📑 Daftar Isi

Ilustrasi sel baterai solid-state ProLogium Gen 3.5 dengan kepadatan energi 381 Wh/kg untuk kendaraan listrik

ProLogium Mulai Produksi Massal Baterai Solid-State 381 Wh/kg

Penulis:Ida Farida
Terbit:
Diperbarui:
⏱️6 menit membaca
Bagikan:
  • ProLogium Technology memulai produksi massal baterai solid-state LCB Gen 3.5 dengan kepadatan energi 381 Wh/kg dan kapasitas sel 185.4 Ah
  • Sel baterai telah diverifikasi TÜV Rheinland dan lolos uji UL Solutions berdasarkan standar GB/T 43568-2026 dengan kehilangan massa <0.05%
  • Kapasitas produksi awal fasilitas Taoyuan hanya 0.5 GWh, setara sekitar 6.000-6.250 paket baterai EV 80 kWh
  • ProLogium berencana menggandakan kapasitas Taiwan pada 2030 dan membangun pabrik Dunkirk, Prancis dengan kapasitas awal 4 GWh dan maksimum 44 GWh
  • Sel Gen 3.5 menawarkan peningkatan kepadatan energi sekitar 30% dibanding sel NMC konvensional (300 Wh/kg)
  • Perusahaan didukung Mercedes-Benz dan telah berkolaborasi dengan Nio dan Aiways
  • Sel Gen 4 dengan elektrolit superfluidized sedang dikembangkan, hanya butuh upgrade 10% peralatan lini produksi

Telset.id – ProLogium Technology resmi memulai produksi massal baterai solid-state generasi terbarunya, Lithium Ceramic Battery (LCB) Gen 3.5, dengan kepadatan energi sel mencapai 381 Wh/kg. Pencapaian ini diumumkan perusahaan pada 2 September 2026, menandai langkah penting dalam komersialisasi teknologi baterai solid-state untuk kendaraan listrik. Perusahaan asal Taiwan yang didukung oleh Mercedes-Benz ini kini memproduksi sel pouch large-format pertama di fasilitas berskala gigawatt di Taoyuan.

Sel baterai besar berkapasitas 185.4 Ah ini mencatatkan kepadatan energi gravimetrik 381 Wh/kg dan volumetrik 903 Wh/L. Perusahaan yang memiliki perjanjian kerja sama teknologi dengan Mercedes-Benz ini juga telah berkolaborasi dengan produsen otomotif China seperti Nio dan Aiways dalam pengembangan baterai solid-state serta proyek kendaraan sampel.

Angka kepadatan energi tersebut telah diverifikasi oleh TÜV Rheinland, sementara UL Solutions melakukan pengujian sel berdasarkan metodologi GB/T 43568-2026 untuk baterai all-solid-state. Meski demikian, pencapaian di tingkat sel ini belum menjawab pertanyaan besar mengenai performa di tingkat paket baterai. Klaim ProLogium tentang produksi massal baterai solid-state ini juga didukung oleh pengujian independen dari lembaga Jerman dan Amerika Serikat.

Standar GB/T 43568-2026 Menguji Klaim Solid-State

Pengujian yang dilakukan UL Solutions berdasarkan standar GB/T 43568-2026 menempatkan sel ProLogium pada uji vakum kontinu selama enam jam pada suhu 120 derajat Celcius. ProLogium melaporkan kehilangan massa kurang dari 0,05 persen, jauh di bawah ambang batas standar sebesar 0,5 persen. Hasil ini menjadikan sel tersebut memenuhi kualifikasi sebagai all-solid-state berdasarkan metodologi tersebut.

Standar ini memberikan batasan terukur dalam perdebatan terminologi yang sedang berlangsung di industri EV China. Sebelumnya, standar nasional baru efektif berlaku sejak Juli 2026 untuk membedakan arsitektur solid-state dari baterai yang masih mempertahankan elektrolit cair. Regulasi ini muncul setelah berbagai sengketa domestik, termasuk IM Motors yang dipromosikan SAIC dengan baterai “Light-Year Solid-State” meski masih mengandung elektrolit cair.

