Telset.id – Sebuah studi komprehensif dari UL Research Institutes’ Fire Safety Research Institute mengungkapkan bahwa selang pemadam kebakaran atau firehose tetap menjadi cara terbaik untuk memadamkan kendaraan listrik (EV) yang terbakar. Temuan ini menjawab kebuntuan para pemadam kebakaran yang selama ini bereksperimen dengan berbagai metode untuk mengendalikan kebakaran baterai lithium-ion.
Laporan setebal 150 halaman tersebut menganalisis 18 pembakaran eksperimental, di mana sembilan di antaranya ditangani dengan berbagai taktik pemadaman. Hasilnya, inovasi seperti selimut kendaraan (vehicle blankets) dan aditif kimia tidak mampu menandingi kekuatan pemadaman dari ribuan galon air yang disemprotkan langsung ke sumber api.
Meski demikian, para peneliti menegaskan bahwa serangan selang langsung bukanlah pilihan yang fantastis, melainkan hanya yang terbaik dari sekian opsi yang semuanya lemah. Hal ini berkaitan dengan fenomena yang dikenal sebagai thermal runaway, yaitu reaksi berantai yang mempercepat kebakaran akibat bahan kimia di dalam sel baterai.
Mengapa Kebakaran EV Lebih Sulit Dipadamkan?
Kendaraan listrik memang menawarkan banyak keuntungan, mulai dari torsi instan, penghematan bahan bakar, hingga ramah lingkungan. Namun dibandingkan kendaraan bermesin pembakaran internal, EV memiliki kelemahan utama yang tidak pernah ingin dialami pengemudi: jauh lebih berbahaya saat terbakar.
Ketika terbakar, baterai lithium-ion pada EV jauh lebih sulit dipadamkan oleh petugas tanggap darurat dibandingkan mesin pembakaran standar. Ini semua berkat thermal runaway, yang pada dasarnya merupakan reaksi berantai yang dipercepat oleh bahan kimia yang ditemukan di dalam sel baterai.
Sepanjang dekade terakhir, seiring melonjaknya popularitas EV, para pemadam kebakaran telah mencoba berbagai taktik untuk mengendalikan thermal runaway pada sel lithium-ion. Mulai dari wadah perendaman besar, campuran kimia dalam air, hingga selimut basah berukuran masif.
Namun, studi yang dilakukan oleh Fire Safety Research Institute ini menemukan bahwa tidak ada cara yang lebih baik daripada selang pemadam kebakaran yang sudah teruji. Air menjadi alat untuk mengendalikan api, tetapi tidak mampu menghentikan proses pembakaran itu sendiri.
Keterbatasan Air dalam Mengatasi Thermal Runaway
Para penulis laporan menuliskan bahwa “menerapkan air dalam jumlah besar ke penutup baterai adalah tindakan boros dan tidak akan menghentikan thermal runaway.” Meskipun air adalah alat terbaik yang diketahui saat ini, penggunaannya justru berpotensi menyebabkan sel yang belum terbakar ikut meledak.
“Demikian pula, memasukkan air ke baterai yang tidak terlibat dapat meningkatkan risiko (kebakaran) ulang,” demikian bunyi laporan tersebut. Temuan ini menunjukkan kompleksitas penanganan kebakaran EV yang tidak bisa diselesaikan dengan pendekatan konvensional.
Sayangnya, hal ini berarti insiden seperti kebakaran Tesla Semi pada 2024 — di mana petugas pemadam menutup jalan bebas hambatan selama 15 jam dan menggunakan 50.000 galon air untuk memadamkan kobaran api — sebenarnya adalah skenario kasus terbaik, setidaknya untuk masa mendatang.
Perlu dicatat bahwa kendaraan listrik sebenarnya lebih jarang terbakar dibandingkan kendaraan berbahan bakar bensin. Namun ketika terbakar, intensitas dan kesulitan pemadamannya jauh lebih tinggi, menjadikannya tantangan tersendiri bagi para petugas pemadam kebakaran di seluruh dunia.
Penelitian ini memberikan wawasan penting bagi industri dan para pemadam kebakaran bahwa meskipun teknologi EV terus berkembang, metode pemadaman yang efektif masih mengandalkan cara-cara konvensional. Sementara itu, inovasi seperti laptop gaming dan perangkat lain yang menggunakan baterai lithium-ion juga perlu menjadi perhatian dalam hal keamanan.
Studi ini juga membuka ruang diskusi tentang perlunya penelitian lebih lanjut untuk menemukan metode pemadaman yang lebih efektif. Dengan terus bertumbuhnya adopsi EV di Indonesia dan dunia, pemahaman tentang cara penanganan kebakaran yang tepat menjadi semakin krusial bagi keselamatan publik.





Komentar
Belum ada komentar.