjadi pengingat pahit tentang momentum yang terbuang sia-sia.





Komentar
Belum ada komentar.