Perbedaan klasifikasi ini penting karena label “solid-state” semakin sering diterapkan pada teknologi baterai dengan arsitektur berbeda. Hasil pengujian ProLogium memberikan dasar klasifikasi yang teruji secara independen berdasarkan metodologi China. Perusahaan juga menyebutkan bahwa China telah mengajukan standar ini ke International Electrotechnical Commission (IEC) sebagai referensi standardisasi internasional.

Keunggulan Teknis Gen 3.5 Dibanding Pendahulunya

Sel Gen 3.5 ProLogium menggunakan arsitektur pouch large-format Logithium, menggabungkan separator keramik dengan struktur edge-frame terintegrasi untuk penyegelan dan isolasi. Struktur edge-frame ini membantu mengisolasi potensi burr sekaligus memberikan penyegelan dan isolasi yang lebih baik. Sel generasi terbaru ini menggunakan komposit elektrolit padat dan separator keramik yang menjadi pembeda utama dari teknologi baterai konvensional.

Dibandingkan dengan sel NMC arus utama yang mendominasi kendaraan listrik di Amerika Serikat dengan kepadatan energi sekitar 300 Wh/kg di tingkat sel, Gen 3.5 menawarkan peningkatan sekitar 30 persen. Sementara itu, sel lithium-iron-phosphate (LFP) yang semakin banyak digunakan secara global hanya memiliki kepadatan energi gravimetrik antara 150 hingga 200 Wh/kg. Keunggulan ini menjadikan baterai solid-state ProLogium sebagai salah satu teknologi paling padat energi yang pernah diproduksi massal.

ProLogium juga mengklaim sel Gen 3 sebelumnya dapat melakukan pengisian cepat dari 5 persen hingga 80 persen dalam delapan setengah menit. Selain itu, sel tersebut diklaim tidak akan terbakar jika ditembak peluru, pada suhu setinggi 170 derajat Celcius, dan ketika diisi berlebih pada dua kali tegangan terukur. ProLogium menjanjikan waktu pengisian 5-80 persen dalam waktu kurang dari 10 menit untuk teknologi terbarunya ini.

Kapasitas Pabrik 0.5 GWh Jadi Sorotan

Perusahaan menggambarkan operasi di Taoyuan sebagai fasilitas manufaktur tingkat Giga, namun kapasitas operasional awalnya hanya 0.5 GWh dengan rencana ekspansi menuju 1-2 GWh. Sel Gen 3.5 kini diproduksi di lini perakitan Taoke di fasilitas Taoyuan, Taiwan. Kapasitas produksi awal ini setara dengan sekitar 6.000 paket baterai EV dengan kapasitas 80 kWh masing-masing.

Pada kapasitas 0.5 GWh, output tahunan secara teoretis setara dengan sekitar 6.250 paket baterai berkapasitas 80 kWh. Angka ini menunjukkan program produksi yang nyata, namun masih kecil dibandingkan kapasitas manufaktur yang dibutuhkan untuk deployment EV penumpang arus utama. Skala operasi ini menjadi faktor yang hampir sama pentingnya dengan kepadatan energi sel yang menjadi sorotan utama.

ProLogium melaporkan pengiriman kumulatif LCB telah melampaui 2,4 juta sel di berbagai aplikasi konsumen, khusus, dan otomotif. Namun angka ini tidak dapat diartikan sebagai 2,4 juta sel traksi EV tegangan tinggi. Bisnis otomotif yang diungkapkan perusahaan mencakup pasokan ke perusahaan sistem audio otomotif Amerika untuk kendaraan yang diproduksi produsen Jepang di Amerika Utara, dengan pengiriman kumulatif melampaui 900.000 sel. ProLogium juga melaporkan sekitar 10.000 sampel baterai otomotif.

Aktivitas ini memberikan bukti manufaktur komersial dan aktivitas kualifikasi otomotif, tetapi belum menunjukkan program traksi EV penumpang volume tinggi. Sementara itu, teknologi terbaru dari mitra strategis ProLogium terus berkembang di segmen kendaraan listrik premium. Rencana ProLogium untuk produksi massal baterai solid-state sebenarnya sudah diumumkan sejak lama, dan kini realisasi tersebut mulai terwujud.

Kepadatan Energi Bertemu Dinding Biaya

Pada 381 Wh/kg, Gen 3.5 berada di atas kepadatan energi banyak sel lithium-ion otomotif konvensional. Angka volumetrik 903 Wh/L juga relevan karena berat baterai dan ruang instalasi yang tersedia sama-sama membatasi desain kendaraan. Namun, angka sel tidak langsung diterjemahkan ke performa paket baterai.

Komponen struktural, sistem pendingin, proteksi kelistrikan, dan perangkat manajemen baterai menambah massa dan volume, sehingga keuntungan akhir di tingkat kendaraan bergantung pada sistem baterai secara keseluruhan. Biaya menjadi hambatan lain yang signifikan. Sel LFP pasar massal di pasar baterai China yang sangat kompetitif dilaporkan berada di kisaran 300-400 yuan atau sekitar 42-55 USD per kWh di tingkat sel.

ProLogium belum mengungkapkan biaya produksi Gen 3.5 yang dapat dibandingkan secara langsung, sehingga kesenjangan biaya yang pasti masih belum jelas. Perlombaan solid-state yang lebih luas juga terbagi antara strategi material dan manufaktur yang berbeda. ProLogium mengejar arsitektur berbasis keramik, sementara kelompok baterai dan otomotif besar di China dan Jepang mengembangkan pendekatan alternatif, termasuk sistem berbasis sulfida dengan trade-off antarmuka dan pemrosesan yang berbeda. Beberapa produsen lain seperti BYD juga mengembangkan paten baterai solid-state dengan pendekatan berbeda.

Dari Taoyuan ke Dunkirk: Uji Skala Produksi

ProLogium memperluas jejak produksinya melampaui Taiwan. Pabrik baterai yang direncanakan di Dunkirk, Prancis, dirancang untuk fase produksi tahunan awal 4 GWh dengan kapasitas desain maksimum 44 GWh. Fase pertama diharapkan meningkat secara progresif menuju 2030. Pabrik Perancis dijadwalkan beroperasi pada 2028 dengan peningkatan produksi bertahap hingga 2030.

Jika proyek Prancis berjalan sesuai rencana, fase produksi awalnya saja akan menjadi delapan kali lipat kapasitas Taoyuan saat ini yang sebesar 0.5 GWh. Fasilitas Taiwan juga direncanakan untuk menggandakan produksinya pada 2030. Untuk saat ini, Gen 3.5 telah melewati ambang batas penting: perusahaan menyatakan sel 185.4 Ah-nya telah dalam produksi massal, bukan lagi sekadar tahap pengembangan atau demonstrasi.

ProLogium juga mengisyaratkan pengembangan sel Gen 4 yang akan segera hadir. Dengan sistem elektrolit superfluidized yang sepenuhnya anorganik, baterai generasi berikutnya ini menjanjikan waktu pengisian yang lebih cepat dan performa suhu rendah yang lebih baik. Yang lebih menarik, pabrik yang memproduksi sel Gen 3.5 hanya perlu meningkatkan 10 persen peralatan lini mereka untuk mulai merakit sel Gen 4, yang berarti biaya tetap terjangkau.

Uji yang lebih sulit adalah apakah ProLogium dapat mengubah hasil tingkat sel tersebut menjadi baterai otomotif volume tinggi dengan biaya kompetitif, hasil produksi, daya tahan, dan performa tingkat paket yang memadai. Hingga hal itu terjadi, 381 Wh/kg tetap menjadi spesifikasi sel tingkat tinggi, bukan bukti paket baterai EV yang lebih kecil atau lebih ringan di ruang pamer. Perkembangan ini sejalan dengan SUV listrik anyar yang tengah disiapkan berbagai produsen untuk pasar global.

Dengan dimulainya produksi massal ini, ProLogium menegaskan posisinya sebagai salah satu pemain terdepan dalam komersialisasi baterai solid-state. Dukungan dari nama-nama besar seperti Mercedes-Benz memberikan kredibilitas tambahan bagi klaim perusahaan. Namun, perjalanan masih panjang untuk membuktikan bahwa teknologi ini dapat bersaing secara ekonomi dengan baterai lithium-ion konvensional yang telah matang selama bertahun-tahun.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.